alexametrics
26.7 C
Jember
Saturday, 25 June 2022

Wujudkan KLA Ternyata Masih Banyak Pekerjaan Rumah

“Jember ada penurunan secara angka. Tapi masih dianggap tinggi itu karena survei yang diambil tidak sesuai sasaran.”  Dwi Handarisasi, Kabid Kesmas Dinkes Jember

Mobile_AP_Rectangle 1

Anak Putus Sekolah

Sedangkan pada sektor pendidikan, angka putus sekolah juga masih menjadi ancaman. Meski terjadi penurunan pada tahun ini, namun hal itu menunjukkan bahwa belum semua anak dapat mengakses pendidikan secara layak.

Merujuk data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, terdapat 208 angka putus sekolah di jenjang SD pada tahun ajaran 2019/2020 lalu. Sementara, di tahun ajaran 2020/2021 angka putus sekolah tercatat delapan kasus. Sedangkan pada tingkat SMP sebanyak 308 kasus pada 2019/2020 dan ada dua siswa yang putus sekolah pada tahun ajaran 2020/2021.

Mobile_AP_Rectangle 2

Selain bayang-bayang anak putus sekolah, fasilitas ramah anak di tiap satuan lembaga pendidikan juga menjadi PR tersendiri. Sebab, selama ini masih banyak sekolah yang perlu didorong agar semakin ramah anak. Mulai dari menciptakan suasana belajar yang kondusif, kondisi sekolah yang aman dan damai, hingga keterlibatan orang tua dan komite sekolah.

Kepala Bidang SD Dinas Pendidikan Jember Endang Sulistyowati  mengungkapkan, keterlibatan orang tua dalam hal ini adalah komitmen mereka untuk selaras dengan pola ajaran yang sudah diberikan sekolah. Juga tentang kepercayaan orang tua dengan pihak sekolah. Selain itu, komite sekolah yang terdiri atas perwakilan orang tua siswa, bergerak aktif untuk mencari solusi dalam memecahkan problem sekolah yang tidak dapat diatasi oleh para guru.

“Orang tua perlu terlibat dalam menciptakan ekosistem lingkungan layak anak. Jika hanya mengandalkan sekolah saja, tidak maksimal. Karena waktu anak banyak dihabiskan di rumah,” ujarnya.

Reporter : Dian Cahyani
Fotografer : Dok. Radar Jember
Editor : Mahrus Sholih

- Advertisement -

Anak Putus Sekolah

Sedangkan pada sektor pendidikan, angka putus sekolah juga masih menjadi ancaman. Meski terjadi penurunan pada tahun ini, namun hal itu menunjukkan bahwa belum semua anak dapat mengakses pendidikan secara layak.

Merujuk data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, terdapat 208 angka putus sekolah di jenjang SD pada tahun ajaran 2019/2020 lalu. Sementara, di tahun ajaran 2020/2021 angka putus sekolah tercatat delapan kasus. Sedangkan pada tingkat SMP sebanyak 308 kasus pada 2019/2020 dan ada dua siswa yang putus sekolah pada tahun ajaran 2020/2021.

Selain bayang-bayang anak putus sekolah, fasilitas ramah anak di tiap satuan lembaga pendidikan juga menjadi PR tersendiri. Sebab, selama ini masih banyak sekolah yang perlu didorong agar semakin ramah anak. Mulai dari menciptakan suasana belajar yang kondusif, kondisi sekolah yang aman dan damai, hingga keterlibatan orang tua dan komite sekolah.

Kepala Bidang SD Dinas Pendidikan Jember Endang Sulistyowati  mengungkapkan, keterlibatan orang tua dalam hal ini adalah komitmen mereka untuk selaras dengan pola ajaran yang sudah diberikan sekolah. Juga tentang kepercayaan orang tua dengan pihak sekolah. Selain itu, komite sekolah yang terdiri atas perwakilan orang tua siswa, bergerak aktif untuk mencari solusi dalam memecahkan problem sekolah yang tidak dapat diatasi oleh para guru.

“Orang tua perlu terlibat dalam menciptakan ekosistem lingkungan layak anak. Jika hanya mengandalkan sekolah saja, tidak maksimal. Karena waktu anak banyak dihabiskan di rumah,” ujarnya.

Reporter : Dian Cahyani
Fotografer : Dok. Radar Jember
Editor : Mahrus Sholih

Anak Putus Sekolah

Sedangkan pada sektor pendidikan, angka putus sekolah juga masih menjadi ancaman. Meski terjadi penurunan pada tahun ini, namun hal itu menunjukkan bahwa belum semua anak dapat mengakses pendidikan secara layak.

Merujuk data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, terdapat 208 angka putus sekolah di jenjang SD pada tahun ajaran 2019/2020 lalu. Sementara, di tahun ajaran 2020/2021 angka putus sekolah tercatat delapan kasus. Sedangkan pada tingkat SMP sebanyak 308 kasus pada 2019/2020 dan ada dua siswa yang putus sekolah pada tahun ajaran 2020/2021.

Selain bayang-bayang anak putus sekolah, fasilitas ramah anak di tiap satuan lembaga pendidikan juga menjadi PR tersendiri. Sebab, selama ini masih banyak sekolah yang perlu didorong agar semakin ramah anak. Mulai dari menciptakan suasana belajar yang kondusif, kondisi sekolah yang aman dan damai, hingga keterlibatan orang tua dan komite sekolah.

Kepala Bidang SD Dinas Pendidikan Jember Endang Sulistyowati  mengungkapkan, keterlibatan orang tua dalam hal ini adalah komitmen mereka untuk selaras dengan pola ajaran yang sudah diberikan sekolah. Juga tentang kepercayaan orang tua dengan pihak sekolah. Selain itu, komite sekolah yang terdiri atas perwakilan orang tua siswa, bergerak aktif untuk mencari solusi dalam memecahkan problem sekolah yang tidak dapat diatasi oleh para guru.

“Orang tua perlu terlibat dalam menciptakan ekosistem lingkungan layak anak. Jika hanya mengandalkan sekolah saja, tidak maksimal. Karena waktu anak banyak dihabiskan di rumah,” ujarnya.

Reporter : Dian Cahyani
Fotografer : Dok. Radar Jember
Editor : Mahrus Sholih

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/