alexametrics
28.7 C
Jember
Monday, 16 May 2022

Passing Grade Tinggi Tidak Lolos karena bukan Prioritas

“Jadi sekolah induk bisa mengunci formasi yang sudah ada. Selama peserta dari sana passing grade-nya cukup, orang luar meskipun nilainya lebih tinggi kalah. Karena yang diprioritaskan sekolah induk.” MULYADI, Ketua Forum Honorer PGRI Jember

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER LOR, RADARJEMBER.ID-  Salah satu penyebab banyaknya para guru honorer yang tidak lulus formasi meskipun telah lolos passing grade adalah adanya prioritas untuk sekolah induk. Yaitu aturan yang memprioritaskan peserta PPPK dari sekolah induk untuk lolos dan tetap diterima di sekolah asalnya. Meskipun terdapat pesaing lainnya yang berhasil lolos dengan nilai lebih tinggi.

Ketua Forum Honorer PGRI Jember Mulyadi mencontohkan kejadian yang dialami Erfan Juki, seorang guru yang mendaftar formasi di SDN Jatimulyo 01. Diketahui, Erfan telah memenuhi nilai ambang batas passing grade. Namun tidak lulus. Sebabnya, dirinya bukan peserta dari sekolah induk atau dari SDN Jatimulyo 01. “Jadi sekolah induk bisa mengunci formasi yang sudah ada. Selama peserta dari sana passing grade-nya cukup, orang luar meskipun nilainya lebih tinggi kalah. Karena yang diprioritaskan sekolah induk,” papar Mulyadi, Minggu (10/10), kepada Jawa Pos Radar Jember.

Peserta seleksi kompetensi PPPK guru tahap 1 yang dinyatakan tidak lolos seleksi diberikan kesempatan untuk melakukan sanggah. Peserta dapat melakukan sanggah hasil seleksi apabila hasil tersebut dinilai tidak sesuai. Masa sanggah ini berlaku selama tiga hari setelah pengumuman.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pihaknya telah mendorong guru honorer yang tidak lolos untuk memanfaatkan masa sanggah. “Kita selaku forum mendorong peserta untuk melakukan masa sanggah. Dengan catatan peserta harus benar-benar cerdas memahami masalah di lapangan. Contoh kasusnya Erfan Juki mengajukan masa sanggah. Tetap kalah dia, karena di sistem memang memprioritaskan sekolah induk,” terangnya.

- Advertisement -

JEMBER LOR, RADARJEMBER.ID-  Salah satu penyebab banyaknya para guru honorer yang tidak lulus formasi meskipun telah lolos passing grade adalah adanya prioritas untuk sekolah induk. Yaitu aturan yang memprioritaskan peserta PPPK dari sekolah induk untuk lolos dan tetap diterima di sekolah asalnya. Meskipun terdapat pesaing lainnya yang berhasil lolos dengan nilai lebih tinggi.

Ketua Forum Honorer PGRI Jember Mulyadi mencontohkan kejadian yang dialami Erfan Juki, seorang guru yang mendaftar formasi di SDN Jatimulyo 01. Diketahui, Erfan telah memenuhi nilai ambang batas passing grade. Namun tidak lulus. Sebabnya, dirinya bukan peserta dari sekolah induk atau dari SDN Jatimulyo 01. “Jadi sekolah induk bisa mengunci formasi yang sudah ada. Selama peserta dari sana passing grade-nya cukup, orang luar meskipun nilainya lebih tinggi kalah. Karena yang diprioritaskan sekolah induk,” papar Mulyadi, Minggu (10/10), kepada Jawa Pos Radar Jember.

Peserta seleksi kompetensi PPPK guru tahap 1 yang dinyatakan tidak lolos seleksi diberikan kesempatan untuk melakukan sanggah. Peserta dapat melakukan sanggah hasil seleksi apabila hasil tersebut dinilai tidak sesuai. Masa sanggah ini berlaku selama tiga hari setelah pengumuman.

Pihaknya telah mendorong guru honorer yang tidak lolos untuk memanfaatkan masa sanggah. “Kita selaku forum mendorong peserta untuk melakukan masa sanggah. Dengan catatan peserta harus benar-benar cerdas memahami masalah di lapangan. Contoh kasusnya Erfan Juki mengajukan masa sanggah. Tetap kalah dia, karena di sistem memang memprioritaskan sekolah induk,” terangnya.

JEMBER LOR, RADARJEMBER.ID-  Salah satu penyebab banyaknya para guru honorer yang tidak lulus formasi meskipun telah lolos passing grade adalah adanya prioritas untuk sekolah induk. Yaitu aturan yang memprioritaskan peserta PPPK dari sekolah induk untuk lolos dan tetap diterima di sekolah asalnya. Meskipun terdapat pesaing lainnya yang berhasil lolos dengan nilai lebih tinggi.

Ketua Forum Honorer PGRI Jember Mulyadi mencontohkan kejadian yang dialami Erfan Juki, seorang guru yang mendaftar formasi di SDN Jatimulyo 01. Diketahui, Erfan telah memenuhi nilai ambang batas passing grade. Namun tidak lulus. Sebabnya, dirinya bukan peserta dari sekolah induk atau dari SDN Jatimulyo 01. “Jadi sekolah induk bisa mengunci formasi yang sudah ada. Selama peserta dari sana passing grade-nya cukup, orang luar meskipun nilainya lebih tinggi kalah. Karena yang diprioritaskan sekolah induk,” papar Mulyadi, Minggu (10/10), kepada Jawa Pos Radar Jember.

Peserta seleksi kompetensi PPPK guru tahap 1 yang dinyatakan tidak lolos seleksi diberikan kesempatan untuk melakukan sanggah. Peserta dapat melakukan sanggah hasil seleksi apabila hasil tersebut dinilai tidak sesuai. Masa sanggah ini berlaku selama tiga hari setelah pengumuman.

Pihaknya telah mendorong guru honorer yang tidak lolos untuk memanfaatkan masa sanggah. “Kita selaku forum mendorong peserta untuk melakukan masa sanggah. Dengan catatan peserta harus benar-benar cerdas memahami masalah di lapangan. Contoh kasusnya Erfan Juki mengajukan masa sanggah. Tetap kalah dia, karena di sistem memang memprioritaskan sekolah induk,” terangnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/