alexametrics
23.4 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Produksi Sampah Rumah Tangga Menurun

Mobile_AP_Rectangle 1

PAKUSARI, RADARJEMBER.ID – Selama pemberlakuan PPKM, tercatat produksi sampah rumah tangga mengalami penurunan yang sangat signifikan. Jika per hari rata-rata sampah yang diterima TPA berkisar 180 ton, kini jumlahnya menurun, yaitu di bawah 160 ton per hari.

Salah satu faktornya yaitu banyaknya restoran yang memilih untuk menutup ketimbang membatasi jam operasional. Karenanya, masyarakat lebih memilih melakukan kegiatan konsumsi secara mandiri. “Kalau sampah rumah tangga tetap ada. Cuma secara keseluruhan produksi sampah menurun,” kata Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup Eko Heru Sunarso, Jumat (10/9) kemarin.

Jenis sampah rumah tangga yang banyak dihasilkan adalah sampah organik, limbah B3, sampah anorganik, dan lainnya. Hal inilah yang menjadi kendala dalam proses pemilahan dan pengelolaan. Sebab, pihaknya tidak memiliki kemampuan dalam pemilahannya. “Makanya kami mengejar target punya regulasi perda pengelolaan sampah,” tutur laki-laki yang akrab disapa Heru tersebut.

Mobile_AP_Rectangle 2

Jika telah memiliki perda sampah, lanjut dia, pemilahan dan pengelolaan sampah akan lebih tertangani. Masyarakat akan lebih disiplin untuk melakukan kerja sama dalam penanganan sampah.

Pihaknya menargetkan tahun ini Jember telah mengantongi perda tentang pemilahan dan pengelolaan sampah. Jika perda itu tidak segera direalisasikan, maka reward dan punishment untuk pengelolaan sampah tidak ada. Heru mencontohkan hal ini seperti yang terjadi di Jalan Imam Bonjol, yang saat ini dialihfungsikan menjadi TPA. “Karena nanti akan ada sanksinya,” imbuhnya.

- Advertisement -

PAKUSARI, RADARJEMBER.ID – Selama pemberlakuan PPKM, tercatat produksi sampah rumah tangga mengalami penurunan yang sangat signifikan. Jika per hari rata-rata sampah yang diterima TPA berkisar 180 ton, kini jumlahnya menurun, yaitu di bawah 160 ton per hari.

Salah satu faktornya yaitu banyaknya restoran yang memilih untuk menutup ketimbang membatasi jam operasional. Karenanya, masyarakat lebih memilih melakukan kegiatan konsumsi secara mandiri. “Kalau sampah rumah tangga tetap ada. Cuma secara keseluruhan produksi sampah menurun,” kata Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup Eko Heru Sunarso, Jumat (10/9) kemarin.

Jenis sampah rumah tangga yang banyak dihasilkan adalah sampah organik, limbah B3, sampah anorganik, dan lainnya. Hal inilah yang menjadi kendala dalam proses pemilahan dan pengelolaan. Sebab, pihaknya tidak memiliki kemampuan dalam pemilahannya. “Makanya kami mengejar target punya regulasi perda pengelolaan sampah,” tutur laki-laki yang akrab disapa Heru tersebut.

Jika telah memiliki perda sampah, lanjut dia, pemilahan dan pengelolaan sampah akan lebih tertangani. Masyarakat akan lebih disiplin untuk melakukan kerja sama dalam penanganan sampah.

Pihaknya menargetkan tahun ini Jember telah mengantongi perda tentang pemilahan dan pengelolaan sampah. Jika perda itu tidak segera direalisasikan, maka reward dan punishment untuk pengelolaan sampah tidak ada. Heru mencontohkan hal ini seperti yang terjadi di Jalan Imam Bonjol, yang saat ini dialihfungsikan menjadi TPA. “Karena nanti akan ada sanksinya,” imbuhnya.

PAKUSARI, RADARJEMBER.ID – Selama pemberlakuan PPKM, tercatat produksi sampah rumah tangga mengalami penurunan yang sangat signifikan. Jika per hari rata-rata sampah yang diterima TPA berkisar 180 ton, kini jumlahnya menurun, yaitu di bawah 160 ton per hari.

Salah satu faktornya yaitu banyaknya restoran yang memilih untuk menutup ketimbang membatasi jam operasional. Karenanya, masyarakat lebih memilih melakukan kegiatan konsumsi secara mandiri. “Kalau sampah rumah tangga tetap ada. Cuma secara keseluruhan produksi sampah menurun,” kata Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup Eko Heru Sunarso, Jumat (10/9) kemarin.

Jenis sampah rumah tangga yang banyak dihasilkan adalah sampah organik, limbah B3, sampah anorganik, dan lainnya. Hal inilah yang menjadi kendala dalam proses pemilahan dan pengelolaan. Sebab, pihaknya tidak memiliki kemampuan dalam pemilahannya. “Makanya kami mengejar target punya regulasi perda pengelolaan sampah,” tutur laki-laki yang akrab disapa Heru tersebut.

Jika telah memiliki perda sampah, lanjut dia, pemilahan dan pengelolaan sampah akan lebih tertangani. Masyarakat akan lebih disiplin untuk melakukan kerja sama dalam penanganan sampah.

Pihaknya menargetkan tahun ini Jember telah mengantongi perda tentang pemilahan dan pengelolaan sampah. Jika perda itu tidak segera direalisasikan, maka reward dan punishment untuk pengelolaan sampah tidak ada. Heru mencontohkan hal ini seperti yang terjadi di Jalan Imam Bonjol, yang saat ini dialihfungsikan menjadi TPA. “Karena nanti akan ada sanksinya,” imbuhnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/