alexametrics
29.9 C
Jember
Friday, 20 May 2022

Ini Sosok yang Jadi Alarm Warga Isoman hingga Agen Perangi Hoax

Kerja Senyap Pendamping Satgas Covid-19 Kecamatan

Mobile_AP_Rectangle 1

PATRANG, RADARJEMBER.ID – SORE kemarin (10/9), nada bicara Rikka Ikawati terdengar bersemangat. Dia menceritakan banyak hal yang dia temui saat memberikan pendampingan di lapangan. Baik untuk satgas tingkat RT/RW maupun warga yang menjalani isolasi mandiri (isoman) yang tercatat sebagai kontak erat dengan pasien Covid-19.

“Sejak 8 Agustus hingga 4 September, kami bertugas pendampingan di kecamatan,” ucap Koordinator Pendamping Satgas Covid-19 Kecamatan Patrang tersebut. Pendampingan itu berupa tata cara pelaksanaan isoman yang baik dan benar bagi warga yang pernah kontak erat dengan pasien Covid-19 yang hasil swab-nya positif.

Selain itu, dia juga bertugas memberikan edukasi bagi satgas Covid-19 tingkat RT/RW ketika ada warga di lingkungan mereka yang terpapar virus. “Kegiatan ini dilakukan secara daring maupun luring. Jadi, kami juga terjun ke lapangan secara langsung,” ungkap wanita asal Kabupaten Lumajang tersebut.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dia mengungkapkan, selama pendampingan dirinya kerap menemukan RT/RW yang kecolongan. Sebab, banyak warga terpapar yang takut diperiksa sehingga mereka tidak pernah lapor. Bahkan, masih banyak warga yang keluar masuk rumah, padahal hasil tracing-nya keluar. Sebab, hasil swab tes itu baru keluar setelah dua hingga tiga hari kemudian. “Salah satu tugas kami adalah mengingatkan agar hal-hal semacam ini jangan sampai terjadi lagi. Istilahnya menjadi alarm bagi satgas tingkat RT/RW atau warga,” ucapnya.

Hal yang paling menantang selama bekerja sebagai pendamping satgas, Rikka mengungkapkan, adalah meyakinkan warga terkait isu-isu tidak benar yang telanjur menyebar. Apalagi, kabar hoax ini sangat mudah menyebar dan justru banyak masyarakat yang lebih percaya terhadap informasi yang belum jelas sumbernya itu ketimbang penjelasan satgas. Misalnya kabar tentang banyaknya warga yang meninggal setelah mendapatkan vaksin. “Menjelaskan dan mengedukasi warga inilah yang paling sulit. Karena butuh ketelatenan dan kesabaran,” tutur wanita yang kos di Jalan Kalimantan, Kecamatan Sumbersari, tersebut.

Meski begitu, pihaknya bersyukur lantaran upaya yang dilakukan disebutnya menuai hasil. Masyarakat mulai sadar akan pentingnya protokol kesehatan. Di sisi lain, warga juga tidak lagi menelan mentah-mentah ketika menerima kabar yang belum jelas kebenarannya. Hasil ini dikatakannya tidak instan. Ada sekian proses yang dijalani bersama pendamping dan satgas yang lain.

- Advertisement -

PATRANG, RADARJEMBER.ID – SORE kemarin (10/9), nada bicara Rikka Ikawati terdengar bersemangat. Dia menceritakan banyak hal yang dia temui saat memberikan pendampingan di lapangan. Baik untuk satgas tingkat RT/RW maupun warga yang menjalani isolasi mandiri (isoman) yang tercatat sebagai kontak erat dengan pasien Covid-19.

“Sejak 8 Agustus hingga 4 September, kami bertugas pendampingan di kecamatan,” ucap Koordinator Pendamping Satgas Covid-19 Kecamatan Patrang tersebut. Pendampingan itu berupa tata cara pelaksanaan isoman yang baik dan benar bagi warga yang pernah kontak erat dengan pasien Covid-19 yang hasil swab-nya positif.

Selain itu, dia juga bertugas memberikan edukasi bagi satgas Covid-19 tingkat RT/RW ketika ada warga di lingkungan mereka yang terpapar virus. “Kegiatan ini dilakukan secara daring maupun luring. Jadi, kami juga terjun ke lapangan secara langsung,” ungkap wanita asal Kabupaten Lumajang tersebut.

Dia mengungkapkan, selama pendampingan dirinya kerap menemukan RT/RW yang kecolongan. Sebab, banyak warga terpapar yang takut diperiksa sehingga mereka tidak pernah lapor. Bahkan, masih banyak warga yang keluar masuk rumah, padahal hasil tracing-nya keluar. Sebab, hasil swab tes itu baru keluar setelah dua hingga tiga hari kemudian. “Salah satu tugas kami adalah mengingatkan agar hal-hal semacam ini jangan sampai terjadi lagi. Istilahnya menjadi alarm bagi satgas tingkat RT/RW atau warga,” ucapnya.

Hal yang paling menantang selama bekerja sebagai pendamping satgas, Rikka mengungkapkan, adalah meyakinkan warga terkait isu-isu tidak benar yang telanjur menyebar. Apalagi, kabar hoax ini sangat mudah menyebar dan justru banyak masyarakat yang lebih percaya terhadap informasi yang belum jelas sumbernya itu ketimbang penjelasan satgas. Misalnya kabar tentang banyaknya warga yang meninggal setelah mendapatkan vaksin. “Menjelaskan dan mengedukasi warga inilah yang paling sulit. Karena butuh ketelatenan dan kesabaran,” tutur wanita yang kos di Jalan Kalimantan, Kecamatan Sumbersari, tersebut.

Meski begitu, pihaknya bersyukur lantaran upaya yang dilakukan disebutnya menuai hasil. Masyarakat mulai sadar akan pentingnya protokol kesehatan. Di sisi lain, warga juga tidak lagi menelan mentah-mentah ketika menerima kabar yang belum jelas kebenarannya. Hasil ini dikatakannya tidak instan. Ada sekian proses yang dijalani bersama pendamping dan satgas yang lain.

PATRANG, RADARJEMBER.ID – SORE kemarin (10/9), nada bicara Rikka Ikawati terdengar bersemangat. Dia menceritakan banyak hal yang dia temui saat memberikan pendampingan di lapangan. Baik untuk satgas tingkat RT/RW maupun warga yang menjalani isolasi mandiri (isoman) yang tercatat sebagai kontak erat dengan pasien Covid-19.

“Sejak 8 Agustus hingga 4 September, kami bertugas pendampingan di kecamatan,” ucap Koordinator Pendamping Satgas Covid-19 Kecamatan Patrang tersebut. Pendampingan itu berupa tata cara pelaksanaan isoman yang baik dan benar bagi warga yang pernah kontak erat dengan pasien Covid-19 yang hasil swab-nya positif.

Selain itu, dia juga bertugas memberikan edukasi bagi satgas Covid-19 tingkat RT/RW ketika ada warga di lingkungan mereka yang terpapar virus. “Kegiatan ini dilakukan secara daring maupun luring. Jadi, kami juga terjun ke lapangan secara langsung,” ungkap wanita asal Kabupaten Lumajang tersebut.

Dia mengungkapkan, selama pendampingan dirinya kerap menemukan RT/RW yang kecolongan. Sebab, banyak warga terpapar yang takut diperiksa sehingga mereka tidak pernah lapor. Bahkan, masih banyak warga yang keluar masuk rumah, padahal hasil tracing-nya keluar. Sebab, hasil swab tes itu baru keluar setelah dua hingga tiga hari kemudian. “Salah satu tugas kami adalah mengingatkan agar hal-hal semacam ini jangan sampai terjadi lagi. Istilahnya menjadi alarm bagi satgas tingkat RT/RW atau warga,” ucapnya.

Hal yang paling menantang selama bekerja sebagai pendamping satgas, Rikka mengungkapkan, adalah meyakinkan warga terkait isu-isu tidak benar yang telanjur menyebar. Apalagi, kabar hoax ini sangat mudah menyebar dan justru banyak masyarakat yang lebih percaya terhadap informasi yang belum jelas sumbernya itu ketimbang penjelasan satgas. Misalnya kabar tentang banyaknya warga yang meninggal setelah mendapatkan vaksin. “Menjelaskan dan mengedukasi warga inilah yang paling sulit. Karena butuh ketelatenan dan kesabaran,” tutur wanita yang kos di Jalan Kalimantan, Kecamatan Sumbersari, tersebut.

Meski begitu, pihaknya bersyukur lantaran upaya yang dilakukan disebutnya menuai hasil. Masyarakat mulai sadar akan pentingnya protokol kesehatan. Di sisi lain, warga juga tidak lagi menelan mentah-mentah ketika menerima kabar yang belum jelas kebenarannya. Hasil ini dikatakannya tidak instan. Ada sekian proses yang dijalani bersama pendamping dan satgas yang lain.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/