alexametrics
30.4 C
Jember
Monday, 15 August 2022

Cetak 500 Bata, Sehari Hanya Diupah Rp 37.500

Panas menyengat seakan tak dirasakan Bunidin, yang sehari-harinya bekerja sebagai pembuat bata. Sayangnya, meski sudah kerja keras banting tulang, upahnya masih jauh dari kata menyejahterakan.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Deretan pembuat bata mudah ditemukan di Desa Menampu, Kecamatan Gumukmas. Salah satunya seperti dilakukan Bunidi. Pria itu langsung semringah saat didatangi Jawa Pos Radar Jember. Mungkin, dikiranya akan membeli bata produksinya. “Bata ini ukurannya besar, Pak. Bagus dan kuat. Kalau mau melihat yang sudah jadi, ada di sana,” ucap pria 58 tahun tersebut dengan menggunakan bahasa Madura.

Dia tersenyum begitu mengetahui maksud kedatangan orang yang mendatanginya. Lantas, menceritakan kekuatannya dalam memproduksi bata dalam sehari. Yaitu sekitar 500 bata setiap harinya. “Itu mulai dari mengambil tanah sampai selesai mencetak dan menjemur,” ucapnya.

Dalam memproduksi bata, Bunidin hanya menjadi seorang kuli. Dia ikut pada orang lain sudah cukup lama. Dari hasil produksi mencetak bata itulah, dirinya mendapatkan bayaran. Kadang dia meminta bayaran harian dan terkadang mingguan. “Kalau sangat butuh, ya saya minta walaupun masih sehari,” imbuhnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pembuatan bata itu dilakukan sejak pagi. Sebelum matahari panas, dia menyempatkan diri untuk mengambil tanah dengan cara mencangkul di lahan sawah tersebut. Setelah diperkirakan bisa mencapai 500-600 bata, dia pun mulai memberi air untuk kemudian melakukan pencetakan bata.

Pada waktu matahari tengah panas-panasnya alias berada di puncak kepala, kadang dia masih melakukan pencetakan bata. “Ini masih harus dijemur. Setelah itu, baru dilakukan pembakaran. Tapi kalau jumlahnya sudah banyak,” imbuhnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Deretan pembuat bata mudah ditemukan di Desa Menampu, Kecamatan Gumukmas. Salah satunya seperti dilakukan Bunidi. Pria itu langsung semringah saat didatangi Jawa Pos Radar Jember. Mungkin, dikiranya akan membeli bata produksinya. “Bata ini ukurannya besar, Pak. Bagus dan kuat. Kalau mau melihat yang sudah jadi, ada di sana,” ucap pria 58 tahun tersebut dengan menggunakan bahasa Madura.

Dia tersenyum begitu mengetahui maksud kedatangan orang yang mendatanginya. Lantas, menceritakan kekuatannya dalam memproduksi bata dalam sehari. Yaitu sekitar 500 bata setiap harinya. “Itu mulai dari mengambil tanah sampai selesai mencetak dan menjemur,” ucapnya.

Dalam memproduksi bata, Bunidin hanya menjadi seorang kuli. Dia ikut pada orang lain sudah cukup lama. Dari hasil produksi mencetak bata itulah, dirinya mendapatkan bayaran. Kadang dia meminta bayaran harian dan terkadang mingguan. “Kalau sangat butuh, ya saya minta walaupun masih sehari,” imbuhnya.

Pembuatan bata itu dilakukan sejak pagi. Sebelum matahari panas, dia menyempatkan diri untuk mengambil tanah dengan cara mencangkul di lahan sawah tersebut. Setelah diperkirakan bisa mencapai 500-600 bata, dia pun mulai memberi air untuk kemudian melakukan pencetakan bata.

Pada waktu matahari tengah panas-panasnya alias berada di puncak kepala, kadang dia masih melakukan pencetakan bata. “Ini masih harus dijemur. Setelah itu, baru dilakukan pembakaran. Tapi kalau jumlahnya sudah banyak,” imbuhnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Deretan pembuat bata mudah ditemukan di Desa Menampu, Kecamatan Gumukmas. Salah satunya seperti dilakukan Bunidi. Pria itu langsung semringah saat didatangi Jawa Pos Radar Jember. Mungkin, dikiranya akan membeli bata produksinya. “Bata ini ukurannya besar, Pak. Bagus dan kuat. Kalau mau melihat yang sudah jadi, ada di sana,” ucap pria 58 tahun tersebut dengan menggunakan bahasa Madura.

Dia tersenyum begitu mengetahui maksud kedatangan orang yang mendatanginya. Lantas, menceritakan kekuatannya dalam memproduksi bata dalam sehari. Yaitu sekitar 500 bata setiap harinya. “Itu mulai dari mengambil tanah sampai selesai mencetak dan menjemur,” ucapnya.

Dalam memproduksi bata, Bunidin hanya menjadi seorang kuli. Dia ikut pada orang lain sudah cukup lama. Dari hasil produksi mencetak bata itulah, dirinya mendapatkan bayaran. Kadang dia meminta bayaran harian dan terkadang mingguan. “Kalau sangat butuh, ya saya minta walaupun masih sehari,” imbuhnya.

Pembuatan bata itu dilakukan sejak pagi. Sebelum matahari panas, dia menyempatkan diri untuk mengambil tanah dengan cara mencangkul di lahan sawah tersebut. Setelah diperkirakan bisa mencapai 500-600 bata, dia pun mulai memberi air untuk kemudian melakukan pencetakan bata.

Pada waktu matahari tengah panas-panasnya alias berada di puncak kepala, kadang dia masih melakukan pencetakan bata. “Ini masih harus dijemur. Setelah itu, baru dilakukan pembakaran. Tapi kalau jumlahnya sudah banyak,” imbuhnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/