alexametrics
28.4 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

Boleh Salat Id, asal…

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Lebaran kali ini merupakan momen kedua yang dijalani di masa pandemi. Tahun lalu, masyarakat Jember sudah mengalami bagaimana melaksanakan salat Idul Fitri dalam kondisi pagebluk. Kala itu, ada petugas yang keliling mengingatkan pengurus masjid dan jamaah agar selalu menerapkan protokol kesehatan (prokes). Bagaimana dengan perayaan tahun ini, apakah tetap sama dengan tahun lalu atau justru ada pelarangan?

Bupati Jember Hendy Siswanto mengatakan, pemerintah daerah telah menentukan ketetapan terkait dengan perayaan Lebaran. Sedangkan pelaksanaan salat Idul Fitri tetap diperbolehkan selama memenuhi beberapa syarat berdasarkan zonasi. “Beruntung, Jember dan wilayah di dalamnya tidak berwarna merah. Jadi, bisa melaksanakan salat Id, meski terbatas,” terangnya.

Berdasar surat edaran yang dikeluarkan Gubernur Jawa Timur, pelaksanaan salat Idul Fitri wajib menyesuaikan dengan kondisi zona di wilayah masing-masing. Misalnya wilayah yang berzona merah, harus melaksanakan salat di rumah masing-masing. Hal itu juga sejalan dengan fatwa Majelis Ulama Indonesia dan ormas-ormas lain. “Kalau zona oranye, jamaah salat Id yang hadir tidak boleh melebihi 15 persen dari kapasitas tempat ibadah. Sedangkan zona kuning dan hijau, jamaah salat Id yang hadir tak boleh lebih dari 50 persen dari kapasitas,” jelas Hendy.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dalam pelaksanaannya, Hendy mengatakan, masyarakat Jember bisa memaksimalkan penggunaan musala untuk melaksanakan salat Id. “Jadi, di musala tidak apa-apa. Ini untuk mengantisipasi membeludaknya jamaah di masjid atau lapangan,” ujarnya.

Selain itu, masyarakat juga harus melaksanakan dengan memperhatikan beberapa ketentuan. Di antaranya, panitia wajib mengecek suhu para jamaah dan mengatur saf supaya berjarak, para jamaah diimbau mengenakan masker, alas kaki, dan sajadah masing-masing. Sementara, untuk khotbah diharapkan hanya berlangsung paling lama 10 menit dan membaca surat-surat pendek.

“Sedangkan untuk lansia atau orang yang baru sembuh dari sakit atau selesai melakukan perjalanan, disarankan agar tidak menghadiri salat Id di masjid atau lapangan,” ujarnya. Tak hanya itu, jamaah juga diimbau supaya menghindari berjabatan tangan seusai salat Id. Dan segera pulang ke rumah seusai beribadah.

Lebih lanjut, Hendy memaparkan, untuk takbiran tetap boleh digelar, asal jumlah jamaah hanya 10 persen dari kapasitas musala atau masjid. Namun, khusus untuk takbir keliling tetap dilarang lantaran berpotensi menimbulkan kerumunan. Pemerintah pun mengimbau agar umat Islam melaksanakan takbiran secara virtual saja, sesuai ketersediaan perangkat yang tersedia.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Lebaran kali ini merupakan momen kedua yang dijalani di masa pandemi. Tahun lalu, masyarakat Jember sudah mengalami bagaimana melaksanakan salat Idul Fitri dalam kondisi pagebluk. Kala itu, ada petugas yang keliling mengingatkan pengurus masjid dan jamaah agar selalu menerapkan protokol kesehatan (prokes). Bagaimana dengan perayaan tahun ini, apakah tetap sama dengan tahun lalu atau justru ada pelarangan?

Bupati Jember Hendy Siswanto mengatakan, pemerintah daerah telah menentukan ketetapan terkait dengan perayaan Lebaran. Sedangkan pelaksanaan salat Idul Fitri tetap diperbolehkan selama memenuhi beberapa syarat berdasarkan zonasi. “Beruntung, Jember dan wilayah di dalamnya tidak berwarna merah. Jadi, bisa melaksanakan salat Id, meski terbatas,” terangnya.

Berdasar surat edaran yang dikeluarkan Gubernur Jawa Timur, pelaksanaan salat Idul Fitri wajib menyesuaikan dengan kondisi zona di wilayah masing-masing. Misalnya wilayah yang berzona merah, harus melaksanakan salat di rumah masing-masing. Hal itu juga sejalan dengan fatwa Majelis Ulama Indonesia dan ormas-ormas lain. “Kalau zona oranye, jamaah salat Id yang hadir tidak boleh melebihi 15 persen dari kapasitas tempat ibadah. Sedangkan zona kuning dan hijau, jamaah salat Id yang hadir tak boleh lebih dari 50 persen dari kapasitas,” jelas Hendy.

Dalam pelaksanaannya, Hendy mengatakan, masyarakat Jember bisa memaksimalkan penggunaan musala untuk melaksanakan salat Id. “Jadi, di musala tidak apa-apa. Ini untuk mengantisipasi membeludaknya jamaah di masjid atau lapangan,” ujarnya.

Selain itu, masyarakat juga harus melaksanakan dengan memperhatikan beberapa ketentuan. Di antaranya, panitia wajib mengecek suhu para jamaah dan mengatur saf supaya berjarak, para jamaah diimbau mengenakan masker, alas kaki, dan sajadah masing-masing. Sementara, untuk khotbah diharapkan hanya berlangsung paling lama 10 menit dan membaca surat-surat pendek.

“Sedangkan untuk lansia atau orang yang baru sembuh dari sakit atau selesai melakukan perjalanan, disarankan agar tidak menghadiri salat Id di masjid atau lapangan,” ujarnya. Tak hanya itu, jamaah juga diimbau supaya menghindari berjabatan tangan seusai salat Id. Dan segera pulang ke rumah seusai beribadah.

Lebih lanjut, Hendy memaparkan, untuk takbiran tetap boleh digelar, asal jumlah jamaah hanya 10 persen dari kapasitas musala atau masjid. Namun, khusus untuk takbir keliling tetap dilarang lantaran berpotensi menimbulkan kerumunan. Pemerintah pun mengimbau agar umat Islam melaksanakan takbiran secara virtual saja, sesuai ketersediaan perangkat yang tersedia.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Lebaran kali ini merupakan momen kedua yang dijalani di masa pandemi. Tahun lalu, masyarakat Jember sudah mengalami bagaimana melaksanakan salat Idul Fitri dalam kondisi pagebluk. Kala itu, ada petugas yang keliling mengingatkan pengurus masjid dan jamaah agar selalu menerapkan protokol kesehatan (prokes). Bagaimana dengan perayaan tahun ini, apakah tetap sama dengan tahun lalu atau justru ada pelarangan?

Bupati Jember Hendy Siswanto mengatakan, pemerintah daerah telah menentukan ketetapan terkait dengan perayaan Lebaran. Sedangkan pelaksanaan salat Idul Fitri tetap diperbolehkan selama memenuhi beberapa syarat berdasarkan zonasi. “Beruntung, Jember dan wilayah di dalamnya tidak berwarna merah. Jadi, bisa melaksanakan salat Id, meski terbatas,” terangnya.

Berdasar surat edaran yang dikeluarkan Gubernur Jawa Timur, pelaksanaan salat Idul Fitri wajib menyesuaikan dengan kondisi zona di wilayah masing-masing. Misalnya wilayah yang berzona merah, harus melaksanakan salat di rumah masing-masing. Hal itu juga sejalan dengan fatwa Majelis Ulama Indonesia dan ormas-ormas lain. “Kalau zona oranye, jamaah salat Id yang hadir tidak boleh melebihi 15 persen dari kapasitas tempat ibadah. Sedangkan zona kuning dan hijau, jamaah salat Id yang hadir tak boleh lebih dari 50 persen dari kapasitas,” jelas Hendy.

Dalam pelaksanaannya, Hendy mengatakan, masyarakat Jember bisa memaksimalkan penggunaan musala untuk melaksanakan salat Id. “Jadi, di musala tidak apa-apa. Ini untuk mengantisipasi membeludaknya jamaah di masjid atau lapangan,” ujarnya.

Selain itu, masyarakat juga harus melaksanakan dengan memperhatikan beberapa ketentuan. Di antaranya, panitia wajib mengecek suhu para jamaah dan mengatur saf supaya berjarak, para jamaah diimbau mengenakan masker, alas kaki, dan sajadah masing-masing. Sementara, untuk khotbah diharapkan hanya berlangsung paling lama 10 menit dan membaca surat-surat pendek.

“Sedangkan untuk lansia atau orang yang baru sembuh dari sakit atau selesai melakukan perjalanan, disarankan agar tidak menghadiri salat Id di masjid atau lapangan,” ujarnya. Tak hanya itu, jamaah juga diimbau supaya menghindari berjabatan tangan seusai salat Id. Dan segera pulang ke rumah seusai beribadah.

Lebih lanjut, Hendy memaparkan, untuk takbiran tetap boleh digelar, asal jumlah jamaah hanya 10 persen dari kapasitas musala atau masjid. Namun, khusus untuk takbir keliling tetap dilarang lantaran berpotensi menimbulkan kerumunan. Pemerintah pun mengimbau agar umat Islam melaksanakan takbiran secara virtual saja, sesuai ketersediaan perangkat yang tersedia.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/