alexametrics
31.2 C
Jember
Monday, 4 July 2022

Yenis Pratiwi, Mompreneur Tetap Produksi Suvenir meski Hanya Dari Rumah

Bagi Yenis Pratiwi, menjadi seorang mompreneur adalah sebuah jalan yang harus dilakoninya. Perjalanan panjang merintis usaha berbagai macam jenis suvenir. Ibu yang memiliki dua buah hati ini tetap aktif produksi meski hanya dari rumah saja.

Mobile_AP_Rectangle 1

Di awal tahun 2020 lalu ketika pandemi Covid-19 mulai melanda, Inez harus berfikir keras agar dia tetap eksis dan produktif. “Pengusaha harus pintar-pintar membaca dan melihat peluang. Bahkan sebelumnya saya sudah mulai ancang-ancang. Ya seperti jualan masker dan face shield,” ujarnya.

Meskipun sudah bukan karyawan sebuah perusahaan, Inez tetap produktif mengelola usahanya. Tak ada THR dari perusahaan pun, Inez sudah memiliki tabungan dari hasil keuntungannya mendapat order suvenir dari puluhan, ratusan, hingga ribuan.

Mompreneur yang tinggal di Perumahan Bumi Nirwana, Sumbersari, ini juga menjadi salah satu UMKM binaan dari Bank Indonesia, Disperindag Jember, dan tergabung di Jember Ekonomi Kreatif (Jeka), serta Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Jember.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Saya juga sering ikut pelatihan. Bahkan di tahun pertama pandemi 2021 kemarin saya ditunjuk kementerian menjadi penyedia APD dan masker di Jawa Timur. Hanya dua orang saja dari Jember, termasuk saya,” bebernya.

Inez pun tak bisa berjalan sendiri. Sebelum pandemi, dia memiliki empat karyawan tetap dan enam karyawan freelance. Ketika pandemi, Inez memiliki dua orang karyawan tetap dan dua lainnya karyawan berstatus freelance. Bila ada pesanan saja, dua karyawan freelance-nya mulai bekerja.

“Saya juga harus pintar-pintar menabung. Karena untuk memutar biaya produksi dan mengambil keuntungan bagi keluarga. Kalau di perusahaan kan ada THR. Kalau sebagai wirausaha seperti ini tidak ada. Jadi, harus cermat membagi keuangan dan pintar melihat peluang ke depan,” pungkasnya. (nur/c2)

 

- Advertisement -

Di awal tahun 2020 lalu ketika pandemi Covid-19 mulai melanda, Inez harus berfikir keras agar dia tetap eksis dan produktif. “Pengusaha harus pintar-pintar membaca dan melihat peluang. Bahkan sebelumnya saya sudah mulai ancang-ancang. Ya seperti jualan masker dan face shield,” ujarnya.

Meskipun sudah bukan karyawan sebuah perusahaan, Inez tetap produktif mengelola usahanya. Tak ada THR dari perusahaan pun, Inez sudah memiliki tabungan dari hasil keuntungannya mendapat order suvenir dari puluhan, ratusan, hingga ribuan.

Mompreneur yang tinggal di Perumahan Bumi Nirwana, Sumbersari, ini juga menjadi salah satu UMKM binaan dari Bank Indonesia, Disperindag Jember, dan tergabung di Jember Ekonomi Kreatif (Jeka), serta Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Jember.

“Saya juga sering ikut pelatihan. Bahkan di tahun pertama pandemi 2021 kemarin saya ditunjuk kementerian menjadi penyedia APD dan masker di Jawa Timur. Hanya dua orang saja dari Jember, termasuk saya,” bebernya.

Inez pun tak bisa berjalan sendiri. Sebelum pandemi, dia memiliki empat karyawan tetap dan enam karyawan freelance. Ketika pandemi, Inez memiliki dua orang karyawan tetap dan dua lainnya karyawan berstatus freelance. Bila ada pesanan saja, dua karyawan freelance-nya mulai bekerja.

“Saya juga harus pintar-pintar menabung. Karena untuk memutar biaya produksi dan mengambil keuntungan bagi keluarga. Kalau di perusahaan kan ada THR. Kalau sebagai wirausaha seperti ini tidak ada. Jadi, harus cermat membagi keuangan dan pintar melihat peluang ke depan,” pungkasnya. (nur/c2)

 

Di awal tahun 2020 lalu ketika pandemi Covid-19 mulai melanda, Inez harus berfikir keras agar dia tetap eksis dan produktif. “Pengusaha harus pintar-pintar membaca dan melihat peluang. Bahkan sebelumnya saya sudah mulai ancang-ancang. Ya seperti jualan masker dan face shield,” ujarnya.

Meskipun sudah bukan karyawan sebuah perusahaan, Inez tetap produktif mengelola usahanya. Tak ada THR dari perusahaan pun, Inez sudah memiliki tabungan dari hasil keuntungannya mendapat order suvenir dari puluhan, ratusan, hingga ribuan.

Mompreneur yang tinggal di Perumahan Bumi Nirwana, Sumbersari, ini juga menjadi salah satu UMKM binaan dari Bank Indonesia, Disperindag Jember, dan tergabung di Jember Ekonomi Kreatif (Jeka), serta Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Jember.

“Saya juga sering ikut pelatihan. Bahkan di tahun pertama pandemi 2021 kemarin saya ditunjuk kementerian menjadi penyedia APD dan masker di Jawa Timur. Hanya dua orang saja dari Jember, termasuk saya,” bebernya.

Inez pun tak bisa berjalan sendiri. Sebelum pandemi, dia memiliki empat karyawan tetap dan enam karyawan freelance. Ketika pandemi, Inez memiliki dua orang karyawan tetap dan dua lainnya karyawan berstatus freelance. Bila ada pesanan saja, dua karyawan freelance-nya mulai bekerja.

“Saya juga harus pintar-pintar menabung. Karena untuk memutar biaya produksi dan mengambil keuntungan bagi keluarga. Kalau di perusahaan kan ada THR. Kalau sebagai wirausaha seperti ini tidak ada. Jadi, harus cermat membagi keuangan dan pintar melihat peluang ke depan,” pungkasnya. (nur/c2)

 

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/