alexametrics
24.5 C
Jember
Monday, 16 May 2022

Menggerakkan Desa lewat Tahajud dan Subuh Berjamaah di Lereng Gumitir

Bisa Ngobrol dengan Mas Kades sambil Selonjoran

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – JAM menunjukkan pukul tiga lebih sedikit. Dini hari. Imam masjid mengangkat kedua tangan, lalu mengucap takbir. Tanda dimulainya salat. Ada lima baris di belakang imam. Berjajar rapi langsung mengikuti gerakan imam.

Lebar ruang inti masjid itu sekitar dua belas meter saja. Tiap baris ada sekitar dua puluh orang. Hanya baris ke imasaja yang tidak full. Jarak antar mereka tak rapat-rapat amat. Boleh jadi, itu efek pandemi.  Saf salat tidak lagi rapat. Tapi, semua dari mereka terlihat khusyuk. Aminmereka juga masih terdengar keras, bersemangat. Setidaknya menandakan mereka antusias mengikuti salat Tahajud berjamaah di dini hariyang lumayan dingin itu.

Tak ada yang terlihat ngantuk. Bukan karena di masjid itu juga tersuguh kopi. Dan, para jamaah bebas menyeruputnya sebelum Tahajud dimulai. Bukan pula karena Sidomulyo terkenal dengan sentra kopinya. “Warga sekitar masjid memang sangat antusias  dengan program Tahajud berjamaah ini,’’ kata KamiludinSKepNers,Kepala Desa Sidomulyo yang akrab dipanggil Mas Kades.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pantas memang. Usianya masih amat belia untuk ukuran seorang kepala desa. Baru 31 tahun. Wajahnya juga masih imut. Rasanya malah kurang pas kalau dipanggil Pak Kades seperti lazimnya. Kamil sendiri sudah menjadikan julukan Mas Kades sebagai brand dirinya. Perawat kesehatan yang kini lebih memilih merawat desa. “Supaya akrab dan tak berjarak saja dengan warga,’’ katanya.

Mas Kades-lah penggagassalat Tahajud berjamaah itu. Sejak dia resmi dilantik menjadi kades, 17 Desember lalu, banyak program yang dia geber. Dari mulai membongkar gapura pintu masuk desa, menyulap wajah kantor desa, sampai membuat layanan online. Sidomulyo Online System (SOS). Sebuah aplikasi yang memanjakan warga. Semua urusan administrasi dan kependudukan cukup diselesaikan via online. Cukup lewat HP.

Untuk urusan religi, Mas Kades juga membongkar kebiasaan lama. Azan datang, perangkat harus bergegas salat berjamaah. Layanan stop dulu. “Duhur dan Asar, perangkat yang muslim saya wajibkan salat berjamaah,’’ katanya.

Tak bermaksud ekstrem. Mas Kades hanya mengajarkan totalitas dalam berkomitmen. Di Sidomulyo juga banyak warga nonmuslim. Mas Kades tetap mengayominya. Bahkan, menjadikan mereka sahabat dan kawan-kawan akrabnya. Juga teman diskusi dan keseharian.

Kalau toh dia bikin gerakan Tahajud dan Subuh berjamaah, itu juga dalam rangka mengajak untuk totalitas. Lebih-lebih, mayoritas warganya muslim. Dia mulai dengan sebulan sekali dulu. Tiap awal bulan. Dia jadwal masjid-masjid yang ada di seluruh dusun untuk digilir. Ada 13 masjid. Butuh setahun lebih untuk menyelesaikan satu putaran.

Mas Kades sengaja menggilir masjid-masjid diseluruh dusun sekali sebulan. Dan, dia selalu menyempatkan untuk hadir, mengawali dan memberi contoh. Harapannya, biar gerakan ini nanti dilanjutkan sendiri oleh takmir bersama warga sekitar. Tak perlu tiap hari. Prinsipnya sederhana. Kalau sebulan sekali dirasa kurang biar dicoba sebulan dua  kali. Jika sebulan dua kali dirasa kurang, biar dicoba sepekan sekali. Jika masih saja merasa kurang, biar tiga hari sekali. “Kalau juga masih dirasa kurang, ya silakan saja digelar tiap hari. Bebas,’’ katanya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – JAM menunjukkan pukul tiga lebih sedikit. Dini hari. Imam masjid mengangkat kedua tangan, lalu mengucap takbir. Tanda dimulainya salat. Ada lima baris di belakang imam. Berjajar rapi langsung mengikuti gerakan imam.

Lebar ruang inti masjid itu sekitar dua belas meter saja. Tiap baris ada sekitar dua puluh orang. Hanya baris ke imasaja yang tidak full. Jarak antar mereka tak rapat-rapat amat. Boleh jadi, itu efek pandemi.  Saf salat tidak lagi rapat. Tapi, semua dari mereka terlihat khusyuk. Aminmereka juga masih terdengar keras, bersemangat. Setidaknya menandakan mereka antusias mengikuti salat Tahajud berjamaah di dini hariyang lumayan dingin itu.

Tak ada yang terlihat ngantuk. Bukan karena di masjid itu juga tersuguh kopi. Dan, para jamaah bebas menyeruputnya sebelum Tahajud dimulai. Bukan pula karena Sidomulyo terkenal dengan sentra kopinya. “Warga sekitar masjid memang sangat antusias  dengan program Tahajud berjamaah ini,’’ kata KamiludinSKepNers,Kepala Desa Sidomulyo yang akrab dipanggil Mas Kades.

Pantas memang. Usianya masih amat belia untuk ukuran seorang kepala desa. Baru 31 tahun. Wajahnya juga masih imut. Rasanya malah kurang pas kalau dipanggil Pak Kades seperti lazimnya. Kamil sendiri sudah menjadikan julukan Mas Kades sebagai brand dirinya. Perawat kesehatan yang kini lebih memilih merawat desa. “Supaya akrab dan tak berjarak saja dengan warga,’’ katanya.

Mas Kades-lah penggagassalat Tahajud berjamaah itu. Sejak dia resmi dilantik menjadi kades, 17 Desember lalu, banyak program yang dia geber. Dari mulai membongkar gapura pintu masuk desa, menyulap wajah kantor desa, sampai membuat layanan online. Sidomulyo Online System (SOS). Sebuah aplikasi yang memanjakan warga. Semua urusan administrasi dan kependudukan cukup diselesaikan via online. Cukup lewat HP.

Untuk urusan religi, Mas Kades juga membongkar kebiasaan lama. Azan datang, perangkat harus bergegas salat berjamaah. Layanan stop dulu. “Duhur dan Asar, perangkat yang muslim saya wajibkan salat berjamaah,’’ katanya.

Tak bermaksud ekstrem. Mas Kades hanya mengajarkan totalitas dalam berkomitmen. Di Sidomulyo juga banyak warga nonmuslim. Mas Kades tetap mengayominya. Bahkan, menjadikan mereka sahabat dan kawan-kawan akrabnya. Juga teman diskusi dan keseharian.

Kalau toh dia bikin gerakan Tahajud dan Subuh berjamaah, itu juga dalam rangka mengajak untuk totalitas. Lebih-lebih, mayoritas warganya muslim. Dia mulai dengan sebulan sekali dulu. Tiap awal bulan. Dia jadwal masjid-masjid yang ada di seluruh dusun untuk digilir. Ada 13 masjid. Butuh setahun lebih untuk menyelesaikan satu putaran.

Mas Kades sengaja menggilir masjid-masjid diseluruh dusun sekali sebulan. Dan, dia selalu menyempatkan untuk hadir, mengawali dan memberi contoh. Harapannya, biar gerakan ini nanti dilanjutkan sendiri oleh takmir bersama warga sekitar. Tak perlu tiap hari. Prinsipnya sederhana. Kalau sebulan sekali dirasa kurang biar dicoba sebulan dua  kali. Jika sebulan dua kali dirasa kurang, biar dicoba sepekan sekali. Jika masih saja merasa kurang, biar tiga hari sekali. “Kalau juga masih dirasa kurang, ya silakan saja digelar tiap hari. Bebas,’’ katanya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – JAM menunjukkan pukul tiga lebih sedikit. Dini hari. Imam masjid mengangkat kedua tangan, lalu mengucap takbir. Tanda dimulainya salat. Ada lima baris di belakang imam. Berjajar rapi langsung mengikuti gerakan imam.

Lebar ruang inti masjid itu sekitar dua belas meter saja. Tiap baris ada sekitar dua puluh orang. Hanya baris ke imasaja yang tidak full. Jarak antar mereka tak rapat-rapat amat. Boleh jadi, itu efek pandemi.  Saf salat tidak lagi rapat. Tapi, semua dari mereka terlihat khusyuk. Aminmereka juga masih terdengar keras, bersemangat. Setidaknya menandakan mereka antusias mengikuti salat Tahajud berjamaah di dini hariyang lumayan dingin itu.

Tak ada yang terlihat ngantuk. Bukan karena di masjid itu juga tersuguh kopi. Dan, para jamaah bebas menyeruputnya sebelum Tahajud dimulai. Bukan pula karena Sidomulyo terkenal dengan sentra kopinya. “Warga sekitar masjid memang sangat antusias  dengan program Tahajud berjamaah ini,’’ kata KamiludinSKepNers,Kepala Desa Sidomulyo yang akrab dipanggil Mas Kades.

Pantas memang. Usianya masih amat belia untuk ukuran seorang kepala desa. Baru 31 tahun. Wajahnya juga masih imut. Rasanya malah kurang pas kalau dipanggil Pak Kades seperti lazimnya. Kamil sendiri sudah menjadikan julukan Mas Kades sebagai brand dirinya. Perawat kesehatan yang kini lebih memilih merawat desa. “Supaya akrab dan tak berjarak saja dengan warga,’’ katanya.

Mas Kades-lah penggagassalat Tahajud berjamaah itu. Sejak dia resmi dilantik menjadi kades, 17 Desember lalu, banyak program yang dia geber. Dari mulai membongkar gapura pintu masuk desa, menyulap wajah kantor desa, sampai membuat layanan online. Sidomulyo Online System (SOS). Sebuah aplikasi yang memanjakan warga. Semua urusan administrasi dan kependudukan cukup diselesaikan via online. Cukup lewat HP.

Untuk urusan religi, Mas Kades juga membongkar kebiasaan lama. Azan datang, perangkat harus bergegas salat berjamaah. Layanan stop dulu. “Duhur dan Asar, perangkat yang muslim saya wajibkan salat berjamaah,’’ katanya.

Tak bermaksud ekstrem. Mas Kades hanya mengajarkan totalitas dalam berkomitmen. Di Sidomulyo juga banyak warga nonmuslim. Mas Kades tetap mengayominya. Bahkan, menjadikan mereka sahabat dan kawan-kawan akrabnya. Juga teman diskusi dan keseharian.

Kalau toh dia bikin gerakan Tahajud dan Subuh berjamaah, itu juga dalam rangka mengajak untuk totalitas. Lebih-lebih, mayoritas warganya muslim. Dia mulai dengan sebulan sekali dulu. Tiap awal bulan. Dia jadwal masjid-masjid yang ada di seluruh dusun untuk digilir. Ada 13 masjid. Butuh setahun lebih untuk menyelesaikan satu putaran.

Mas Kades sengaja menggilir masjid-masjid diseluruh dusun sekali sebulan. Dan, dia selalu menyempatkan untuk hadir, mengawali dan memberi contoh. Harapannya, biar gerakan ini nanti dilanjutkan sendiri oleh takmir bersama warga sekitar. Tak perlu tiap hari. Prinsipnya sederhana. Kalau sebulan sekali dirasa kurang biar dicoba sebulan dua  kali. Jika sebulan dua kali dirasa kurang, biar dicoba sepekan sekali. Jika masih saja merasa kurang, biar tiga hari sekali. “Kalau juga masih dirasa kurang, ya silakan saja digelar tiap hari. Bebas,’’ katanya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/