alexametrics
26.5 C
Jember
Tuesday, 17 May 2022

Pahami Perbedaan Tes Identifikasi Virus Covid-19

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Setelah kemunculan alternatif rapid test antigen sebagai pendeteksi virus korona, beberapa waktu lalu, timbul banyak pertanyaan di lingkungan masyarakat Jember mengenai perbedaan antara rapid test antibodi, antigen, dan swab PCR. Salah satunya diungkapkan Alhabsy Hidayatullah.

Warga Dusun Krajan, Kecamatan Jenggawah, tersebut sempat bingung kala menjalani rapid test sebagai salah satu syarat naik kereta api. Tujuannya, agar masyarakat mendapatkan pemahaman yang merata. “Menurut saya, hal-hal seperti ini harus dipublikasikan dengan baik dan mengena di masyarakat,” ujar pria yang berusia 26 tahun itu.

Dia mengaku sempat kaget ketika diminta hasil rapid test antigen sebagai syarat bepergian. Dan menduga langkah tersebut adalah swab test. Mengingat, tata caranya hampir sama. “Kalau rapid test dulu dengan menggunakan darah. Ada yang menggunakan jarum suntik, ada yang mengambil darah melalui telunjuk jari,” pungkasnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Berdasarkan data yang dikeluarkan Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik dan Kedokteran Laboratorium Indonesia, Kepala Instalasi Laboratorium Patologi Klinik RSD dr Soebandi dr Arswendo IM SpPK menjelaskan bahwa rapid test antibodi direkomendasikan untuk orang tanpa gejala (OTG). Terutama yang mempunyai riwayat setelah mengalami kontak minimal 10 hari. Yakni, orang yang tidak bergejala dan memiliki risiko tertular dari orang yang terkonfirmasi positif Covid-19. “Selain itu, untuk orang dalam pemantauan (ODP) dan pasien dalam pengawasan (PDP),” lanjutnya.

dr Arswendo menuturkan bahwa rapid itu berupa pengambilan darah menggunakan tabung vakum dengan prinsip closed system. Artinya, darah dari vena secara langsung dialirkan ke tabung vakum. Meski begitu, dia menyatakan bahwa rapid test antibodi memiliki kelebihan dan kekurangan.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Setelah kemunculan alternatif rapid test antigen sebagai pendeteksi virus korona, beberapa waktu lalu, timbul banyak pertanyaan di lingkungan masyarakat Jember mengenai perbedaan antara rapid test antibodi, antigen, dan swab PCR. Salah satunya diungkapkan Alhabsy Hidayatullah.

Warga Dusun Krajan, Kecamatan Jenggawah, tersebut sempat bingung kala menjalani rapid test sebagai salah satu syarat naik kereta api. Tujuannya, agar masyarakat mendapatkan pemahaman yang merata. “Menurut saya, hal-hal seperti ini harus dipublikasikan dengan baik dan mengena di masyarakat,” ujar pria yang berusia 26 tahun itu.

Dia mengaku sempat kaget ketika diminta hasil rapid test antigen sebagai syarat bepergian. Dan menduga langkah tersebut adalah swab test. Mengingat, tata caranya hampir sama. “Kalau rapid test dulu dengan menggunakan darah. Ada yang menggunakan jarum suntik, ada yang mengambil darah melalui telunjuk jari,” pungkasnya.

Berdasarkan data yang dikeluarkan Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik dan Kedokteran Laboratorium Indonesia, Kepala Instalasi Laboratorium Patologi Klinik RSD dr Soebandi dr Arswendo IM SpPK menjelaskan bahwa rapid test antibodi direkomendasikan untuk orang tanpa gejala (OTG). Terutama yang mempunyai riwayat setelah mengalami kontak minimal 10 hari. Yakni, orang yang tidak bergejala dan memiliki risiko tertular dari orang yang terkonfirmasi positif Covid-19. “Selain itu, untuk orang dalam pemantauan (ODP) dan pasien dalam pengawasan (PDP),” lanjutnya.

dr Arswendo menuturkan bahwa rapid itu berupa pengambilan darah menggunakan tabung vakum dengan prinsip closed system. Artinya, darah dari vena secara langsung dialirkan ke tabung vakum. Meski begitu, dia menyatakan bahwa rapid test antibodi memiliki kelebihan dan kekurangan.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Setelah kemunculan alternatif rapid test antigen sebagai pendeteksi virus korona, beberapa waktu lalu, timbul banyak pertanyaan di lingkungan masyarakat Jember mengenai perbedaan antara rapid test antibodi, antigen, dan swab PCR. Salah satunya diungkapkan Alhabsy Hidayatullah.

Warga Dusun Krajan, Kecamatan Jenggawah, tersebut sempat bingung kala menjalani rapid test sebagai salah satu syarat naik kereta api. Tujuannya, agar masyarakat mendapatkan pemahaman yang merata. “Menurut saya, hal-hal seperti ini harus dipublikasikan dengan baik dan mengena di masyarakat,” ujar pria yang berusia 26 tahun itu.

Dia mengaku sempat kaget ketika diminta hasil rapid test antigen sebagai syarat bepergian. Dan menduga langkah tersebut adalah swab test. Mengingat, tata caranya hampir sama. “Kalau rapid test dulu dengan menggunakan darah. Ada yang menggunakan jarum suntik, ada yang mengambil darah melalui telunjuk jari,” pungkasnya.

Berdasarkan data yang dikeluarkan Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik dan Kedokteran Laboratorium Indonesia, Kepala Instalasi Laboratorium Patologi Klinik RSD dr Soebandi dr Arswendo IM SpPK menjelaskan bahwa rapid test antibodi direkomendasikan untuk orang tanpa gejala (OTG). Terutama yang mempunyai riwayat setelah mengalami kontak minimal 10 hari. Yakni, orang yang tidak bergejala dan memiliki risiko tertular dari orang yang terkonfirmasi positif Covid-19. “Selain itu, untuk orang dalam pemantauan (ODP) dan pasien dalam pengawasan (PDP),” lanjutnya.

dr Arswendo menuturkan bahwa rapid itu berupa pengambilan darah menggunakan tabung vakum dengan prinsip closed system. Artinya, darah dari vena secara langsung dialirkan ke tabung vakum. Meski begitu, dia menyatakan bahwa rapid test antibodi memiliki kelebihan dan kekurangan.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/