alexametrics
24.1 C
Jember
Thursday, 19 May 2022

Jadi Monumen Kegagalan

Dua megaproyek Pemkab Jember mandek. Asrama haji di kompleks JSG dan gedung rawat jalan empat lantai di RSD dr Soebandi. Berhentinya dua proyek bernilai puluhan miliar ini disebut menjadi noktah sejarah. Bangunan yang mangkrak juga akan menjadi monumen suram. Sebab, kegagalannya selalu diingat hingga akhir zaman.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu (8/1), langit di atas area Stadion JSG sedikit cerah. Tak seperti hari-hari biasanya yang kerap kali diselimuti mendung hingga hujan. Pascapandemi Covid-19 mendera Jember, Stadion JSG menjadi salah satu tempat isolasi. Oleh karena itu, untuk menuju proyek pembangunan asrama haji yang berada di kompleks JSG tersebut, tidak bisa lagi lewat stadion yang megah itu. Tapi, harus lewat belakang Kantor Subsektor Polsek Ajung.

Jalan menuju proyek asrama haji tidak jauh berbeda dengan beberapa tahun lalu. Tidak ada aspal. Hanya tanah  hingga batu makadam. Setelah perjalanan dengan mengendarai motor selama lima menit, tak ada tanda-tanda bangunan megah seperti gambar maket asrama haji. Pertanyaan di manakah proyek bangunan asrama haji itu terjawab oleh perempuan tua yang berjualan di warung. “Asrama haji itu di depan. kalau mau masuk bisa. Tapi tutup lagi ya,” ucap Waro, 58, sambil menunjuk pintu masuk asrama haji tersebut.

Mobile_AP_Rectangle 2

Asrama haji yang ditunjukkan Waro itu tak tampak sama sekali wujud bangunannya. Hanya pilar-pilar beton yang menjulang ke atas. Jawa Pos Radar Jember mencoba melihat dari dekat dan terdapat banyak sekali tiang beton yang berdiri di bawah fondasi cor-coran. Lantai cor-coran tersebut sebagian juga mulai digenangi air hujan. Bahkan, beberapa di antaranya berlumut. Di lantai juga terdapat besi bertulang yang menempel, serta pipa paralon.

Di antara genangan air, terdapat satu titik yang genangannya cukup dalam. Sebab, batu yang dilempar tidak terdengar nyaring. Barangkali genangan itu adalah cikal bakal lift, berbentuk persegi. Pagar pembatas proyek pembangunan asrama haji yang dari seng ini juga telah ditumbuhi semak belukar. Pagar pembatas itu ada spanduk yang ditumbuhi semak. Tulisannya tidak begitu kentara. Hanya tampak bertuliskan wujud, 22, bupati. Tulisan lainnya tertutupi semak belukar. Seharusnya tertulis wujud 22 janji kerja bupati.

Peletakan batu asrama haji itu oleh Bupati Jember Faida, 7 Oktober 2019 lalu. Dalam penjelasannya, pembangunan tersebut merupakan tahap pertama yang akan dilakukan selama tiga bulan dengan anggaran APBD Kabupaten Jember sebesar Rp 17,5 miliar. Tahap pertama hanya membangun fondasi sampai struktur beton.

Proyek itu rencananya dilanjutkan pada Januari 2020 dengan anggaran sebesar Rp 132 miliar untuk bangunan sampai lantai tujuh. Oktober 2019, saat peletakan batu pertama, Faida menjelaskan, tahap ketiga di perubahan anggaran kurang lebih Rp 70 miliar untuk menyelesaikan interior. Hal itu dilakukan agar asrama haji bisa difungsikan sekaligus sebagai hotel transito, wisma atlet, wisma diklat, dan wisma daerah. Makanya disebut asrama haji multifungsi.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu (8/1), langit di atas area Stadion JSG sedikit cerah. Tak seperti hari-hari biasanya yang kerap kali diselimuti mendung hingga hujan. Pascapandemi Covid-19 mendera Jember, Stadion JSG menjadi salah satu tempat isolasi. Oleh karena itu, untuk menuju proyek pembangunan asrama haji yang berada di kompleks JSG tersebut, tidak bisa lagi lewat stadion yang megah itu. Tapi, harus lewat belakang Kantor Subsektor Polsek Ajung.

Jalan menuju proyek asrama haji tidak jauh berbeda dengan beberapa tahun lalu. Tidak ada aspal. Hanya tanah  hingga batu makadam. Setelah perjalanan dengan mengendarai motor selama lima menit, tak ada tanda-tanda bangunan megah seperti gambar maket asrama haji. Pertanyaan di manakah proyek bangunan asrama haji itu terjawab oleh perempuan tua yang berjualan di warung. “Asrama haji itu di depan. kalau mau masuk bisa. Tapi tutup lagi ya,” ucap Waro, 58, sambil menunjuk pintu masuk asrama haji tersebut.

Asrama haji yang ditunjukkan Waro itu tak tampak sama sekali wujud bangunannya. Hanya pilar-pilar beton yang menjulang ke atas. Jawa Pos Radar Jember mencoba melihat dari dekat dan terdapat banyak sekali tiang beton yang berdiri di bawah fondasi cor-coran. Lantai cor-coran tersebut sebagian juga mulai digenangi air hujan. Bahkan, beberapa di antaranya berlumut. Di lantai juga terdapat besi bertulang yang menempel, serta pipa paralon.

Di antara genangan air, terdapat satu titik yang genangannya cukup dalam. Sebab, batu yang dilempar tidak terdengar nyaring. Barangkali genangan itu adalah cikal bakal lift, berbentuk persegi. Pagar pembatas proyek pembangunan asrama haji yang dari seng ini juga telah ditumbuhi semak belukar. Pagar pembatas itu ada spanduk yang ditumbuhi semak. Tulisannya tidak begitu kentara. Hanya tampak bertuliskan wujud, 22, bupati. Tulisan lainnya tertutupi semak belukar. Seharusnya tertulis wujud 22 janji kerja bupati.

Peletakan batu asrama haji itu oleh Bupati Jember Faida, 7 Oktober 2019 lalu. Dalam penjelasannya, pembangunan tersebut merupakan tahap pertama yang akan dilakukan selama tiga bulan dengan anggaran APBD Kabupaten Jember sebesar Rp 17,5 miliar. Tahap pertama hanya membangun fondasi sampai struktur beton.

Proyek itu rencananya dilanjutkan pada Januari 2020 dengan anggaran sebesar Rp 132 miliar untuk bangunan sampai lantai tujuh. Oktober 2019, saat peletakan batu pertama, Faida menjelaskan, tahap ketiga di perubahan anggaran kurang lebih Rp 70 miliar untuk menyelesaikan interior. Hal itu dilakukan agar asrama haji bisa difungsikan sekaligus sebagai hotel transito, wisma atlet, wisma diklat, dan wisma daerah. Makanya disebut asrama haji multifungsi.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu (8/1), langit di atas area Stadion JSG sedikit cerah. Tak seperti hari-hari biasanya yang kerap kali diselimuti mendung hingga hujan. Pascapandemi Covid-19 mendera Jember, Stadion JSG menjadi salah satu tempat isolasi. Oleh karena itu, untuk menuju proyek pembangunan asrama haji yang berada di kompleks JSG tersebut, tidak bisa lagi lewat stadion yang megah itu. Tapi, harus lewat belakang Kantor Subsektor Polsek Ajung.

Jalan menuju proyek asrama haji tidak jauh berbeda dengan beberapa tahun lalu. Tidak ada aspal. Hanya tanah  hingga batu makadam. Setelah perjalanan dengan mengendarai motor selama lima menit, tak ada tanda-tanda bangunan megah seperti gambar maket asrama haji. Pertanyaan di manakah proyek bangunan asrama haji itu terjawab oleh perempuan tua yang berjualan di warung. “Asrama haji itu di depan. kalau mau masuk bisa. Tapi tutup lagi ya,” ucap Waro, 58, sambil menunjuk pintu masuk asrama haji tersebut.

Asrama haji yang ditunjukkan Waro itu tak tampak sama sekali wujud bangunannya. Hanya pilar-pilar beton yang menjulang ke atas. Jawa Pos Radar Jember mencoba melihat dari dekat dan terdapat banyak sekali tiang beton yang berdiri di bawah fondasi cor-coran. Lantai cor-coran tersebut sebagian juga mulai digenangi air hujan. Bahkan, beberapa di antaranya berlumut. Di lantai juga terdapat besi bertulang yang menempel, serta pipa paralon.

Di antara genangan air, terdapat satu titik yang genangannya cukup dalam. Sebab, batu yang dilempar tidak terdengar nyaring. Barangkali genangan itu adalah cikal bakal lift, berbentuk persegi. Pagar pembatas proyek pembangunan asrama haji yang dari seng ini juga telah ditumbuhi semak belukar. Pagar pembatas itu ada spanduk yang ditumbuhi semak. Tulisannya tidak begitu kentara. Hanya tampak bertuliskan wujud, 22, bupati. Tulisan lainnya tertutupi semak belukar. Seharusnya tertulis wujud 22 janji kerja bupati.

Peletakan batu asrama haji itu oleh Bupati Jember Faida, 7 Oktober 2019 lalu. Dalam penjelasannya, pembangunan tersebut merupakan tahap pertama yang akan dilakukan selama tiga bulan dengan anggaran APBD Kabupaten Jember sebesar Rp 17,5 miliar. Tahap pertama hanya membangun fondasi sampai struktur beton.

Proyek itu rencananya dilanjutkan pada Januari 2020 dengan anggaran sebesar Rp 132 miliar untuk bangunan sampai lantai tujuh. Oktober 2019, saat peletakan batu pertama, Faida menjelaskan, tahap ketiga di perubahan anggaran kurang lebih Rp 70 miliar untuk menyelesaikan interior. Hal itu dilakukan agar asrama haji bisa difungsikan sekaligus sebagai hotel transito, wisma atlet, wisma diklat, dan wisma daerah. Makanya disebut asrama haji multifungsi.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/