alexametrics
31.1 C
Jember
Sunday, 29 May 2022

Dampak Masa Transisi Sekolah, Kenakalan Remaja Makin Parah di Jember

“Keluarganya tahu kalau memang tidak mau sekolah. Sehari-hari kalau pulang sampai larut malam.” Umi Nur Fadlilah - Guru BK di Kecamatan Kencong

Mobile_AP_Rectangle 1

KENCONG, RADARJEMBER.ID – Lamanya masa sekolah daring ternyata menyisakan efek negatif bagi siswa. Selain learning loss, dampak lain adalah meningkatnya kenakalan siswa di sekolah. Utamanya sekolah jenjang menengah di perdesaan ketika proses pembelajaran tatap muka (PTM) berlangsung.

Umi Nur Fadlilah, salah satu guru bimbingan konseling (BK) MTs swasta di Kecamatan Kencong, mengatakan, berdasarkan pengamatannya, tren kenakalan siswa di sekolahnya kebanyakan adalah siswa yang enggan masuk sekolah. Beberapa di antaranya karena membolos, sebagian lagi lantaran punya keinginan berhenti sekolah.

Menurut dia, mayoritas siswa yang tidak menginginkan sekolah lagi berasal dari keluarga yang sudah tidak bisa mengatasi kenakalan anaknya. Sehingga siswa tersebut secara terang-terangan melakukan hal menyimpang di depan keluarganya. “Keluarganya tahu kalau memang tidak mau sekolah. Sehari-hari kalau pulang sampai larut malam,” ceritanya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Mobile_AP_Rectangle 2

Untuk membujuk dan mengatasi anak-anak yang tidak memiliki minat sekolah lagi, ia dan kelompok guru lainnya mengupayakan melakukan kunjungan ke rumah siswa. Begitu pun untuk menangani kenakalan siswa yang lain. Misalnya, siswa merokok atau yang kerap membolos sekolah. Kunjungan ini dilakukan untuk membangun komunikasi kepada orang tua siswa.

Sejatinya, kata Umi, kenakalan ini sudah umum terjadi di sekolah-sekolah. Namun, jumlahnya saat ini lebih masif. Menurut dia, permasalahan yang terjadi setiap periode ini pasti ada. Oleh karena itu, perlu ada penanganan agar jumlahnya berkurang. Sebab, penyebab utama yang memicu makin tinggi kenakalan remaja itu karena kurangnya komunikasi dan perhatian dari orang tua. “Di sisi lain, dalam keseharian, para remaja itu juga tak berhenti mengonsumsi konten-konten di media sosial,” ungkapnya.

- Advertisement -

KENCONG, RADARJEMBER.ID – Lamanya masa sekolah daring ternyata menyisakan efek negatif bagi siswa. Selain learning loss, dampak lain adalah meningkatnya kenakalan siswa di sekolah. Utamanya sekolah jenjang menengah di perdesaan ketika proses pembelajaran tatap muka (PTM) berlangsung.

Umi Nur Fadlilah, salah satu guru bimbingan konseling (BK) MTs swasta di Kecamatan Kencong, mengatakan, berdasarkan pengamatannya, tren kenakalan siswa di sekolahnya kebanyakan adalah siswa yang enggan masuk sekolah. Beberapa di antaranya karena membolos, sebagian lagi lantaran punya keinginan berhenti sekolah.

Menurut dia, mayoritas siswa yang tidak menginginkan sekolah lagi berasal dari keluarga yang sudah tidak bisa mengatasi kenakalan anaknya. Sehingga siswa tersebut secara terang-terangan melakukan hal menyimpang di depan keluarganya. “Keluarganya tahu kalau memang tidak mau sekolah. Sehari-hari kalau pulang sampai larut malam,” ceritanya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Untuk membujuk dan mengatasi anak-anak yang tidak memiliki minat sekolah lagi, ia dan kelompok guru lainnya mengupayakan melakukan kunjungan ke rumah siswa. Begitu pun untuk menangani kenakalan siswa yang lain. Misalnya, siswa merokok atau yang kerap membolos sekolah. Kunjungan ini dilakukan untuk membangun komunikasi kepada orang tua siswa.

Sejatinya, kata Umi, kenakalan ini sudah umum terjadi di sekolah-sekolah. Namun, jumlahnya saat ini lebih masif. Menurut dia, permasalahan yang terjadi setiap periode ini pasti ada. Oleh karena itu, perlu ada penanganan agar jumlahnya berkurang. Sebab, penyebab utama yang memicu makin tinggi kenakalan remaja itu karena kurangnya komunikasi dan perhatian dari orang tua. “Di sisi lain, dalam keseharian, para remaja itu juga tak berhenti mengonsumsi konten-konten di media sosial,” ungkapnya.

KENCONG, RADARJEMBER.ID – Lamanya masa sekolah daring ternyata menyisakan efek negatif bagi siswa. Selain learning loss, dampak lain adalah meningkatnya kenakalan siswa di sekolah. Utamanya sekolah jenjang menengah di perdesaan ketika proses pembelajaran tatap muka (PTM) berlangsung.

Umi Nur Fadlilah, salah satu guru bimbingan konseling (BK) MTs swasta di Kecamatan Kencong, mengatakan, berdasarkan pengamatannya, tren kenakalan siswa di sekolahnya kebanyakan adalah siswa yang enggan masuk sekolah. Beberapa di antaranya karena membolos, sebagian lagi lantaran punya keinginan berhenti sekolah.

Menurut dia, mayoritas siswa yang tidak menginginkan sekolah lagi berasal dari keluarga yang sudah tidak bisa mengatasi kenakalan anaknya. Sehingga siswa tersebut secara terang-terangan melakukan hal menyimpang di depan keluarganya. “Keluarganya tahu kalau memang tidak mau sekolah. Sehari-hari kalau pulang sampai larut malam,” ceritanya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Untuk membujuk dan mengatasi anak-anak yang tidak memiliki minat sekolah lagi, ia dan kelompok guru lainnya mengupayakan melakukan kunjungan ke rumah siswa. Begitu pun untuk menangani kenakalan siswa yang lain. Misalnya, siswa merokok atau yang kerap membolos sekolah. Kunjungan ini dilakukan untuk membangun komunikasi kepada orang tua siswa.

Sejatinya, kata Umi, kenakalan ini sudah umum terjadi di sekolah-sekolah. Namun, jumlahnya saat ini lebih masif. Menurut dia, permasalahan yang terjadi setiap periode ini pasti ada. Oleh karena itu, perlu ada penanganan agar jumlahnya berkurang. Sebab, penyebab utama yang memicu makin tinggi kenakalan remaja itu karena kurangnya komunikasi dan perhatian dari orang tua. “Di sisi lain, dalam keseharian, para remaja itu juga tak berhenti mengonsumsi konten-konten di media sosial,” ungkapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/