alexametrics
30.1 C
Jember
Saturday, 2 July 2022

Pecel Legendaris Pasar Rambipuji Sudah Ada Sejak 1982 Lho

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Warga Rambipuji dan sekitarnya sudah cukup akrab dengan Nasi Pecel Bu Slamet. Makanan khas dengan bumbu sambal berbahan kacang itu cukup melegenda. Berdiri sejak 1982 lalu, hingga hampir empat dekade ini warung makan rakyat tersebut tetap eksis. Apa rahasianya?

Ternyata, selain rasanya yang menggoyang lidah, harga jualnya juga cukup murah. Bahkan bagi mahasiswa sekalipun. Harga seporsinya hanya dibanderol Rp 5.000. Apalagi, pelanggan juga bisa memilih takaran lauknya. “Biasanya kalau pelanggan baru, sama ibu dikasih harga yang lebih miring,” kata Lilik, anak Bu Slamet.

Uniknya, pelanggan di sekitar kompleks perumahannya terkadang hanya membeli lauknya dengan membawa nasi dari rumah. Biasanya para tetangga Bu Slamet memilih untuk makan di lokasi. Meski juga ada yang memilih untuk makan di rumah. “Harganya Rp 2.000 kalau begitu. Makannya terserah. Di sini juga bisa. Anggap rumah sendiri,” kata Bu Slamet.

Mobile_AP_Rectangle 2

Di kompleks rumahnya, saban pagi orang-orang bergiliran untuk membeli pecel. Mereka tak pernah bosan dengan menu pecel yang sudah ada sejak 1982 itu. “Mereka yang tidak sempat masak, mau kerja atau sekolah, langsung ke sini beli nasi pecel,” imbuhnya.

Keunikan lainnya adalah beberapa pelanggan di daerah kota, sengaja memesan dalam jumlah banyak. Selanjutnya dijual lagi. Di antar ke rumah-rumah warga atau toko yang sudah memesan. “Iya, kayak reseller. Saya juga heran, padahal di kota kan juga banyak penjual nasi pecel,”  ujarnya.

Tak hanya masyarakat setempat, pelanggan Bu Slamet juga terkenal dari warga Tionghoa. Biasanya mereka memesan dalam jumlah banyak pada malam hari sebelumnya. Baru keesokan harinya diambil. “Mintanya nasi dipisah dengan sayurnya. Karena biasanya mereka kalau makan sekitar pukul 10 siang,” tutur Lilik.

Beberapa pelanggan yang fanatik dengan cita rasa olahan pecel Bu Slamet banyak yang memesan mentahannya. Kemudian dibawa untuk oleh-oleh atau untuk stok lauk pribadi. Per kilonya dibanderol dengan harga Rp 80 ribu. “Kalau mau ke Singapura pesen pecel dulu. Harganya ikut harga kacang. Kalau sekarang mulai Rp 80 ribu,” jelasnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Warga Rambipuji dan sekitarnya sudah cukup akrab dengan Nasi Pecel Bu Slamet. Makanan khas dengan bumbu sambal berbahan kacang itu cukup melegenda. Berdiri sejak 1982 lalu, hingga hampir empat dekade ini warung makan rakyat tersebut tetap eksis. Apa rahasianya?

Ternyata, selain rasanya yang menggoyang lidah, harga jualnya juga cukup murah. Bahkan bagi mahasiswa sekalipun. Harga seporsinya hanya dibanderol Rp 5.000. Apalagi, pelanggan juga bisa memilih takaran lauknya. “Biasanya kalau pelanggan baru, sama ibu dikasih harga yang lebih miring,” kata Lilik, anak Bu Slamet.

Uniknya, pelanggan di sekitar kompleks perumahannya terkadang hanya membeli lauknya dengan membawa nasi dari rumah. Biasanya para tetangga Bu Slamet memilih untuk makan di lokasi. Meski juga ada yang memilih untuk makan di rumah. “Harganya Rp 2.000 kalau begitu. Makannya terserah. Di sini juga bisa. Anggap rumah sendiri,” kata Bu Slamet.

Di kompleks rumahnya, saban pagi orang-orang bergiliran untuk membeli pecel. Mereka tak pernah bosan dengan menu pecel yang sudah ada sejak 1982 itu. “Mereka yang tidak sempat masak, mau kerja atau sekolah, langsung ke sini beli nasi pecel,” imbuhnya.

Keunikan lainnya adalah beberapa pelanggan di daerah kota, sengaja memesan dalam jumlah banyak. Selanjutnya dijual lagi. Di antar ke rumah-rumah warga atau toko yang sudah memesan. “Iya, kayak reseller. Saya juga heran, padahal di kota kan juga banyak penjual nasi pecel,”  ujarnya.

Tak hanya masyarakat setempat, pelanggan Bu Slamet juga terkenal dari warga Tionghoa. Biasanya mereka memesan dalam jumlah banyak pada malam hari sebelumnya. Baru keesokan harinya diambil. “Mintanya nasi dipisah dengan sayurnya. Karena biasanya mereka kalau makan sekitar pukul 10 siang,” tutur Lilik.

Beberapa pelanggan yang fanatik dengan cita rasa olahan pecel Bu Slamet banyak yang memesan mentahannya. Kemudian dibawa untuk oleh-oleh atau untuk stok lauk pribadi. Per kilonya dibanderol dengan harga Rp 80 ribu. “Kalau mau ke Singapura pesen pecel dulu. Harganya ikut harga kacang. Kalau sekarang mulai Rp 80 ribu,” jelasnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Warga Rambipuji dan sekitarnya sudah cukup akrab dengan Nasi Pecel Bu Slamet. Makanan khas dengan bumbu sambal berbahan kacang itu cukup melegenda. Berdiri sejak 1982 lalu, hingga hampir empat dekade ini warung makan rakyat tersebut tetap eksis. Apa rahasianya?

Ternyata, selain rasanya yang menggoyang lidah, harga jualnya juga cukup murah. Bahkan bagi mahasiswa sekalipun. Harga seporsinya hanya dibanderol Rp 5.000. Apalagi, pelanggan juga bisa memilih takaran lauknya. “Biasanya kalau pelanggan baru, sama ibu dikasih harga yang lebih miring,” kata Lilik, anak Bu Slamet.

Uniknya, pelanggan di sekitar kompleks perumahannya terkadang hanya membeli lauknya dengan membawa nasi dari rumah. Biasanya para tetangga Bu Slamet memilih untuk makan di lokasi. Meski juga ada yang memilih untuk makan di rumah. “Harganya Rp 2.000 kalau begitu. Makannya terserah. Di sini juga bisa. Anggap rumah sendiri,” kata Bu Slamet.

Di kompleks rumahnya, saban pagi orang-orang bergiliran untuk membeli pecel. Mereka tak pernah bosan dengan menu pecel yang sudah ada sejak 1982 itu. “Mereka yang tidak sempat masak, mau kerja atau sekolah, langsung ke sini beli nasi pecel,” imbuhnya.

Keunikan lainnya adalah beberapa pelanggan di daerah kota, sengaja memesan dalam jumlah banyak. Selanjutnya dijual lagi. Di antar ke rumah-rumah warga atau toko yang sudah memesan. “Iya, kayak reseller. Saya juga heran, padahal di kota kan juga banyak penjual nasi pecel,”  ujarnya.

Tak hanya masyarakat setempat, pelanggan Bu Slamet juga terkenal dari warga Tionghoa. Biasanya mereka memesan dalam jumlah banyak pada malam hari sebelumnya. Baru keesokan harinya diambil. “Mintanya nasi dipisah dengan sayurnya. Karena biasanya mereka kalau makan sekitar pukul 10 siang,” tutur Lilik.

Beberapa pelanggan yang fanatik dengan cita rasa olahan pecel Bu Slamet banyak yang memesan mentahannya. Kemudian dibawa untuk oleh-oleh atau untuk stok lauk pribadi. Per kilonya dibanderol dengan harga Rp 80 ribu. “Kalau mau ke Singapura pesen pecel dulu. Harganya ikut harga kacang. Kalau sekarang mulai Rp 80 ribu,” jelasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/