alexametrics
27.8 C
Jember
Sunday, 26 June 2022

Seharusnya Tidak Ada Buta Aksara

Peringatan Hari Aksara Internasional

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Peringatan Hari Aksara Internasional pada 8 September lalu diperingati dengan beragam agenda. Mulai dari ulasan sejarah, lomba, hingga literasi budaya. Namun, tak sedikit yang menyinggung tentang buta aksara pada momen ini, khususnya di Jember.

Bagi Museum Huruf Jember, sejatinya masyarakat Jember tidak ada yang buta aksara. Melainkan buta huruf latin. Hal ini diungkapkan oleh Direktur Pelaksana Museum Huruf Erik Wijayanto. Dirinya menjelaskan, ada persepsi yang salah mengenai istilah aksara untuk pemakaian buta aksara.

Menurutnya, di Indonesia, bahkan di Jember, seharusnya tidak ada orang buta aksara. Sebab, sejarah aksara sangat panjang dan sudah ada ribuan tahun telah menjadi peradaban umat manusia. Begitu juga di Indonesia. Aksara diketahui masuk di Indonesia melalui penemuan prasasti yang terdapat aksara Palawa di Kerajaan Kutai sebagai kerajaan Hindu pertama di Indonesia.

Mobile_AP_Rectangle 2

Bahkan, menurut Erik, dari aksara berupa simbol-simbol hingga menjadi aksara yang bisa dilafalkan secara verbal. “Hanacaraka termasuk aksara Jawa modern,” ujarnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Peringatan Hari Aksara Internasional pada 8 September lalu diperingati dengan beragam agenda. Mulai dari ulasan sejarah, lomba, hingga literasi budaya. Namun, tak sedikit yang menyinggung tentang buta aksara pada momen ini, khususnya di Jember.

Bagi Museum Huruf Jember, sejatinya masyarakat Jember tidak ada yang buta aksara. Melainkan buta huruf latin. Hal ini diungkapkan oleh Direktur Pelaksana Museum Huruf Erik Wijayanto. Dirinya menjelaskan, ada persepsi yang salah mengenai istilah aksara untuk pemakaian buta aksara.

Menurutnya, di Indonesia, bahkan di Jember, seharusnya tidak ada orang buta aksara. Sebab, sejarah aksara sangat panjang dan sudah ada ribuan tahun telah menjadi peradaban umat manusia. Begitu juga di Indonesia. Aksara diketahui masuk di Indonesia melalui penemuan prasasti yang terdapat aksara Palawa di Kerajaan Kutai sebagai kerajaan Hindu pertama di Indonesia.

Bahkan, menurut Erik, dari aksara berupa simbol-simbol hingga menjadi aksara yang bisa dilafalkan secara verbal. “Hanacaraka termasuk aksara Jawa modern,” ujarnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Peringatan Hari Aksara Internasional pada 8 September lalu diperingati dengan beragam agenda. Mulai dari ulasan sejarah, lomba, hingga literasi budaya. Namun, tak sedikit yang menyinggung tentang buta aksara pada momen ini, khususnya di Jember.

Bagi Museum Huruf Jember, sejatinya masyarakat Jember tidak ada yang buta aksara. Melainkan buta huruf latin. Hal ini diungkapkan oleh Direktur Pelaksana Museum Huruf Erik Wijayanto. Dirinya menjelaskan, ada persepsi yang salah mengenai istilah aksara untuk pemakaian buta aksara.

Menurutnya, di Indonesia, bahkan di Jember, seharusnya tidak ada orang buta aksara. Sebab, sejarah aksara sangat panjang dan sudah ada ribuan tahun telah menjadi peradaban umat manusia. Begitu juga di Indonesia. Aksara diketahui masuk di Indonesia melalui penemuan prasasti yang terdapat aksara Palawa di Kerajaan Kutai sebagai kerajaan Hindu pertama di Indonesia.

Bahkan, menurut Erik, dari aksara berupa simbol-simbol hingga menjadi aksara yang bisa dilafalkan secara verbal. “Hanacaraka termasuk aksara Jawa modern,” ujarnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/