alexametrics
22.3 C
Jember
Friday, 19 August 2022

Butuh Skema Daur Ulang

Andalkan Pengolahan Konvensional

Mobile_AP_Rectangle 1

Namun, ada juga masyarakat yang sudah sadar pentingnya pengolahan sampah. Di beberapa tempat sebenarnya sudah ada upaya pengelolaan sampah mandiri yang diinisiasi masyarakat desa. Seperti yang dilakukan di Desa Balung Kulon, Kecamatan Balung.

Tempat yang baru sepekan kemarin diresmikan itu dinilai cukup efektif mengolah sampah. Mereka sudah memiliki alat pengolah sampah secara mandiri, yang didukung penuh oleh pemerintah desa, meskipun baru skala kecil untuk sekitar desa saja.

“Kita ingin menghidupkan spirit mengolah sampah lebih bijak. Dengan adanya TPA mandiri di desa kita ini, mungkin bisa jadi percontohan oleh desa-desa lain atau aktivis lingkungan,” ujar Kepala Desa Balung Kulon Samsul Hadi.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sementara itu, Ketua World Clean Day Internasional (WCDI) Wilayah Jember Parmuji sempat membeberkan poin penting kepada Jawa Pos Radar Jember. Menurut dia, di setiap daerah, sampah sudah memang jadi problem laten tak berkesudahan. Ada banyak faktor yang mempengaruhinya. Mulai dari kesadaran masyarakat, ketersediaan tempat atau alat pengolah sampah, hingga lemahnya regulasi.

Sebagai aktivis lingkungan, pemuda asal Panti itu mengakui butuh model pengolahan sampah lebih bijak, dari konvensional ke arah modern. Seperti yang sudah dilakukan di kota-kota besar. Salah satunya Malang yang sudah memiliki sistem pengolahan yang modern, atau di Surabaya yang TPA-nya disulap jadi taman. “Di Jember sebenarnya bisa. Tinggal sejauh mana kemauan itu diupayakan,” pungkasnya.

- Advertisement -

Namun, ada juga masyarakat yang sudah sadar pentingnya pengolahan sampah. Di beberapa tempat sebenarnya sudah ada upaya pengelolaan sampah mandiri yang diinisiasi masyarakat desa. Seperti yang dilakukan di Desa Balung Kulon, Kecamatan Balung.

Tempat yang baru sepekan kemarin diresmikan itu dinilai cukup efektif mengolah sampah. Mereka sudah memiliki alat pengolah sampah secara mandiri, yang didukung penuh oleh pemerintah desa, meskipun baru skala kecil untuk sekitar desa saja.

“Kita ingin menghidupkan spirit mengolah sampah lebih bijak. Dengan adanya TPA mandiri di desa kita ini, mungkin bisa jadi percontohan oleh desa-desa lain atau aktivis lingkungan,” ujar Kepala Desa Balung Kulon Samsul Hadi.

Sementara itu, Ketua World Clean Day Internasional (WCDI) Wilayah Jember Parmuji sempat membeberkan poin penting kepada Jawa Pos Radar Jember. Menurut dia, di setiap daerah, sampah sudah memang jadi problem laten tak berkesudahan. Ada banyak faktor yang mempengaruhinya. Mulai dari kesadaran masyarakat, ketersediaan tempat atau alat pengolah sampah, hingga lemahnya regulasi.

Sebagai aktivis lingkungan, pemuda asal Panti itu mengakui butuh model pengolahan sampah lebih bijak, dari konvensional ke arah modern. Seperti yang sudah dilakukan di kota-kota besar. Salah satunya Malang yang sudah memiliki sistem pengolahan yang modern, atau di Surabaya yang TPA-nya disulap jadi taman. “Di Jember sebenarnya bisa. Tinggal sejauh mana kemauan itu diupayakan,” pungkasnya.

Namun, ada juga masyarakat yang sudah sadar pentingnya pengolahan sampah. Di beberapa tempat sebenarnya sudah ada upaya pengelolaan sampah mandiri yang diinisiasi masyarakat desa. Seperti yang dilakukan di Desa Balung Kulon, Kecamatan Balung.

Tempat yang baru sepekan kemarin diresmikan itu dinilai cukup efektif mengolah sampah. Mereka sudah memiliki alat pengolah sampah secara mandiri, yang didukung penuh oleh pemerintah desa, meskipun baru skala kecil untuk sekitar desa saja.

“Kita ingin menghidupkan spirit mengolah sampah lebih bijak. Dengan adanya TPA mandiri di desa kita ini, mungkin bisa jadi percontohan oleh desa-desa lain atau aktivis lingkungan,” ujar Kepala Desa Balung Kulon Samsul Hadi.

Sementara itu, Ketua World Clean Day Internasional (WCDI) Wilayah Jember Parmuji sempat membeberkan poin penting kepada Jawa Pos Radar Jember. Menurut dia, di setiap daerah, sampah sudah memang jadi problem laten tak berkesudahan. Ada banyak faktor yang mempengaruhinya. Mulai dari kesadaran masyarakat, ketersediaan tempat atau alat pengolah sampah, hingga lemahnya regulasi.

Sebagai aktivis lingkungan, pemuda asal Panti itu mengakui butuh model pengolahan sampah lebih bijak, dari konvensional ke arah modern. Seperti yang sudah dilakukan di kota-kota besar. Salah satunya Malang yang sudah memiliki sistem pengolahan yang modern, atau di Surabaya yang TPA-nya disulap jadi taman. “Di Jember sebenarnya bisa. Tinggal sejauh mana kemauan itu diupayakan,” pungkasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/