alexametrics
24.4 C
Jember
Sunday, 3 July 2022

Butuh Skema Daur Ulang

Andalkan Pengolahan Konvensional

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Persoalan sampah seakan tiada habisnya. Tercecer ke sana kemari, dikumpulkan di tempat penampungan, lalu diambil kembali oleh pemulung sampah. Belum lagi sampah-sampah yang dibuang ke sembarang tempat seperti di pinggir jalan, sungai, dan lainnya.

Akibatnya, sampah tidak hanya berpotensi mencemari lingkungan, tapi juga merusak pemandangan. Banyak pihak menyayangkan, seiring berjalannya waktu, sampah seolah belum menjadi prioritas untuk dikelola lebih bijak.

Dosen Program Studi Sumber Daya Air dan Lingkungan Pascasarjana Universitas Jember Yenny Dhokhikoh menjelaskan, sebenarnya sampah masih dapat dikelola lebih optimal. Bahkan bisa mendatangkan keuntungan lebih dan pemasukan sebagai Pendapatan Asli Daerah (PAD). “Namun, yang jadi persoalan, pengolahan sampah sejauh ini belum mendapat porsi tepat. Sehingga cenderung berjalan seperti sebelum-sebelumnya,” ujarnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Menurutnya, pengolahan sampah yang berjalan secara dipungut, dikumpulkan, lalu ditimbun di satu tempat itu dinilai kurang efektif. Selain karena tidak ada upaya daur ulang, juga memicu pencemaran lingkungan. Lebih jauh, wanita yang juga mengajar di Jurusan Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Jember itu menilai, sulit jika hanya mengandalkan kesadaran masyarakat tanpa adanya campur tangan dari pihak ketiga, seperti masyarakat, aktivis lingkungan, atau perusahaan pengolah sampah.

Dirinya membeberkan, ada beberapa upaya yang bisa didorong dari lapisan masyarakat bawah. Seperti adanya bank sampah, fasilitas daur ulang, hingga penegasan melalui regulasi khusus pengelolaan sampah. “Sulit jika hanya menunggu kesadaran masyarakat untuk bijak mengolah sampah, jika tanpa ada regulasi yang dituangkan melalui perda, misalnya. Jadi, tidak bisa berjalan sendiri-sendiri, tapi pemerintah, masyarakat, atau pihak ketiga harus barengan,” ulasnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Persoalan sampah seakan tiada habisnya. Tercecer ke sana kemari, dikumpulkan di tempat penampungan, lalu diambil kembali oleh pemulung sampah. Belum lagi sampah-sampah yang dibuang ke sembarang tempat seperti di pinggir jalan, sungai, dan lainnya.

Akibatnya, sampah tidak hanya berpotensi mencemari lingkungan, tapi juga merusak pemandangan. Banyak pihak menyayangkan, seiring berjalannya waktu, sampah seolah belum menjadi prioritas untuk dikelola lebih bijak.

Dosen Program Studi Sumber Daya Air dan Lingkungan Pascasarjana Universitas Jember Yenny Dhokhikoh menjelaskan, sebenarnya sampah masih dapat dikelola lebih optimal. Bahkan bisa mendatangkan keuntungan lebih dan pemasukan sebagai Pendapatan Asli Daerah (PAD). “Namun, yang jadi persoalan, pengolahan sampah sejauh ini belum mendapat porsi tepat. Sehingga cenderung berjalan seperti sebelum-sebelumnya,” ujarnya.

Menurutnya, pengolahan sampah yang berjalan secara dipungut, dikumpulkan, lalu ditimbun di satu tempat itu dinilai kurang efektif. Selain karena tidak ada upaya daur ulang, juga memicu pencemaran lingkungan. Lebih jauh, wanita yang juga mengajar di Jurusan Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Jember itu menilai, sulit jika hanya mengandalkan kesadaran masyarakat tanpa adanya campur tangan dari pihak ketiga, seperti masyarakat, aktivis lingkungan, atau perusahaan pengolah sampah.

Dirinya membeberkan, ada beberapa upaya yang bisa didorong dari lapisan masyarakat bawah. Seperti adanya bank sampah, fasilitas daur ulang, hingga penegasan melalui regulasi khusus pengelolaan sampah. “Sulit jika hanya menunggu kesadaran masyarakat untuk bijak mengolah sampah, jika tanpa ada regulasi yang dituangkan melalui perda, misalnya. Jadi, tidak bisa berjalan sendiri-sendiri, tapi pemerintah, masyarakat, atau pihak ketiga harus barengan,” ulasnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Persoalan sampah seakan tiada habisnya. Tercecer ke sana kemari, dikumpulkan di tempat penampungan, lalu diambil kembali oleh pemulung sampah. Belum lagi sampah-sampah yang dibuang ke sembarang tempat seperti di pinggir jalan, sungai, dan lainnya.

Akibatnya, sampah tidak hanya berpotensi mencemari lingkungan, tapi juga merusak pemandangan. Banyak pihak menyayangkan, seiring berjalannya waktu, sampah seolah belum menjadi prioritas untuk dikelola lebih bijak.

Dosen Program Studi Sumber Daya Air dan Lingkungan Pascasarjana Universitas Jember Yenny Dhokhikoh menjelaskan, sebenarnya sampah masih dapat dikelola lebih optimal. Bahkan bisa mendatangkan keuntungan lebih dan pemasukan sebagai Pendapatan Asli Daerah (PAD). “Namun, yang jadi persoalan, pengolahan sampah sejauh ini belum mendapat porsi tepat. Sehingga cenderung berjalan seperti sebelum-sebelumnya,” ujarnya.

Menurutnya, pengolahan sampah yang berjalan secara dipungut, dikumpulkan, lalu ditimbun di satu tempat itu dinilai kurang efektif. Selain karena tidak ada upaya daur ulang, juga memicu pencemaran lingkungan. Lebih jauh, wanita yang juga mengajar di Jurusan Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Jember itu menilai, sulit jika hanya mengandalkan kesadaran masyarakat tanpa adanya campur tangan dari pihak ketiga, seperti masyarakat, aktivis lingkungan, atau perusahaan pengolah sampah.

Dirinya membeberkan, ada beberapa upaya yang bisa didorong dari lapisan masyarakat bawah. Seperti adanya bank sampah, fasilitas daur ulang, hingga penegasan melalui regulasi khusus pengelolaan sampah. “Sulit jika hanya menunggu kesadaran masyarakat untuk bijak mengolah sampah, jika tanpa ada regulasi yang dituangkan melalui perda, misalnya. Jadi, tidak bisa berjalan sendiri-sendiri, tapi pemerintah, masyarakat, atau pihak ketiga harus barengan,” ulasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/