alexametrics
29.5 C
Jember
Wednesday, 5 October 2022

Keselamatan Berkendara Masih Rendah

Mobile_AP_Rectangle 1

SUMBERSARI, Radar Jember – Kasus kecelakaan lalu lintas di jalan raya sampai saat ini masih jadi masalah yang tak kunjung selesai. Berbagai video kecelakaan sudah sering diunggah ke media sosial. Namun, tidak dijadikan pelajaran untuk pengguna jalan lain.

BACA JUGA : Masyarakat Diminta Tak Ragu Konsumsi Daging, PMK Tak Menular Pada Manusia

Misalnya, tabrakan beruntun di jalan tol, sudah jelas karena pengemudi yang tidak menjaga jarak aman. Tapi, kecelakaan yang serupa masih saja sering terjadi di jalan raya. Belum lagi kasus pengemudi yang mengebut di jalan raya dan tidak memasang sabuk pengaman, yang berefek ke fatalitas. Ironisnya, masih ada saja kejadian yang serupa terjadi lagi.

Mobile_AP_Rectangle 2

Menurut akademisi sosiologi, Zainul Fanani, dari UIN KHAS Jember, kesadaran keselamatan berkendara masih rendah. “Pengendara saat ini biasanya harus mengalami kecelakaan dahulu, baru berperilaku aman di jalanan,” ungkapnya.

Biasanya mereka belajar dan berpikir dua kali setelah mengalami kejadian nahas. Selama belum mengalami kecelakaan, maka mereka merasa mampu dan tak ada masalah. Artinya, terus-terusan menjemput bahaya.

Lebih lanjut, dia mengatakan, perilaku pengemudi yang tidak belajar dari kesalahan orang lain disebabkan ketidakpahaman tentang risiko kecelakaan. Jadi, bisa dibilang harus mengalami dahulu (kecelakaan), baru belajar.

“Selama ini potret kejadian kecelakaan yang mereka lihat kan hanya dianggap nahas, takdir, dan lain-lain. Mereka tidak tahu kalau ada cara atau usaha untuk meminimalisasi,” pungkasnya. (mg6/c2/bud)

- Advertisement -

SUMBERSARI, Radar Jember – Kasus kecelakaan lalu lintas di jalan raya sampai saat ini masih jadi masalah yang tak kunjung selesai. Berbagai video kecelakaan sudah sering diunggah ke media sosial. Namun, tidak dijadikan pelajaran untuk pengguna jalan lain.

BACA JUGA : Masyarakat Diminta Tak Ragu Konsumsi Daging, PMK Tak Menular Pada Manusia

Misalnya, tabrakan beruntun di jalan tol, sudah jelas karena pengemudi yang tidak menjaga jarak aman. Tapi, kecelakaan yang serupa masih saja sering terjadi di jalan raya. Belum lagi kasus pengemudi yang mengebut di jalan raya dan tidak memasang sabuk pengaman, yang berefek ke fatalitas. Ironisnya, masih ada saja kejadian yang serupa terjadi lagi.

Menurut akademisi sosiologi, Zainul Fanani, dari UIN KHAS Jember, kesadaran keselamatan berkendara masih rendah. “Pengendara saat ini biasanya harus mengalami kecelakaan dahulu, baru berperilaku aman di jalanan,” ungkapnya.

Biasanya mereka belajar dan berpikir dua kali setelah mengalami kejadian nahas. Selama belum mengalami kecelakaan, maka mereka merasa mampu dan tak ada masalah. Artinya, terus-terusan menjemput bahaya.

Lebih lanjut, dia mengatakan, perilaku pengemudi yang tidak belajar dari kesalahan orang lain disebabkan ketidakpahaman tentang risiko kecelakaan. Jadi, bisa dibilang harus mengalami dahulu (kecelakaan), baru belajar.

“Selama ini potret kejadian kecelakaan yang mereka lihat kan hanya dianggap nahas, takdir, dan lain-lain. Mereka tidak tahu kalau ada cara atau usaha untuk meminimalisasi,” pungkasnya. (mg6/c2/bud)

SUMBERSARI, Radar Jember – Kasus kecelakaan lalu lintas di jalan raya sampai saat ini masih jadi masalah yang tak kunjung selesai. Berbagai video kecelakaan sudah sering diunggah ke media sosial. Namun, tidak dijadikan pelajaran untuk pengguna jalan lain.

BACA JUGA : Masyarakat Diminta Tak Ragu Konsumsi Daging, PMK Tak Menular Pada Manusia

Misalnya, tabrakan beruntun di jalan tol, sudah jelas karena pengemudi yang tidak menjaga jarak aman. Tapi, kecelakaan yang serupa masih saja sering terjadi di jalan raya. Belum lagi kasus pengemudi yang mengebut di jalan raya dan tidak memasang sabuk pengaman, yang berefek ke fatalitas. Ironisnya, masih ada saja kejadian yang serupa terjadi lagi.

Menurut akademisi sosiologi, Zainul Fanani, dari UIN KHAS Jember, kesadaran keselamatan berkendara masih rendah. “Pengendara saat ini biasanya harus mengalami kecelakaan dahulu, baru berperilaku aman di jalanan,” ungkapnya.

Biasanya mereka belajar dan berpikir dua kali setelah mengalami kejadian nahas. Selama belum mengalami kecelakaan, maka mereka merasa mampu dan tak ada masalah. Artinya, terus-terusan menjemput bahaya.

Lebih lanjut, dia mengatakan, perilaku pengemudi yang tidak belajar dari kesalahan orang lain disebabkan ketidakpahaman tentang risiko kecelakaan. Jadi, bisa dibilang harus mengalami dahulu (kecelakaan), baru belajar.

“Selama ini potret kejadian kecelakaan yang mereka lihat kan hanya dianggap nahas, takdir, dan lain-lain. Mereka tidak tahu kalau ada cara atau usaha untuk meminimalisasi,” pungkasnya. (mg6/c2/bud)

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/