alexametrics
26.5 C
Jember
Sunday, 25 September 2022

Desa Mulyorejo dan Banyuanyar Berjabat Tangan Capai Kesepakatan Damai

Forkopimda Jember dan Banyuwangi Siap Jamin Keamanan

Mobile_AP_Rectangle 1

GARAHAN, Radar Jember – Pertemuan di Cafe Gumitir, kemarin (9/6), menjadi tanda baik untuk mengakhiri perseteruan sejumlah orang yang sempat membuat heboh Jember dan Banyuwangi. Perwakilan warga dari Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo, Jember, juga telah berjabat tangan dengan perwakilan warga dari Desa Banyuanyar, Kecamatan Kalibaru, Banyuwangi. Momen itu diharapkan menjadi awal perdamaian atas seluruh rentetan masalah panjang yang puncaknya terjadi pada akhir Juli lalu.

BERI PEMAHAMAN: Bupati Jember Hendy Siswanto bersama Forkopimda memberi penjelasan akan
pentingnya penyelesaian konflik.

Langkah penyelesaian konflik yang diminta Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa langsung ditindaklanjuti oleh Forkopimda Jember dan Banyuwangi. Pada pertemuan itu pun, sejumlah pejabat turut mengawal jalannya musyawarah. Ada Bupati Jember Hendy Siswanto, Sekda Banyuwangi Mujiono, TNI dan Polri, serta para tokoh juga hadir.

Dalam momen itu ada sejumlah poin (baca grafis) yang menjadi titik tekan untuk dijalankan bersama oleh semua orang, khususnya bagi warga Desa Mulyorejo dan Banyuanyar. Di antara poin penting tersebut yakni semua pihak wajib menjaga kondusivitas dan menyerahkan kasus hukum kepada pihak yang berwenang.

Mobile_AP_Rectangle 2

Menurut Bupati Hendy, untuk menyelesaikan masalah yang tengah terjadi harus dilalui bersama dengan semangat menuntaskan akar konfliknya. Baik soal perizinan penggunaan lahan maupun pada urusan premanismenya. “Problemnya bermacam-macam. Masalah lahan yang dikelola secara legalitasnya harus ada, premanisme juga harus dibuktikan,” paparnya.

Hendy menambahkan, status lahan di kawasan konflik perlu diselesaikan berdasar regulasi yang ada antara pihak pemkab dengan Perhutani. Ini menyangkut keamanan dan pemanfaatan lahan oleh petani di Desa Mulyorejo maupun Banyuanyar. Apabila wilayah tersebut dikelola Perhutani, Bupati Hendy meminta agar pendataan segera dilakukan. Disertai dengan nama dan alamat warga secara detail. Selanjutnya, urusan lahan dapat dilanjutkan dengan perjanjian kerja sama.

Selanjutnya, kasus premanisme yang disebut-sebut menjadi salah satu faktor pecahnya konflik juga diminta untuk diusut tuntas dan dibuktikan. Setelah itu, dilakukan proses secara benar sesuai dengan hukum yang berlaku. Hendy mengimbau agar masyarakat bisa lebih sabar dan mengikuti prosedur hukum yang sedang dijalankan Polres Jember.

Selain itu, Bupati Hendy mengimbau agar pengamanan di sekitar wilayah terus dilakukan. Dia memastikan aparat bergerak cepat dalam memberikan perlindungan dan keamanan. “Masyarakat Desa Mulyorejo maupun Banyuanyar tidak perlu khawatir, serahkan kepada pihak kepolisian dan TNI soal keamanan,” pintanya.

Pada kesempatan itu, kesepahaman antara perwakilan warga, para tokoh, serta forkopimda yang telah dibangun harus bisa berjalan dan menjadi pegangan semua pihak. “Siapa pun yang melanggar tentu ada proses yang berbeda tentang apa yang dipahami bersama,” tegasnya. Bupati Hendy juga meminta masyarakat memberikan informasi terkait sekecil apa pun demi menjaga keamanan dan ketertiban di tengah masyarakat. Masalah panjang yang sejatinya telah terjadi sejak tahun 2012 silam juga diharapkan tidak terjadi lagi.

Pada kesempatan yang sama, Sekda Banyuwangi Mujiono menjelaskan, konflik yang terjadi selama ini disebabkan adanya kesalahpahaman. Demi mengatasi masalah ini agar benar-benar tuntas, Pemkab Banyuwangi telah membentuk tim terpadu untuk menangani konflik sosial. Gejolak yang terjadi sangat diharapkan bisa tertangani dengan cepat dan tidak menelan korban.

Pihaknya berharap, setelah adanya pertemuan dan kesepahaman antara kedua pihak, insiden yang telah terjadi tidak terulang lagi di kemudian hari. “Kami harap semua bisa diselesaikan secara musyawarah untuk menghasilkan mufakat,” harap Mujiono.

Akses Segera Diperbaiki, Warga Syukuran

Sementara itu, Bupati Jember Hendy Siswanto menyadari akses menuju lokasi Desa Mulyorejo cukup berat. Ke depan, pihaknya akan segera merencanakan untuk memperbaiki jalan menuju desa tersebut. “Bila perlu diberikan pos polisi khusus untuk pemantauan. Selain itu, untuk mempermudah distribusi hasil panen petani,” tegasnya.

Salah satu warga dari Dusun Patungrejo, Desa Mulyorejo, Ahmad Zainuri, mengatakan, pihaknya sudah menyampaikan permintaan kepada pemerintah untuk memperbaiki akses menuju desa tersebut. “Kami butuh pertolongan dari pemerintah untuk memberikan penerangan kepada kami,” katanya.

Dia juga meminta keamanan agar diperketat, seperti penjagaan setiap hari. Sebab, warga setempat tidak mampu menjaga secara terus-menerus. Dari dulu pihaknya sudah terbiasa kehilangan kopi, pisang, dan hasil panen lainnya. “Kami juga memohon agar keamanan juga diberikan kepada kami,” pungkasnya. Di sisi lain, sejumlah warga di desa tersebut menggelar syukuran karena akses di sana mulai diperbaiki. (sil/c2/nur)

 

- Advertisement -

GARAHAN, Radar Jember – Pertemuan di Cafe Gumitir, kemarin (9/6), menjadi tanda baik untuk mengakhiri perseteruan sejumlah orang yang sempat membuat heboh Jember dan Banyuwangi. Perwakilan warga dari Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo, Jember, juga telah berjabat tangan dengan perwakilan warga dari Desa Banyuanyar, Kecamatan Kalibaru, Banyuwangi. Momen itu diharapkan menjadi awal perdamaian atas seluruh rentetan masalah panjang yang puncaknya terjadi pada akhir Juli lalu.

BERI PEMAHAMAN: Bupati Jember Hendy Siswanto bersama Forkopimda memberi penjelasan akan
pentingnya penyelesaian konflik.

Langkah penyelesaian konflik yang diminta Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa langsung ditindaklanjuti oleh Forkopimda Jember dan Banyuwangi. Pada pertemuan itu pun, sejumlah pejabat turut mengawal jalannya musyawarah. Ada Bupati Jember Hendy Siswanto, Sekda Banyuwangi Mujiono, TNI dan Polri, serta para tokoh juga hadir.

Dalam momen itu ada sejumlah poin (baca grafis) yang menjadi titik tekan untuk dijalankan bersama oleh semua orang, khususnya bagi warga Desa Mulyorejo dan Banyuanyar. Di antara poin penting tersebut yakni semua pihak wajib menjaga kondusivitas dan menyerahkan kasus hukum kepada pihak yang berwenang.

Menurut Bupati Hendy, untuk menyelesaikan masalah yang tengah terjadi harus dilalui bersama dengan semangat menuntaskan akar konfliknya. Baik soal perizinan penggunaan lahan maupun pada urusan premanismenya. “Problemnya bermacam-macam. Masalah lahan yang dikelola secara legalitasnya harus ada, premanisme juga harus dibuktikan,” paparnya.

Hendy menambahkan, status lahan di kawasan konflik perlu diselesaikan berdasar regulasi yang ada antara pihak pemkab dengan Perhutani. Ini menyangkut keamanan dan pemanfaatan lahan oleh petani di Desa Mulyorejo maupun Banyuanyar. Apabila wilayah tersebut dikelola Perhutani, Bupati Hendy meminta agar pendataan segera dilakukan. Disertai dengan nama dan alamat warga secara detail. Selanjutnya, urusan lahan dapat dilanjutkan dengan perjanjian kerja sama.

Selanjutnya, kasus premanisme yang disebut-sebut menjadi salah satu faktor pecahnya konflik juga diminta untuk diusut tuntas dan dibuktikan. Setelah itu, dilakukan proses secara benar sesuai dengan hukum yang berlaku. Hendy mengimbau agar masyarakat bisa lebih sabar dan mengikuti prosedur hukum yang sedang dijalankan Polres Jember.

Selain itu, Bupati Hendy mengimbau agar pengamanan di sekitar wilayah terus dilakukan. Dia memastikan aparat bergerak cepat dalam memberikan perlindungan dan keamanan. “Masyarakat Desa Mulyorejo maupun Banyuanyar tidak perlu khawatir, serahkan kepada pihak kepolisian dan TNI soal keamanan,” pintanya.

Pada kesempatan itu, kesepahaman antara perwakilan warga, para tokoh, serta forkopimda yang telah dibangun harus bisa berjalan dan menjadi pegangan semua pihak. “Siapa pun yang melanggar tentu ada proses yang berbeda tentang apa yang dipahami bersama,” tegasnya. Bupati Hendy juga meminta masyarakat memberikan informasi terkait sekecil apa pun demi menjaga keamanan dan ketertiban di tengah masyarakat. Masalah panjang yang sejatinya telah terjadi sejak tahun 2012 silam juga diharapkan tidak terjadi lagi.

Pada kesempatan yang sama, Sekda Banyuwangi Mujiono menjelaskan, konflik yang terjadi selama ini disebabkan adanya kesalahpahaman. Demi mengatasi masalah ini agar benar-benar tuntas, Pemkab Banyuwangi telah membentuk tim terpadu untuk menangani konflik sosial. Gejolak yang terjadi sangat diharapkan bisa tertangani dengan cepat dan tidak menelan korban.

Pihaknya berharap, setelah adanya pertemuan dan kesepahaman antara kedua pihak, insiden yang telah terjadi tidak terulang lagi di kemudian hari. “Kami harap semua bisa diselesaikan secara musyawarah untuk menghasilkan mufakat,” harap Mujiono.

Akses Segera Diperbaiki, Warga Syukuran

Sementara itu, Bupati Jember Hendy Siswanto menyadari akses menuju lokasi Desa Mulyorejo cukup berat. Ke depan, pihaknya akan segera merencanakan untuk memperbaiki jalan menuju desa tersebut. “Bila perlu diberikan pos polisi khusus untuk pemantauan. Selain itu, untuk mempermudah distribusi hasil panen petani,” tegasnya.

Salah satu warga dari Dusun Patungrejo, Desa Mulyorejo, Ahmad Zainuri, mengatakan, pihaknya sudah menyampaikan permintaan kepada pemerintah untuk memperbaiki akses menuju desa tersebut. “Kami butuh pertolongan dari pemerintah untuk memberikan penerangan kepada kami,” katanya.

Dia juga meminta keamanan agar diperketat, seperti penjagaan setiap hari. Sebab, warga setempat tidak mampu menjaga secara terus-menerus. Dari dulu pihaknya sudah terbiasa kehilangan kopi, pisang, dan hasil panen lainnya. “Kami juga memohon agar keamanan juga diberikan kepada kami,” pungkasnya. Di sisi lain, sejumlah warga di desa tersebut menggelar syukuran karena akses di sana mulai diperbaiki. (sil/c2/nur)

 

GARAHAN, Radar Jember – Pertemuan di Cafe Gumitir, kemarin (9/6), menjadi tanda baik untuk mengakhiri perseteruan sejumlah orang yang sempat membuat heboh Jember dan Banyuwangi. Perwakilan warga dari Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo, Jember, juga telah berjabat tangan dengan perwakilan warga dari Desa Banyuanyar, Kecamatan Kalibaru, Banyuwangi. Momen itu diharapkan menjadi awal perdamaian atas seluruh rentetan masalah panjang yang puncaknya terjadi pada akhir Juli lalu.

BERI PEMAHAMAN: Bupati Jember Hendy Siswanto bersama Forkopimda memberi penjelasan akan
pentingnya penyelesaian konflik.

Langkah penyelesaian konflik yang diminta Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa langsung ditindaklanjuti oleh Forkopimda Jember dan Banyuwangi. Pada pertemuan itu pun, sejumlah pejabat turut mengawal jalannya musyawarah. Ada Bupati Jember Hendy Siswanto, Sekda Banyuwangi Mujiono, TNI dan Polri, serta para tokoh juga hadir.

Dalam momen itu ada sejumlah poin (baca grafis) yang menjadi titik tekan untuk dijalankan bersama oleh semua orang, khususnya bagi warga Desa Mulyorejo dan Banyuanyar. Di antara poin penting tersebut yakni semua pihak wajib menjaga kondusivitas dan menyerahkan kasus hukum kepada pihak yang berwenang.

Menurut Bupati Hendy, untuk menyelesaikan masalah yang tengah terjadi harus dilalui bersama dengan semangat menuntaskan akar konfliknya. Baik soal perizinan penggunaan lahan maupun pada urusan premanismenya. “Problemnya bermacam-macam. Masalah lahan yang dikelola secara legalitasnya harus ada, premanisme juga harus dibuktikan,” paparnya.

Hendy menambahkan, status lahan di kawasan konflik perlu diselesaikan berdasar regulasi yang ada antara pihak pemkab dengan Perhutani. Ini menyangkut keamanan dan pemanfaatan lahan oleh petani di Desa Mulyorejo maupun Banyuanyar. Apabila wilayah tersebut dikelola Perhutani, Bupati Hendy meminta agar pendataan segera dilakukan. Disertai dengan nama dan alamat warga secara detail. Selanjutnya, urusan lahan dapat dilanjutkan dengan perjanjian kerja sama.

Selanjutnya, kasus premanisme yang disebut-sebut menjadi salah satu faktor pecahnya konflik juga diminta untuk diusut tuntas dan dibuktikan. Setelah itu, dilakukan proses secara benar sesuai dengan hukum yang berlaku. Hendy mengimbau agar masyarakat bisa lebih sabar dan mengikuti prosedur hukum yang sedang dijalankan Polres Jember.

Selain itu, Bupati Hendy mengimbau agar pengamanan di sekitar wilayah terus dilakukan. Dia memastikan aparat bergerak cepat dalam memberikan perlindungan dan keamanan. “Masyarakat Desa Mulyorejo maupun Banyuanyar tidak perlu khawatir, serahkan kepada pihak kepolisian dan TNI soal keamanan,” pintanya.

Pada kesempatan itu, kesepahaman antara perwakilan warga, para tokoh, serta forkopimda yang telah dibangun harus bisa berjalan dan menjadi pegangan semua pihak. “Siapa pun yang melanggar tentu ada proses yang berbeda tentang apa yang dipahami bersama,” tegasnya. Bupati Hendy juga meminta masyarakat memberikan informasi terkait sekecil apa pun demi menjaga keamanan dan ketertiban di tengah masyarakat. Masalah panjang yang sejatinya telah terjadi sejak tahun 2012 silam juga diharapkan tidak terjadi lagi.

Pada kesempatan yang sama, Sekda Banyuwangi Mujiono menjelaskan, konflik yang terjadi selama ini disebabkan adanya kesalahpahaman. Demi mengatasi masalah ini agar benar-benar tuntas, Pemkab Banyuwangi telah membentuk tim terpadu untuk menangani konflik sosial. Gejolak yang terjadi sangat diharapkan bisa tertangani dengan cepat dan tidak menelan korban.

Pihaknya berharap, setelah adanya pertemuan dan kesepahaman antara kedua pihak, insiden yang telah terjadi tidak terulang lagi di kemudian hari. “Kami harap semua bisa diselesaikan secara musyawarah untuk menghasilkan mufakat,” harap Mujiono.

Akses Segera Diperbaiki, Warga Syukuran

Sementara itu, Bupati Jember Hendy Siswanto menyadari akses menuju lokasi Desa Mulyorejo cukup berat. Ke depan, pihaknya akan segera merencanakan untuk memperbaiki jalan menuju desa tersebut. “Bila perlu diberikan pos polisi khusus untuk pemantauan. Selain itu, untuk mempermudah distribusi hasil panen petani,” tegasnya.

Salah satu warga dari Dusun Patungrejo, Desa Mulyorejo, Ahmad Zainuri, mengatakan, pihaknya sudah menyampaikan permintaan kepada pemerintah untuk memperbaiki akses menuju desa tersebut. “Kami butuh pertolongan dari pemerintah untuk memberikan penerangan kepada kami,” katanya.

Dia juga meminta keamanan agar diperketat, seperti penjagaan setiap hari. Sebab, warga setempat tidak mampu menjaga secara terus-menerus. Dari dulu pihaknya sudah terbiasa kehilangan kopi, pisang, dan hasil panen lainnya. “Kami juga memohon agar keamanan juga diberikan kepada kami,” pungkasnya. Di sisi lain, sejumlah warga di desa tersebut menggelar syukuran karena akses di sana mulai diperbaiki. (sil/c2/nur)

 

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/