alexametrics
24.9 C
Jember
Friday, 20 May 2022

Awalnya Coba-Coba, Kini Bisa Pasok hingga Afrika

Mengetahui pupuk menjadi kebutuhan dasar petani, tidak disia-siakan oleh Ahmad Mursid. Petani asal Desa Karangharjo, Kecamatan Silo, itu membuat pupuk secara mandiri dari bahan baku yang sangat sederhana. Namun demikian, produk pupuknya bisa laris manis hingga ke mancanegara.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Di rumahnya yang sederhana di Desa Karangharjo, Kecamatan Silo, Mursid biasanya meracik sendiri ramuan pupuk yang dia kreasikan. Dia tak memiliki karyawan tetap. Tapi jika ada orderan dalam skala besar, Mursid tak segan-segan mengajak rekan dan tetangganya untuk membantu menyiapkannya.

Tumpukan botol berukuran sedang juga biasa terlihat dan tertata rapi di etalase rumah Ahmad Mursid. “Ini yang bisa dibeli petani setiap saat. Tapi kalau ada orderan dalam skala besar, saya siapkan dengan meminta bantuan temen-temen sekitar rumah,” kata Mursid.

Meskipun hanya alumni pesantren, kreativitas ayah lima anak itu layak diapresiasi. Di tengah kondisi kelangkaan pupuk saat ini, dia berhasil menciptakan produk olahan pupuk mandiri.

Mobile_AP_Rectangle 2

Kisah itu berawal pada 2006 silam. Saat itu, Mursid kerap melihat sekawanan petani di desanya kerap kesulitan mendapat pupuk. Kali itu, kelangkaan pupuk sama parahnya dengan saat ini.

Rupanya kegelisahan itu memancing dirinya coba-coba mengkreasikan pupuk kandang untuk menjawab kelangkaan pupuk tersebut. “Dulu awal nyoba dengan pupuk kandang. Saya campur dengan olahan ini itu,” katanya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Temuannya awalnya itu tidak langsung berjalan mulus. Namun, Mursid tak lantas menyerah. Dia beralih dengan percobaan lain. Dirinya mulai menggabungkan bahan-bahan yang biasa ditemui sehari-hari untuk mulai dicampurkan ke pupuk temuannya. Seperti kurma, madu, telur, tepung kerang, dan tepung ikan. “Pupuk kandang itu mulai saya tinggalkan. Setelah 2006, berlanjut pada 2010 hingga 2016 lalu saya lanjutkan coba-coba itu,” ungkapnya.

Sejak awal percobaan, Mursid selalu mengujikan hasil olahannya itu pada tanamannya sendiri. Puncaknya pada akhir 2016, Universitas 17 Agustus Banyuwangi melirik uji coba yang dikembangkan Mursid. Temuan itu pun diusulkan oleh Untag Banyuwangi guna mendapat pengujian laboratorium dan reward dari Kemenpan pada awal 2017 lalu. Hasilnya cukup menggembirakan.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Di rumahnya yang sederhana di Desa Karangharjo, Kecamatan Silo, Mursid biasanya meracik sendiri ramuan pupuk yang dia kreasikan. Dia tak memiliki karyawan tetap. Tapi jika ada orderan dalam skala besar, Mursid tak segan-segan mengajak rekan dan tetangganya untuk membantu menyiapkannya.

Tumpukan botol berukuran sedang juga biasa terlihat dan tertata rapi di etalase rumah Ahmad Mursid. “Ini yang bisa dibeli petani setiap saat. Tapi kalau ada orderan dalam skala besar, saya siapkan dengan meminta bantuan temen-temen sekitar rumah,” kata Mursid.

Meskipun hanya alumni pesantren, kreativitas ayah lima anak itu layak diapresiasi. Di tengah kondisi kelangkaan pupuk saat ini, dia berhasil menciptakan produk olahan pupuk mandiri.

Kisah itu berawal pada 2006 silam. Saat itu, Mursid kerap melihat sekawanan petani di desanya kerap kesulitan mendapat pupuk. Kali itu, kelangkaan pupuk sama parahnya dengan saat ini.

Rupanya kegelisahan itu memancing dirinya coba-coba mengkreasikan pupuk kandang untuk menjawab kelangkaan pupuk tersebut. “Dulu awal nyoba dengan pupuk kandang. Saya campur dengan olahan ini itu,” katanya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Temuannya awalnya itu tidak langsung berjalan mulus. Namun, Mursid tak lantas menyerah. Dia beralih dengan percobaan lain. Dirinya mulai menggabungkan bahan-bahan yang biasa ditemui sehari-hari untuk mulai dicampurkan ke pupuk temuannya. Seperti kurma, madu, telur, tepung kerang, dan tepung ikan. “Pupuk kandang itu mulai saya tinggalkan. Setelah 2006, berlanjut pada 2010 hingga 2016 lalu saya lanjutkan coba-coba itu,” ungkapnya.

Sejak awal percobaan, Mursid selalu mengujikan hasil olahannya itu pada tanamannya sendiri. Puncaknya pada akhir 2016, Universitas 17 Agustus Banyuwangi melirik uji coba yang dikembangkan Mursid. Temuan itu pun diusulkan oleh Untag Banyuwangi guna mendapat pengujian laboratorium dan reward dari Kemenpan pada awal 2017 lalu. Hasilnya cukup menggembirakan.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Di rumahnya yang sederhana di Desa Karangharjo, Kecamatan Silo, Mursid biasanya meracik sendiri ramuan pupuk yang dia kreasikan. Dia tak memiliki karyawan tetap. Tapi jika ada orderan dalam skala besar, Mursid tak segan-segan mengajak rekan dan tetangganya untuk membantu menyiapkannya.

Tumpukan botol berukuran sedang juga biasa terlihat dan tertata rapi di etalase rumah Ahmad Mursid. “Ini yang bisa dibeli petani setiap saat. Tapi kalau ada orderan dalam skala besar, saya siapkan dengan meminta bantuan temen-temen sekitar rumah,” kata Mursid.

Meskipun hanya alumni pesantren, kreativitas ayah lima anak itu layak diapresiasi. Di tengah kondisi kelangkaan pupuk saat ini, dia berhasil menciptakan produk olahan pupuk mandiri.

Kisah itu berawal pada 2006 silam. Saat itu, Mursid kerap melihat sekawanan petani di desanya kerap kesulitan mendapat pupuk. Kali itu, kelangkaan pupuk sama parahnya dengan saat ini.

Rupanya kegelisahan itu memancing dirinya coba-coba mengkreasikan pupuk kandang untuk menjawab kelangkaan pupuk tersebut. “Dulu awal nyoba dengan pupuk kandang. Saya campur dengan olahan ini itu,” katanya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Temuannya awalnya itu tidak langsung berjalan mulus. Namun, Mursid tak lantas menyerah. Dia beralih dengan percobaan lain. Dirinya mulai menggabungkan bahan-bahan yang biasa ditemui sehari-hari untuk mulai dicampurkan ke pupuk temuannya. Seperti kurma, madu, telur, tepung kerang, dan tepung ikan. “Pupuk kandang itu mulai saya tinggalkan. Setelah 2006, berlanjut pada 2010 hingga 2016 lalu saya lanjutkan coba-coba itu,” ungkapnya.

Sejak awal percobaan, Mursid selalu mengujikan hasil olahannya itu pada tanamannya sendiri. Puncaknya pada akhir 2016, Universitas 17 Agustus Banyuwangi melirik uji coba yang dikembangkan Mursid. Temuan itu pun diusulkan oleh Untag Banyuwangi guna mendapat pengujian laboratorium dan reward dari Kemenpan pada awal 2017 lalu. Hasilnya cukup menggembirakan.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/