alexametrics
26.5 C
Jember
Thursday, 11 August 2022

Bernilai Ekonomi, Juga Konservasi

Sektor Daur Ulang Sampah Perlu Perhatian Khusus

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sampah dan limbah rumah tangga bisa menjadi nilai tambah jika tergarap dengan baik. Hanya saja, sektor pengolahan sampah dengan konsep daur ulang di Jember masih belum tergarap serius. Ini bisa dilihat dari minimnya kontribusi terhadap perekonomian. Bahkan, angka dari tahun ke tahun, sektor pengolahan limbah tergolong stagnan. Padahal, sektor ini tak hanya bernilai ekonomi, tapi juga konservasi.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jember Arif Joko Sutejo menjelaskan, sebenarnya laju pertumbuhan perekonomian di Jember dari tahun ke tahun menunjukkan kenaikan. Berdasarkan harga konstan 2010, angka pendapatan domestik regional bruto (PDRB) juga mengalami kenaikan. Dari Rp 44 juta lebih pada tahun 2015 menjadi Rp 54 juta lebih pada tahun 2019.

“Hal ini menunjukkan, selama tahun 2019 Kabupaten Jember mengalami pertumbuhan ekonomi sekitar 5,31 persen. Meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 5,23 persen,” ucapnya, saat melakukan publikasi PDRB Jember menurut lapangan usaha. Kenaikan PDRB ini, kata dia, murni disebabkan oleh meningkatnya produksi di seluruh lapangan usaha tidak dipengaruhi inflasi.

Mobile_AP_Rectangle 2

PDRB menurut lapangan usaha juga diperinci ke dalam 17 kategori. Tertinggi tetap didominasi oleh sektor pertanian, perikanan, perkebunan, dan kehutanan sebesar 26,39 persen. Berikutnya, industri pengolahan 20,46 persen. Sedangkan yang terendah adalah pengadaan listrik dan gas 0,05 persen. Disusul pengadaan air, pengolahan sampah, limbah, dan daur ulang 0,07 persen yang menempati peringkat kedua terendah PDRB.

Sektor pengadaan air, pengolahan sampah, limbah, dan daur ulang adalah kategori yang mencakup kegiatan ekonomi yang berhubungan dengan pengelolaan berbagai bentuk limbah. Seperti limbah padat atau bukan, baik rumah tangga maupun industri yang dapat mencemari lingkungan.

Menurutnya, peranan kategori ini terhadap perekonomian Jember selama 2019 relatif kecil, hanya Rp 51 juta atau sebesar 0,07 persen. Dengan pertumbuhan yang relatif tidak berubah tersebut, bisa dikatakan sektor ini stagnan jika dibandingkan tahun sebelumnya.

Menggapai hal ini, Ketua Mahapena Fakultas Ekonomi Universitas Jember Ahmad Munandar mengatakan, sampah dan limbah akan terus berdampingan sepanjang ada kehidupan manusia. “Setiap manusia itu menghasilkan limbah juga menghasilkan sampah. Itu tidak bisa dihapuskan dan selalu ada,” ujarnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sampah dan limbah rumah tangga bisa menjadi nilai tambah jika tergarap dengan baik. Hanya saja, sektor pengolahan sampah dengan konsep daur ulang di Jember masih belum tergarap serius. Ini bisa dilihat dari minimnya kontribusi terhadap perekonomian. Bahkan, angka dari tahun ke tahun, sektor pengolahan limbah tergolong stagnan. Padahal, sektor ini tak hanya bernilai ekonomi, tapi juga konservasi.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jember Arif Joko Sutejo menjelaskan, sebenarnya laju pertumbuhan perekonomian di Jember dari tahun ke tahun menunjukkan kenaikan. Berdasarkan harga konstan 2010, angka pendapatan domestik regional bruto (PDRB) juga mengalami kenaikan. Dari Rp 44 juta lebih pada tahun 2015 menjadi Rp 54 juta lebih pada tahun 2019.

“Hal ini menunjukkan, selama tahun 2019 Kabupaten Jember mengalami pertumbuhan ekonomi sekitar 5,31 persen. Meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 5,23 persen,” ucapnya, saat melakukan publikasi PDRB Jember menurut lapangan usaha. Kenaikan PDRB ini, kata dia, murni disebabkan oleh meningkatnya produksi di seluruh lapangan usaha tidak dipengaruhi inflasi.

PDRB menurut lapangan usaha juga diperinci ke dalam 17 kategori. Tertinggi tetap didominasi oleh sektor pertanian, perikanan, perkebunan, dan kehutanan sebesar 26,39 persen. Berikutnya, industri pengolahan 20,46 persen. Sedangkan yang terendah adalah pengadaan listrik dan gas 0,05 persen. Disusul pengadaan air, pengolahan sampah, limbah, dan daur ulang 0,07 persen yang menempati peringkat kedua terendah PDRB.

Sektor pengadaan air, pengolahan sampah, limbah, dan daur ulang adalah kategori yang mencakup kegiatan ekonomi yang berhubungan dengan pengelolaan berbagai bentuk limbah. Seperti limbah padat atau bukan, baik rumah tangga maupun industri yang dapat mencemari lingkungan.

Menurutnya, peranan kategori ini terhadap perekonomian Jember selama 2019 relatif kecil, hanya Rp 51 juta atau sebesar 0,07 persen. Dengan pertumbuhan yang relatif tidak berubah tersebut, bisa dikatakan sektor ini stagnan jika dibandingkan tahun sebelumnya.

Menggapai hal ini, Ketua Mahapena Fakultas Ekonomi Universitas Jember Ahmad Munandar mengatakan, sampah dan limbah akan terus berdampingan sepanjang ada kehidupan manusia. “Setiap manusia itu menghasilkan limbah juga menghasilkan sampah. Itu tidak bisa dihapuskan dan selalu ada,” ujarnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sampah dan limbah rumah tangga bisa menjadi nilai tambah jika tergarap dengan baik. Hanya saja, sektor pengolahan sampah dengan konsep daur ulang di Jember masih belum tergarap serius. Ini bisa dilihat dari minimnya kontribusi terhadap perekonomian. Bahkan, angka dari tahun ke tahun, sektor pengolahan limbah tergolong stagnan. Padahal, sektor ini tak hanya bernilai ekonomi, tapi juga konservasi.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jember Arif Joko Sutejo menjelaskan, sebenarnya laju pertumbuhan perekonomian di Jember dari tahun ke tahun menunjukkan kenaikan. Berdasarkan harga konstan 2010, angka pendapatan domestik regional bruto (PDRB) juga mengalami kenaikan. Dari Rp 44 juta lebih pada tahun 2015 menjadi Rp 54 juta lebih pada tahun 2019.

“Hal ini menunjukkan, selama tahun 2019 Kabupaten Jember mengalami pertumbuhan ekonomi sekitar 5,31 persen. Meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 5,23 persen,” ucapnya, saat melakukan publikasi PDRB Jember menurut lapangan usaha. Kenaikan PDRB ini, kata dia, murni disebabkan oleh meningkatnya produksi di seluruh lapangan usaha tidak dipengaruhi inflasi.

PDRB menurut lapangan usaha juga diperinci ke dalam 17 kategori. Tertinggi tetap didominasi oleh sektor pertanian, perikanan, perkebunan, dan kehutanan sebesar 26,39 persen. Berikutnya, industri pengolahan 20,46 persen. Sedangkan yang terendah adalah pengadaan listrik dan gas 0,05 persen. Disusul pengadaan air, pengolahan sampah, limbah, dan daur ulang 0,07 persen yang menempati peringkat kedua terendah PDRB.

Sektor pengadaan air, pengolahan sampah, limbah, dan daur ulang adalah kategori yang mencakup kegiatan ekonomi yang berhubungan dengan pengelolaan berbagai bentuk limbah. Seperti limbah padat atau bukan, baik rumah tangga maupun industri yang dapat mencemari lingkungan.

Menurutnya, peranan kategori ini terhadap perekonomian Jember selama 2019 relatif kecil, hanya Rp 51 juta atau sebesar 0,07 persen. Dengan pertumbuhan yang relatif tidak berubah tersebut, bisa dikatakan sektor ini stagnan jika dibandingkan tahun sebelumnya.

Menggapai hal ini, Ketua Mahapena Fakultas Ekonomi Universitas Jember Ahmad Munandar mengatakan, sampah dan limbah akan terus berdampingan sepanjang ada kehidupan manusia. “Setiap manusia itu menghasilkan limbah juga menghasilkan sampah. Itu tidak bisa dihapuskan dan selalu ada,” ujarnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/