alexametrics
23.1 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

Berpotensi Lolos Lewat Jalur Tikus

Mobile_AP_Rectangle 1

Ia menjelaskan, pos pengamanan itu hanya diperuntukkan memantau aktivitas warga, sekaligus pelayanan masyarakat. “Pos pencegatan itu untuk menghalau pemudik dari kabupaten perbatasan atau tetangga dan arah sebaliknya,” bebernya, saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Jember, kemarin.

Ia menambahkan, personel yang disiagakan juga bakal bertugas selama kurang lebih 12 hari. Terhitung sejak 6 Mei hingga 17 Mei. Saat disinggung mengenai upaya penyekatan terhadap jalur-jalur tikus, Agus mengaku, pihaknya tetap fokus ke pos yang telah ditentukan saja. Kendati begitu, ia mengimbau agar masyarakat mematuhi aturan yang ditetapkan pemerintah.

Terpisah, Kapolres Jember AKBP Arif Rachman mengatakan, kebijakan pemerintah pusat untuk melarang mudik tahun ini dirasa tepat. Selain menerjunkan personel ke sejumlah titik penyekatan, pihaknya juga mengaku telah mengupayakan hal serupa. Melakukan pembatasan hingga kecamatan sampai desa. “Kami meminta para RT-RW dibantu babinsa dan bhabinkamtibmas untuk melakukan pembatasan aktivitas masyarakat dan memantau penerapan prokes,” jelasnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Senada dengan kapolres, menurut Komandan Kodim 0824 Jember Letkol Inf La Ode Muhammmad Nurdin, tren mudik yang memicu angka kenaikan penyebaran Covid-19, maka kebijakan pemerintah dilakukan dengan pembatasan aktivitas mudik. Upaya penerapan kebijakan itu adalah dengan mengoptimalkan unsur lapisan masyarakat tingkat desa atau dusun. “Kami bersinergi dengan pemerintah daerah dan polres untuk mengingatkan warga di wilayahnya masing-masing agar sigap saat ada warga yang mau mudik,” bebernya.

Dengan langkah seperti itu, kata dia, warga bisa terpantau. Selain itu, keberadaan desa yang sudah tersedia PPKM itu dirasa bakal lebih efektif. “Selain itu, kami tetap patroli. Dan woro-woro untuk memberikan imbauan ke warga,” pungkasnya.

 

 

Jurnalis : Winardyasto, Jumai, Maulana
Fotografer : Winardyasto
Redaktur : Mahrus Sholih

- Advertisement -

Ia menjelaskan, pos pengamanan itu hanya diperuntukkan memantau aktivitas warga, sekaligus pelayanan masyarakat. “Pos pencegatan itu untuk menghalau pemudik dari kabupaten perbatasan atau tetangga dan arah sebaliknya,” bebernya, saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Jember, kemarin.

Ia menambahkan, personel yang disiagakan juga bakal bertugas selama kurang lebih 12 hari. Terhitung sejak 6 Mei hingga 17 Mei. Saat disinggung mengenai upaya penyekatan terhadap jalur-jalur tikus, Agus mengaku, pihaknya tetap fokus ke pos yang telah ditentukan saja. Kendati begitu, ia mengimbau agar masyarakat mematuhi aturan yang ditetapkan pemerintah.

Terpisah, Kapolres Jember AKBP Arif Rachman mengatakan, kebijakan pemerintah pusat untuk melarang mudik tahun ini dirasa tepat. Selain menerjunkan personel ke sejumlah titik penyekatan, pihaknya juga mengaku telah mengupayakan hal serupa. Melakukan pembatasan hingga kecamatan sampai desa. “Kami meminta para RT-RW dibantu babinsa dan bhabinkamtibmas untuk melakukan pembatasan aktivitas masyarakat dan memantau penerapan prokes,” jelasnya.

Senada dengan kapolres, menurut Komandan Kodim 0824 Jember Letkol Inf La Ode Muhammmad Nurdin, tren mudik yang memicu angka kenaikan penyebaran Covid-19, maka kebijakan pemerintah dilakukan dengan pembatasan aktivitas mudik. Upaya penerapan kebijakan itu adalah dengan mengoptimalkan unsur lapisan masyarakat tingkat desa atau dusun. “Kami bersinergi dengan pemerintah daerah dan polres untuk mengingatkan warga di wilayahnya masing-masing agar sigap saat ada warga yang mau mudik,” bebernya.

Dengan langkah seperti itu, kata dia, warga bisa terpantau. Selain itu, keberadaan desa yang sudah tersedia PPKM itu dirasa bakal lebih efektif. “Selain itu, kami tetap patroli. Dan woro-woro untuk memberikan imbauan ke warga,” pungkasnya.

 

 

Jurnalis : Winardyasto, Jumai, Maulana
Fotografer : Winardyasto
Redaktur : Mahrus Sholih

Ia menjelaskan, pos pengamanan itu hanya diperuntukkan memantau aktivitas warga, sekaligus pelayanan masyarakat. “Pos pencegatan itu untuk menghalau pemudik dari kabupaten perbatasan atau tetangga dan arah sebaliknya,” bebernya, saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Jember, kemarin.

Ia menambahkan, personel yang disiagakan juga bakal bertugas selama kurang lebih 12 hari. Terhitung sejak 6 Mei hingga 17 Mei. Saat disinggung mengenai upaya penyekatan terhadap jalur-jalur tikus, Agus mengaku, pihaknya tetap fokus ke pos yang telah ditentukan saja. Kendati begitu, ia mengimbau agar masyarakat mematuhi aturan yang ditetapkan pemerintah.

Terpisah, Kapolres Jember AKBP Arif Rachman mengatakan, kebijakan pemerintah pusat untuk melarang mudik tahun ini dirasa tepat. Selain menerjunkan personel ke sejumlah titik penyekatan, pihaknya juga mengaku telah mengupayakan hal serupa. Melakukan pembatasan hingga kecamatan sampai desa. “Kami meminta para RT-RW dibantu babinsa dan bhabinkamtibmas untuk melakukan pembatasan aktivitas masyarakat dan memantau penerapan prokes,” jelasnya.

Senada dengan kapolres, menurut Komandan Kodim 0824 Jember Letkol Inf La Ode Muhammmad Nurdin, tren mudik yang memicu angka kenaikan penyebaran Covid-19, maka kebijakan pemerintah dilakukan dengan pembatasan aktivitas mudik. Upaya penerapan kebijakan itu adalah dengan mengoptimalkan unsur lapisan masyarakat tingkat desa atau dusun. “Kami bersinergi dengan pemerintah daerah dan polres untuk mengingatkan warga di wilayahnya masing-masing agar sigap saat ada warga yang mau mudik,” bebernya.

Dengan langkah seperti itu, kata dia, warga bisa terpantau. Selain itu, keberadaan desa yang sudah tersedia PPKM itu dirasa bakal lebih efektif. “Selain itu, kami tetap patroli. Dan woro-woro untuk memberikan imbauan ke warga,” pungkasnya.

 

 

Jurnalis : Winardyasto, Jumai, Maulana
Fotografer : Winardyasto
Redaktur : Mahrus Sholih

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/