alexametrics
32 C
Jember
Saturday, 28 May 2022

Masjid Jami’ Al-Baitul Amien Desainnya Berbeda dari Masjid di Dunia

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Di balik kemewahan Masjid Jami’ Al-Baitul Amien Jember, ternyata menyimpan riwayat, filosofi, dan keunikan arsitekturnya tersendiri. Hal itu pula yang menjadikan masjid di Jantung Kota Jember ini begitu ikonik dengan masjid kebanyakan.

Masjid keong, begitulah banyak orang menyebut Masjid Jami’ Al-Baitul Amien. Hal itu karena desain arsitektur berbentuk setengah lingkaran, mulai dari tepi bangunan hingga ke bagian atap. Bahkan, melihat masjid ikonik di Jember tersebut bentuknya mirip Gedung DPR MPR RI yang sama-sama berbentuk setengah lingkaran.

“Bentuk masjidnya seperti keong, mirip dengan Gedung DPR MPR RI di Jakarta,” terang Aji Masaji. Pria asal Medan, saat pertama kali menginjakan kaki di Alun-alun Jember 2013 lalu, sempat mengira Masjid Jami’ Al-Baitul Amien adalah Gedung DPRD Jember. “Soalnya bentuknya mirip Gedung DPR MPR RI di Jakarta. Orang luar kota datang ke Alun-alun Jember.

Mobile_AP_Rectangle 2

Ketua Yayasan Masjid Jami’ Al-Baitul Amien, Muhammad Hasi’ien mengatakan, pembangunan masjid tersebut sesuai dengan permintaan Bupati Jember Abdul Hadi waktu itu dan meminta kepada kontraktor untuk membuat masjid yang berbeda di dunia. Namun untuk desainya bukan, sesuai keinginan bupati pada waktu itu, namun dibuat sayembara. “Dilakukanlah sayembara dengan menemukan 13 desain bangunan masjid,” ungkapnya.

Tiga belas desain sayembara tersebut, dipamerkan pada saat hari angkatan bersenjata atau sekarang disebut HUT TNI. “Waktu itu ada semacam polling. 13 desain itu dipamerkan dan dipilih oleh masyarakat yang hadir,” katanya.

Masyarakat, banyak memilih desain masjid berbentuk setengah setengah lingkaran. “Ketika polling itu selesai, kemudian dipilih bentuk masjid ini (setengah lingkaran, red) dan justru kontraktornya orang non muslim dari Surabaya,” ungkapnya.

Filosofi dari bangunan masjid ini, lanjutnya, dengan bentuk bulat yaitu menggambarkan meluasnya kebutuhan seluruh umat manusia tanpa dibatasi dengan sudut-sudut tertentu yang akhirnya diaplikasikan pada bentuk kubah masjid. Kemudian jumlah kubah, yakni sebanyak tujuh kubah ternyata menyimpan filosofinya sendiri. “Angka tujuh merupakan simbol dari kemantapan,” terangnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Di balik kemewahan Masjid Jami’ Al-Baitul Amien Jember, ternyata menyimpan riwayat, filosofi, dan keunikan arsitekturnya tersendiri. Hal itu pula yang menjadikan masjid di Jantung Kota Jember ini begitu ikonik dengan masjid kebanyakan.

Masjid keong, begitulah banyak orang menyebut Masjid Jami’ Al-Baitul Amien. Hal itu karena desain arsitektur berbentuk setengah lingkaran, mulai dari tepi bangunan hingga ke bagian atap. Bahkan, melihat masjid ikonik di Jember tersebut bentuknya mirip Gedung DPR MPR RI yang sama-sama berbentuk setengah lingkaran.

“Bentuk masjidnya seperti keong, mirip dengan Gedung DPR MPR RI di Jakarta,” terang Aji Masaji. Pria asal Medan, saat pertama kali menginjakan kaki di Alun-alun Jember 2013 lalu, sempat mengira Masjid Jami’ Al-Baitul Amien adalah Gedung DPRD Jember. “Soalnya bentuknya mirip Gedung DPR MPR RI di Jakarta. Orang luar kota datang ke Alun-alun Jember.

Ketua Yayasan Masjid Jami’ Al-Baitul Amien, Muhammad Hasi’ien mengatakan, pembangunan masjid tersebut sesuai dengan permintaan Bupati Jember Abdul Hadi waktu itu dan meminta kepada kontraktor untuk membuat masjid yang berbeda di dunia. Namun untuk desainya bukan, sesuai keinginan bupati pada waktu itu, namun dibuat sayembara. “Dilakukanlah sayembara dengan menemukan 13 desain bangunan masjid,” ungkapnya.

Tiga belas desain sayembara tersebut, dipamerkan pada saat hari angkatan bersenjata atau sekarang disebut HUT TNI. “Waktu itu ada semacam polling. 13 desain itu dipamerkan dan dipilih oleh masyarakat yang hadir,” katanya.

Masyarakat, banyak memilih desain masjid berbentuk setengah setengah lingkaran. “Ketika polling itu selesai, kemudian dipilih bentuk masjid ini (setengah lingkaran, red) dan justru kontraktornya orang non muslim dari Surabaya,” ungkapnya.

Filosofi dari bangunan masjid ini, lanjutnya, dengan bentuk bulat yaitu menggambarkan meluasnya kebutuhan seluruh umat manusia tanpa dibatasi dengan sudut-sudut tertentu yang akhirnya diaplikasikan pada bentuk kubah masjid. Kemudian jumlah kubah, yakni sebanyak tujuh kubah ternyata menyimpan filosofinya sendiri. “Angka tujuh merupakan simbol dari kemantapan,” terangnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Di balik kemewahan Masjid Jami’ Al-Baitul Amien Jember, ternyata menyimpan riwayat, filosofi, dan keunikan arsitekturnya tersendiri. Hal itu pula yang menjadikan masjid di Jantung Kota Jember ini begitu ikonik dengan masjid kebanyakan.

Masjid keong, begitulah banyak orang menyebut Masjid Jami’ Al-Baitul Amien. Hal itu karena desain arsitektur berbentuk setengah lingkaran, mulai dari tepi bangunan hingga ke bagian atap. Bahkan, melihat masjid ikonik di Jember tersebut bentuknya mirip Gedung DPR MPR RI yang sama-sama berbentuk setengah lingkaran.

“Bentuk masjidnya seperti keong, mirip dengan Gedung DPR MPR RI di Jakarta,” terang Aji Masaji. Pria asal Medan, saat pertama kali menginjakan kaki di Alun-alun Jember 2013 lalu, sempat mengira Masjid Jami’ Al-Baitul Amien adalah Gedung DPRD Jember. “Soalnya bentuknya mirip Gedung DPR MPR RI di Jakarta. Orang luar kota datang ke Alun-alun Jember.

Ketua Yayasan Masjid Jami’ Al-Baitul Amien, Muhammad Hasi’ien mengatakan, pembangunan masjid tersebut sesuai dengan permintaan Bupati Jember Abdul Hadi waktu itu dan meminta kepada kontraktor untuk membuat masjid yang berbeda di dunia. Namun untuk desainya bukan, sesuai keinginan bupati pada waktu itu, namun dibuat sayembara. “Dilakukanlah sayembara dengan menemukan 13 desain bangunan masjid,” ungkapnya.

Tiga belas desain sayembara tersebut, dipamerkan pada saat hari angkatan bersenjata atau sekarang disebut HUT TNI. “Waktu itu ada semacam polling. 13 desain itu dipamerkan dan dipilih oleh masyarakat yang hadir,” katanya.

Masyarakat, banyak memilih desain masjid berbentuk setengah setengah lingkaran. “Ketika polling itu selesai, kemudian dipilih bentuk masjid ini (setengah lingkaran, red) dan justru kontraktornya orang non muslim dari Surabaya,” ungkapnya.

Filosofi dari bangunan masjid ini, lanjutnya, dengan bentuk bulat yaitu menggambarkan meluasnya kebutuhan seluruh umat manusia tanpa dibatasi dengan sudut-sudut tertentu yang akhirnya diaplikasikan pada bentuk kubah masjid. Kemudian jumlah kubah, yakni sebanyak tujuh kubah ternyata menyimpan filosofinya sendiri. “Angka tujuh merupakan simbol dari kemantapan,” terangnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/