alexametrics
23.4 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Hasilnya, Sudah Layak Diberlakukan

Sekolah menyambut baik simulasi ujian tatap muka yang berlangsung kemarin (9/4). Meski pemerintah masih ragu, namun menilik dua sekolah percontohan, SD Negeri Sumbersari 02 dan SMP Negeri 07 Jember, sepertinya sekolah sudah siap menyelenggarakan pembelajaran tatap muka (PTM). Kini, tinggal bagaimana pemerintah merespons hal itu. Apakah kebijakan itu bakal dilanjutkan atau tidak?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Semua murid berbaris untuk masuk ke ruang kelas masing- masing. Sebelum masuk, suhu badan mereka dicek satu per satu. Sejumlah guru juga terus mengamati gerak-gerik para siswa itu. Karena ini adalah simulasi ujian tatap muka, maka dalam satu kelas hanya ada 15-16 murid. Tempat duduk mereka juga diatur sedemikian rupa. Satu bangku diisi satu siswa. Letaknya pun berjarak. Inilah suasana di SMP 7 Jember. Satu dari dua sekolah percontohan untuk PTM di Jember.

Kemarin (9/4), Pemkab Jember memang menetapkan dua sekolah, SMP Negeri 07 dan SDN Sumbersari 02, sebagai sekolah percontohan untuk melaksanakan simulasi ujian tatap muka secara terbatas. Jadi, siswa mengerjakan soal ujian secara langsung di kelas dengan penerapan protokol kesehatan (prokes). “Materi yang diujikan tadi adalah try out. Ya, sambil persiapan ujian sekolah,” kata Syaiful Bahri, Kepala SMP Negeri 07 Jember.

Pihak sekolah berharap, pembelajaran tatap muka segera dilakukan. Sebab, menurut penilaian Syaiful, animo siswa melakukan PTM saat ini sudah menurun. Siswa sudah mulai nyaman dengan pembelajaran daring. Dampaknya, beberapa siswa banyak yang melalaikan tugas sekolah. “Begitu harapan kami. Alhamdulillah, bupati sudah menyetujui untuk pembelajaran tatap muka. Wes, lebokno arek-arek dino Senin,” tutur Syaiful menirukan ucapan Bupati Jember Hendy Siswanto, belum lama ini.

Mobile_AP_Rectangle 2

Kendati begitu, Syaiful mengungkapkan, nanti ketika PTM benar-benar dilaksanakan, tidak semua siswa masuk di kelas yang sama seperti sebelum pandemi. Skemanya, siswa yang masuk sekolah hanya separuh dari jumlah keseluruhan. Tentunya dengan menaati prokes yang telah menjadi acuan PTM. Durasi belajarnya juga dibatasi. Maksimal tiga jam.

Dari hasil simulasi ujian sekolah secara luring tersebut, Bupati Jember Hendy Siswanto mengungkapkan, dua sekolah tersebut sudah layak untuk melangsungkan PTM. Tinggal selanjutnya, menyeragamkan beberapa sekolah lain untuk melangsungkan kegiatan belajar yang sama. “Ini ujian tatap muka langsung. Kami berharap ini akan dilakukan sekolah lain,” kata Hendy.

Namun demikian, kata dia, untuk memutuskan apakah selanjutnya proses belajar diselenggarakan dengan model PTM atau tidak, menurutnya, hal ini tidak bisa dilakukan secara grusa-grusu. Yang jelas, pihaknya akan menggalakkan edukasi kepada guru, serta melengkapi seluruh persyaratan untuk menggelar PTM. “Kami tetap hati-hati. Tidak bisa grusa-grusu. Kami evaluasi lagi,” paparnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Semua murid berbaris untuk masuk ke ruang kelas masing- masing. Sebelum masuk, suhu badan mereka dicek satu per satu. Sejumlah guru juga terus mengamati gerak-gerik para siswa itu. Karena ini adalah simulasi ujian tatap muka, maka dalam satu kelas hanya ada 15-16 murid. Tempat duduk mereka juga diatur sedemikian rupa. Satu bangku diisi satu siswa. Letaknya pun berjarak. Inilah suasana di SMP 7 Jember. Satu dari dua sekolah percontohan untuk PTM di Jember.

Kemarin (9/4), Pemkab Jember memang menetapkan dua sekolah, SMP Negeri 07 dan SDN Sumbersari 02, sebagai sekolah percontohan untuk melaksanakan simulasi ujian tatap muka secara terbatas. Jadi, siswa mengerjakan soal ujian secara langsung di kelas dengan penerapan protokol kesehatan (prokes). “Materi yang diujikan tadi adalah try out. Ya, sambil persiapan ujian sekolah,” kata Syaiful Bahri, Kepala SMP Negeri 07 Jember.

Pihak sekolah berharap, pembelajaran tatap muka segera dilakukan. Sebab, menurut penilaian Syaiful, animo siswa melakukan PTM saat ini sudah menurun. Siswa sudah mulai nyaman dengan pembelajaran daring. Dampaknya, beberapa siswa banyak yang melalaikan tugas sekolah. “Begitu harapan kami. Alhamdulillah, bupati sudah menyetujui untuk pembelajaran tatap muka. Wes, lebokno arek-arek dino Senin,” tutur Syaiful menirukan ucapan Bupati Jember Hendy Siswanto, belum lama ini.

Kendati begitu, Syaiful mengungkapkan, nanti ketika PTM benar-benar dilaksanakan, tidak semua siswa masuk di kelas yang sama seperti sebelum pandemi. Skemanya, siswa yang masuk sekolah hanya separuh dari jumlah keseluruhan. Tentunya dengan menaati prokes yang telah menjadi acuan PTM. Durasi belajarnya juga dibatasi. Maksimal tiga jam.

Dari hasil simulasi ujian sekolah secara luring tersebut, Bupati Jember Hendy Siswanto mengungkapkan, dua sekolah tersebut sudah layak untuk melangsungkan PTM. Tinggal selanjutnya, menyeragamkan beberapa sekolah lain untuk melangsungkan kegiatan belajar yang sama. “Ini ujian tatap muka langsung. Kami berharap ini akan dilakukan sekolah lain,” kata Hendy.

Namun demikian, kata dia, untuk memutuskan apakah selanjutnya proses belajar diselenggarakan dengan model PTM atau tidak, menurutnya, hal ini tidak bisa dilakukan secara grusa-grusu. Yang jelas, pihaknya akan menggalakkan edukasi kepada guru, serta melengkapi seluruh persyaratan untuk menggelar PTM. “Kami tetap hati-hati. Tidak bisa grusa-grusu. Kami evaluasi lagi,” paparnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Semua murid berbaris untuk masuk ke ruang kelas masing- masing. Sebelum masuk, suhu badan mereka dicek satu per satu. Sejumlah guru juga terus mengamati gerak-gerik para siswa itu. Karena ini adalah simulasi ujian tatap muka, maka dalam satu kelas hanya ada 15-16 murid. Tempat duduk mereka juga diatur sedemikian rupa. Satu bangku diisi satu siswa. Letaknya pun berjarak. Inilah suasana di SMP 7 Jember. Satu dari dua sekolah percontohan untuk PTM di Jember.

Kemarin (9/4), Pemkab Jember memang menetapkan dua sekolah, SMP Negeri 07 dan SDN Sumbersari 02, sebagai sekolah percontohan untuk melaksanakan simulasi ujian tatap muka secara terbatas. Jadi, siswa mengerjakan soal ujian secara langsung di kelas dengan penerapan protokol kesehatan (prokes). “Materi yang diujikan tadi adalah try out. Ya, sambil persiapan ujian sekolah,” kata Syaiful Bahri, Kepala SMP Negeri 07 Jember.

Pihak sekolah berharap, pembelajaran tatap muka segera dilakukan. Sebab, menurut penilaian Syaiful, animo siswa melakukan PTM saat ini sudah menurun. Siswa sudah mulai nyaman dengan pembelajaran daring. Dampaknya, beberapa siswa banyak yang melalaikan tugas sekolah. “Begitu harapan kami. Alhamdulillah, bupati sudah menyetujui untuk pembelajaran tatap muka. Wes, lebokno arek-arek dino Senin,” tutur Syaiful menirukan ucapan Bupati Jember Hendy Siswanto, belum lama ini.

Kendati begitu, Syaiful mengungkapkan, nanti ketika PTM benar-benar dilaksanakan, tidak semua siswa masuk di kelas yang sama seperti sebelum pandemi. Skemanya, siswa yang masuk sekolah hanya separuh dari jumlah keseluruhan. Tentunya dengan menaati prokes yang telah menjadi acuan PTM. Durasi belajarnya juga dibatasi. Maksimal tiga jam.

Dari hasil simulasi ujian sekolah secara luring tersebut, Bupati Jember Hendy Siswanto mengungkapkan, dua sekolah tersebut sudah layak untuk melangsungkan PTM. Tinggal selanjutnya, menyeragamkan beberapa sekolah lain untuk melangsungkan kegiatan belajar yang sama. “Ini ujian tatap muka langsung. Kami berharap ini akan dilakukan sekolah lain,” kata Hendy.

Namun demikian, kata dia, untuk memutuskan apakah selanjutnya proses belajar diselenggarakan dengan model PTM atau tidak, menurutnya, hal ini tidak bisa dilakukan secara grusa-grusu. Yang jelas, pihaknya akan menggalakkan edukasi kepada guru, serta melengkapi seluruh persyaratan untuk menggelar PTM. “Kami tetap hati-hati. Tidak bisa grusa-grusu. Kami evaluasi lagi,” paparnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/