alexametrics
31.3 C
Jember
Wednesday, 25 May 2022

Direktur CHRM2 Unej Sampaikan Usulan untuk RTH Jember

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – PEMERINTAH perlu lebih serius menata dan mengelola RTH. Sebab, ruang publik tersebut tak hanya menjadi sarana untuk memenuhi kebutuhan rekreatif dan olahraga masyarakat, tapi juga berpotensi menjadi sumber ekonomi. Bila perlu, diberi kamera pengawas untuk menghindari aksi pencurian, serta dikonsep tematik supaya lebih menarik.

Direktur The Centre for Human Rights, Multiculturalism, and Migration (CHRM2) Universitas Jember (Unej) Al Khanif menyatakan, berbicara tentang RTH, ada hal yang sangat luas untuk dibahas. Di sana ada hak anak, hak atas lingkungan, hak untuk para pedagang, dan masyarakat luas. “Menurut saya, RTH akan berfungsi dengan baik kalau inklusif,” ucapnya.

RTH juga harus bersifat terbuka dan bisa diakses oleh semua kelompok masyarakat. Termasuk oleh anak-anak. Dengan kata lain, anak bisa pergi ke RTH sendirian tanpa didampingi orang tua. Namun selama ini, kondisinya tidaklah demikian. RTH masih belum ramah terhadap anak. Anak-anak masih belum aman ketika bermain di sana karena masih banyak asap rokok yang berseliweran. Selanjutnya adalah inklusif untuk para pelaku ekonomi. Pedagang dan masyarakat seharusnya bisa memanfaatkan RTH supaya bisa menguntungkan mereka.

Mobile_AP_Rectangle 2

Khanif menilai, pemerintahan sebelumnya sebenarnya telah merancang pembangunan RTH itu cukup bagus, meski belum selesai. “Itu harus dilanjutkan bupati sekarang. Kalau tidak, justru bahaya dan malah tidak inklusif,” paparnya.

Pemerintah bisa mencontoh seperti di New York. Di sana banyak RTH tematik. Mulai lahan untuk skate board, BMX, hingga futsal. “Dengan APBD Jember sekitar Rp 4 triliun, tidak mungkin tidak mampu. Pasti bisa,” ucapnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – PEMERINTAH perlu lebih serius menata dan mengelola RTH. Sebab, ruang publik tersebut tak hanya menjadi sarana untuk memenuhi kebutuhan rekreatif dan olahraga masyarakat, tapi juga berpotensi menjadi sumber ekonomi. Bila perlu, diberi kamera pengawas untuk menghindari aksi pencurian, serta dikonsep tematik supaya lebih menarik.

Direktur The Centre for Human Rights, Multiculturalism, and Migration (CHRM2) Universitas Jember (Unej) Al Khanif menyatakan, berbicara tentang RTH, ada hal yang sangat luas untuk dibahas. Di sana ada hak anak, hak atas lingkungan, hak untuk para pedagang, dan masyarakat luas. “Menurut saya, RTH akan berfungsi dengan baik kalau inklusif,” ucapnya.

RTH juga harus bersifat terbuka dan bisa diakses oleh semua kelompok masyarakat. Termasuk oleh anak-anak. Dengan kata lain, anak bisa pergi ke RTH sendirian tanpa didampingi orang tua. Namun selama ini, kondisinya tidaklah demikian. RTH masih belum ramah terhadap anak. Anak-anak masih belum aman ketika bermain di sana karena masih banyak asap rokok yang berseliweran. Selanjutnya adalah inklusif untuk para pelaku ekonomi. Pedagang dan masyarakat seharusnya bisa memanfaatkan RTH supaya bisa menguntungkan mereka.

Khanif menilai, pemerintahan sebelumnya sebenarnya telah merancang pembangunan RTH itu cukup bagus, meski belum selesai. “Itu harus dilanjutkan bupati sekarang. Kalau tidak, justru bahaya dan malah tidak inklusif,” paparnya.

Pemerintah bisa mencontoh seperti di New York. Di sana banyak RTH tematik. Mulai lahan untuk skate board, BMX, hingga futsal. “Dengan APBD Jember sekitar Rp 4 triliun, tidak mungkin tidak mampu. Pasti bisa,” ucapnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – PEMERINTAH perlu lebih serius menata dan mengelola RTH. Sebab, ruang publik tersebut tak hanya menjadi sarana untuk memenuhi kebutuhan rekreatif dan olahraga masyarakat, tapi juga berpotensi menjadi sumber ekonomi. Bila perlu, diberi kamera pengawas untuk menghindari aksi pencurian, serta dikonsep tematik supaya lebih menarik.

Direktur The Centre for Human Rights, Multiculturalism, and Migration (CHRM2) Universitas Jember (Unej) Al Khanif menyatakan, berbicara tentang RTH, ada hal yang sangat luas untuk dibahas. Di sana ada hak anak, hak atas lingkungan, hak untuk para pedagang, dan masyarakat luas. “Menurut saya, RTH akan berfungsi dengan baik kalau inklusif,” ucapnya.

RTH juga harus bersifat terbuka dan bisa diakses oleh semua kelompok masyarakat. Termasuk oleh anak-anak. Dengan kata lain, anak bisa pergi ke RTH sendirian tanpa didampingi orang tua. Namun selama ini, kondisinya tidaklah demikian. RTH masih belum ramah terhadap anak. Anak-anak masih belum aman ketika bermain di sana karena masih banyak asap rokok yang berseliweran. Selanjutnya adalah inklusif untuk para pelaku ekonomi. Pedagang dan masyarakat seharusnya bisa memanfaatkan RTH supaya bisa menguntungkan mereka.

Khanif menilai, pemerintahan sebelumnya sebenarnya telah merancang pembangunan RTH itu cukup bagus, meski belum selesai. “Itu harus dilanjutkan bupati sekarang. Kalau tidak, justru bahaya dan malah tidak inklusif,” paparnya.

Pemerintah bisa mencontoh seperti di New York. Di sana banyak RTH tematik. Mulai lahan untuk skate board, BMX, hingga futsal. “Dengan APBD Jember sekitar Rp 4 triliun, tidak mungkin tidak mampu. Pasti bisa,” ucapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/