alexametrics
23.2 C
Jember
Friday, 19 August 2022

Terhipnotis Dentang Lonceng Gereja

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Gereja Katolik Santo Yusup sudah menjalani empat kali renovasi untuk memperbarui beberapa ornamen. Yakni pada tahun 1950, 1974, 1990, dan 2007. Pada renovasi terakhir inilah, wajah satu-satunya gereja Katolik di Jember ini tampak lebih modern, dengan nuansa western yang lebih kental.

Dari luar, bangunannya terlihat eksotis dengan deretan batu alam yang menempel di seluruh bagian dinding gereja hingga ke menaranya. Di malam hari, pemandangan bangunan bersejarah ini makin bersinar dengan gemerlap lampu kekuningan yang menambah suasana yang menenangkan.

Jika membuka pintu depan, pengunjung akan dihadapkan dengan dua patung yang dibangun pada 2018. Di sebelah kiri terdapat patung Bunda Maria, pelindung gereja, dan Yesus. Ketiga patung tersebut berjajar dan berdiri dalam satu kelompok. Sedangkan di sisi kanan terdapat patung Pieta, atau patung Bunda Maria yang sedang menggendong jenazah Yesus ketika diturunkan dari salib. Sementara, lurus ke depan, altar gereja masih berdiri kokoh menyambut jemaat yang hendak berdoa dan beribadah di dalamnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Namun, meski sudah menjalani renovasi, ada satu ikon yang tak berubah, yakni lonceng gereja. Lonceng yang masih tetap berdentang di setiap momen ini terbilang masih tradisional. Cara menggunakannya pun masih konvensional, dengan cara menggoyangkan kedua sisi tali di sampingnya. Suaranya pun masih santer terdengar hingga beberapa kilometer dari gereja.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Gereja Katolik Santo Yusup sudah menjalani empat kali renovasi untuk memperbarui beberapa ornamen. Yakni pada tahun 1950, 1974, 1990, dan 2007. Pada renovasi terakhir inilah, wajah satu-satunya gereja Katolik di Jember ini tampak lebih modern, dengan nuansa western yang lebih kental.

Dari luar, bangunannya terlihat eksotis dengan deretan batu alam yang menempel di seluruh bagian dinding gereja hingga ke menaranya. Di malam hari, pemandangan bangunan bersejarah ini makin bersinar dengan gemerlap lampu kekuningan yang menambah suasana yang menenangkan.

Jika membuka pintu depan, pengunjung akan dihadapkan dengan dua patung yang dibangun pada 2018. Di sebelah kiri terdapat patung Bunda Maria, pelindung gereja, dan Yesus. Ketiga patung tersebut berjajar dan berdiri dalam satu kelompok. Sedangkan di sisi kanan terdapat patung Pieta, atau patung Bunda Maria yang sedang menggendong jenazah Yesus ketika diturunkan dari salib. Sementara, lurus ke depan, altar gereja masih berdiri kokoh menyambut jemaat yang hendak berdoa dan beribadah di dalamnya.

Namun, meski sudah menjalani renovasi, ada satu ikon yang tak berubah, yakni lonceng gereja. Lonceng yang masih tetap berdentang di setiap momen ini terbilang masih tradisional. Cara menggunakannya pun masih konvensional, dengan cara menggoyangkan kedua sisi tali di sampingnya. Suaranya pun masih santer terdengar hingga beberapa kilometer dari gereja.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Gereja Katolik Santo Yusup sudah menjalani empat kali renovasi untuk memperbarui beberapa ornamen. Yakni pada tahun 1950, 1974, 1990, dan 2007. Pada renovasi terakhir inilah, wajah satu-satunya gereja Katolik di Jember ini tampak lebih modern, dengan nuansa western yang lebih kental.

Dari luar, bangunannya terlihat eksotis dengan deretan batu alam yang menempel di seluruh bagian dinding gereja hingga ke menaranya. Di malam hari, pemandangan bangunan bersejarah ini makin bersinar dengan gemerlap lampu kekuningan yang menambah suasana yang menenangkan.

Jika membuka pintu depan, pengunjung akan dihadapkan dengan dua patung yang dibangun pada 2018. Di sebelah kiri terdapat patung Bunda Maria, pelindung gereja, dan Yesus. Ketiga patung tersebut berjajar dan berdiri dalam satu kelompok. Sedangkan di sisi kanan terdapat patung Pieta, atau patung Bunda Maria yang sedang menggendong jenazah Yesus ketika diturunkan dari salib. Sementara, lurus ke depan, altar gereja masih berdiri kokoh menyambut jemaat yang hendak berdoa dan beribadah di dalamnya.

Namun, meski sudah menjalani renovasi, ada satu ikon yang tak berubah, yakni lonceng gereja. Lonceng yang masih tetap berdentang di setiap momen ini terbilang masih tradisional. Cara menggunakannya pun masih konvensional, dengan cara menggoyangkan kedua sisi tali di sampingnya. Suaranya pun masih santer terdengar hingga beberapa kilometer dari gereja.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/