alexametrics
23.4 C
Jember
Sunday, 29 May 2022

Kekompakan Warga Lahirkan Petugas Keamanan 24 Jam

Cerita lingkungan yang disatroni maling menjadi tantangan setiap perumahan. Begitu pula dengan Griya Mangli Indah. Lokasi yang dulu dikenal banyak maling itu kini sudah berubah total berkat kekompakan warganya.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Matahari baru saja memancarkan sinarnya. Beberapa orang berpakaian khas satpam terlihat santai duduk di depan pos penjagaan. Ya, mereka bersiap untuk membantu warga Perumahan Griya Mangli Indah (GMI) yang akan keluar dari perumahan atau pun yang datang.

Adanya penjaga atau satpam di pintu utama GMI memang belum terlalu lama. Setidaknya baru sekitar empat sampai lima tahun terakhir. Nah, jika membahas maling, maka sebelum-sebelumnya banyak cerita yang cukup mengejutkan.

“Petugas keamanan GMI baru terbentuk 2014 lalu. Kalau dulu di Perum GMI ini banyak sekali maling, tetapi sekarang sudah aman. Walaupun masih ada, tetapi bisa dibilang aman,” kata Agus Widagdo yang saat sedang itu bertugas bersama dua temannya, Rohadi dan Supriyono.

Mobile_AP_Rectangle 2

Gawatnya aksi pencurian di GMI dulu bukan hanya dilakukan oleh orang-orang dari luar GMI. Bukan sekadar pembobolan maling pada malam hari dan siang hari. Akan tetapi, orang yang mengontrak di GMI pun, ada “berubah jahat” menjadi maling. Maksudnya, saat pengontrak rumah sudah habis masa kontraknya, saat pindah itu pula nekat membawa barang milik rumah yang dikontraknya.

Cerita tentang pengamen dan pemulung yang mengambil besi, timba, burung, ayam, serta barang-barang di halaman rumah warga, dulunya juga kerap terjadi. Namun, kondisi yang demikian sudah tidak pernah terjadi lagi. Beberapa pemulung memang masih tampak keliling perumahan saat-saat tertentu, tetapi tidak sampai mencuri barang berharga milik warga. “Untuk pengamen, saat ini sudah tidak ada yang keliling di GMI,” imbuhnya.

GMI yang kini sudah dihuni sekitar seribu kepala keluarga (KK) tersebut, pada 2014 lalu akhirnya membentuk petugas keamanan. Satpam yang berjumlah tujuh orang murni dibentuk atas swadaya masyarakat. “Satpam ini bukan fasilitas perumahan, tetapi swadaya masyarakat,” jelas pria yang juga menjadi korlap keamanan tersebut.

Kekompakan warga GMI, menurutnya, mampu membuat perubahan bagi keamanan lingkungan. Hal itu patut diciptakan karena warga perumahan mayoritas adalah warga asal luar Mangli, bahkan dari luar Jember. “Dengan kekompakan dan kerukunan, maka situasi aman dan kondusif harus bisa diciptakan,” ucapnya.

Bukti kekompakan warga demi menciptakan situasi yang aman yakni tidak semua satpam wajib dari mereka yang tinggal di Mangli. Akan tetapi, enam dari tujuh petugas keamanan berasal dari luar lingkungan Mangli. “Hanya satu yang asli tinggal di Mangli, sementara enam lainnya dari beberapa tempat,” imbuhnya.

Tujuh satpam itu, menurutnya, bekerja dengan jadwal yang sudah diatur selama 24 jam. Setiap hari, ada satu orang yang libur. Waktu sif yang diatur yakni siang dan malam. “Tujuh orang itu, saya sendiri, Supriyono, Rohadi, Supriyandi, Puji Slamet, Rivan Efendi, dan Ali Nizar. Kebetulan saya yang bertahan sejak awal petugas keamanan ini dibentuk,” paparnya.

Meski sebagai petugas keamanan, namun mereka juga membantu warga untuk menyeberang di jalan utama yang menghubungkan Jember-Surabaya. Hal itu dilakukan pada jam-jam padat kendaraan seperti pagi dan sore hari.

Dengan kekompakan warga tersebut, para petugas keamanan pun hampir mengenal semua wajah warga GMI, utamanya yang setiap hari keluar-masuk pintu utama perumahan. “Memang tidak semua, tetapi rata-rata kenal. Apalagi yang setiap hari melintasi pintu masuk ini,” tegasnya.

Agus Widagdo menyarankan, untuk perumahan yang sudah telanjur dibuat tetapi pihak pengusaha tidak memberi fasilitas keamanan, sebaiknya dibentuk dan dibahas oleh warga perumahannya. “Itu demi keamanan bersama,” pungkasnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Matahari baru saja memancarkan sinarnya. Beberapa orang berpakaian khas satpam terlihat santai duduk di depan pos penjagaan. Ya, mereka bersiap untuk membantu warga Perumahan Griya Mangli Indah (GMI) yang akan keluar dari perumahan atau pun yang datang.

Adanya penjaga atau satpam di pintu utama GMI memang belum terlalu lama. Setidaknya baru sekitar empat sampai lima tahun terakhir. Nah, jika membahas maling, maka sebelum-sebelumnya banyak cerita yang cukup mengejutkan.

“Petugas keamanan GMI baru terbentuk 2014 lalu. Kalau dulu di Perum GMI ini banyak sekali maling, tetapi sekarang sudah aman. Walaupun masih ada, tetapi bisa dibilang aman,” kata Agus Widagdo yang saat sedang itu bertugas bersama dua temannya, Rohadi dan Supriyono.

Gawatnya aksi pencurian di GMI dulu bukan hanya dilakukan oleh orang-orang dari luar GMI. Bukan sekadar pembobolan maling pada malam hari dan siang hari. Akan tetapi, orang yang mengontrak di GMI pun, ada “berubah jahat” menjadi maling. Maksudnya, saat pengontrak rumah sudah habis masa kontraknya, saat pindah itu pula nekat membawa barang milik rumah yang dikontraknya.

Cerita tentang pengamen dan pemulung yang mengambil besi, timba, burung, ayam, serta barang-barang di halaman rumah warga, dulunya juga kerap terjadi. Namun, kondisi yang demikian sudah tidak pernah terjadi lagi. Beberapa pemulung memang masih tampak keliling perumahan saat-saat tertentu, tetapi tidak sampai mencuri barang berharga milik warga. “Untuk pengamen, saat ini sudah tidak ada yang keliling di GMI,” imbuhnya.

GMI yang kini sudah dihuni sekitar seribu kepala keluarga (KK) tersebut, pada 2014 lalu akhirnya membentuk petugas keamanan. Satpam yang berjumlah tujuh orang murni dibentuk atas swadaya masyarakat. “Satpam ini bukan fasilitas perumahan, tetapi swadaya masyarakat,” jelas pria yang juga menjadi korlap keamanan tersebut.

Kekompakan warga GMI, menurutnya, mampu membuat perubahan bagi keamanan lingkungan. Hal itu patut diciptakan karena warga perumahan mayoritas adalah warga asal luar Mangli, bahkan dari luar Jember. “Dengan kekompakan dan kerukunan, maka situasi aman dan kondusif harus bisa diciptakan,” ucapnya.

Bukti kekompakan warga demi menciptakan situasi yang aman yakni tidak semua satpam wajib dari mereka yang tinggal di Mangli. Akan tetapi, enam dari tujuh petugas keamanan berasal dari luar lingkungan Mangli. “Hanya satu yang asli tinggal di Mangli, sementara enam lainnya dari beberapa tempat,” imbuhnya.

Tujuh satpam itu, menurutnya, bekerja dengan jadwal yang sudah diatur selama 24 jam. Setiap hari, ada satu orang yang libur. Waktu sif yang diatur yakni siang dan malam. “Tujuh orang itu, saya sendiri, Supriyono, Rohadi, Supriyandi, Puji Slamet, Rivan Efendi, dan Ali Nizar. Kebetulan saya yang bertahan sejak awal petugas keamanan ini dibentuk,” paparnya.

Meski sebagai petugas keamanan, namun mereka juga membantu warga untuk menyeberang di jalan utama yang menghubungkan Jember-Surabaya. Hal itu dilakukan pada jam-jam padat kendaraan seperti pagi dan sore hari.

Dengan kekompakan warga tersebut, para petugas keamanan pun hampir mengenal semua wajah warga GMI, utamanya yang setiap hari keluar-masuk pintu utama perumahan. “Memang tidak semua, tetapi rata-rata kenal. Apalagi yang setiap hari melintasi pintu masuk ini,” tegasnya.

Agus Widagdo menyarankan, untuk perumahan yang sudah telanjur dibuat tetapi pihak pengusaha tidak memberi fasilitas keamanan, sebaiknya dibentuk dan dibahas oleh warga perumahannya. “Itu demi keamanan bersama,” pungkasnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Matahari baru saja memancarkan sinarnya. Beberapa orang berpakaian khas satpam terlihat santai duduk di depan pos penjagaan. Ya, mereka bersiap untuk membantu warga Perumahan Griya Mangli Indah (GMI) yang akan keluar dari perumahan atau pun yang datang.

Adanya penjaga atau satpam di pintu utama GMI memang belum terlalu lama. Setidaknya baru sekitar empat sampai lima tahun terakhir. Nah, jika membahas maling, maka sebelum-sebelumnya banyak cerita yang cukup mengejutkan.

“Petugas keamanan GMI baru terbentuk 2014 lalu. Kalau dulu di Perum GMI ini banyak sekali maling, tetapi sekarang sudah aman. Walaupun masih ada, tetapi bisa dibilang aman,” kata Agus Widagdo yang saat sedang itu bertugas bersama dua temannya, Rohadi dan Supriyono.

Gawatnya aksi pencurian di GMI dulu bukan hanya dilakukan oleh orang-orang dari luar GMI. Bukan sekadar pembobolan maling pada malam hari dan siang hari. Akan tetapi, orang yang mengontrak di GMI pun, ada “berubah jahat” menjadi maling. Maksudnya, saat pengontrak rumah sudah habis masa kontraknya, saat pindah itu pula nekat membawa barang milik rumah yang dikontraknya.

Cerita tentang pengamen dan pemulung yang mengambil besi, timba, burung, ayam, serta barang-barang di halaman rumah warga, dulunya juga kerap terjadi. Namun, kondisi yang demikian sudah tidak pernah terjadi lagi. Beberapa pemulung memang masih tampak keliling perumahan saat-saat tertentu, tetapi tidak sampai mencuri barang berharga milik warga. “Untuk pengamen, saat ini sudah tidak ada yang keliling di GMI,” imbuhnya.

GMI yang kini sudah dihuni sekitar seribu kepala keluarga (KK) tersebut, pada 2014 lalu akhirnya membentuk petugas keamanan. Satpam yang berjumlah tujuh orang murni dibentuk atas swadaya masyarakat. “Satpam ini bukan fasilitas perumahan, tetapi swadaya masyarakat,” jelas pria yang juga menjadi korlap keamanan tersebut.

Kekompakan warga GMI, menurutnya, mampu membuat perubahan bagi keamanan lingkungan. Hal itu patut diciptakan karena warga perumahan mayoritas adalah warga asal luar Mangli, bahkan dari luar Jember. “Dengan kekompakan dan kerukunan, maka situasi aman dan kondusif harus bisa diciptakan,” ucapnya.

Bukti kekompakan warga demi menciptakan situasi yang aman yakni tidak semua satpam wajib dari mereka yang tinggal di Mangli. Akan tetapi, enam dari tujuh petugas keamanan berasal dari luar lingkungan Mangli. “Hanya satu yang asli tinggal di Mangli, sementara enam lainnya dari beberapa tempat,” imbuhnya.

Tujuh satpam itu, menurutnya, bekerja dengan jadwal yang sudah diatur selama 24 jam. Setiap hari, ada satu orang yang libur. Waktu sif yang diatur yakni siang dan malam. “Tujuh orang itu, saya sendiri, Supriyono, Rohadi, Supriyandi, Puji Slamet, Rivan Efendi, dan Ali Nizar. Kebetulan saya yang bertahan sejak awal petugas keamanan ini dibentuk,” paparnya.

Meski sebagai petugas keamanan, namun mereka juga membantu warga untuk menyeberang di jalan utama yang menghubungkan Jember-Surabaya. Hal itu dilakukan pada jam-jam padat kendaraan seperti pagi dan sore hari.

Dengan kekompakan warga tersebut, para petugas keamanan pun hampir mengenal semua wajah warga GMI, utamanya yang setiap hari keluar-masuk pintu utama perumahan. “Memang tidak semua, tetapi rata-rata kenal. Apalagi yang setiap hari melintasi pintu masuk ini,” tegasnya.

Agus Widagdo menyarankan, untuk perumahan yang sudah telanjur dibuat tetapi pihak pengusaha tidak memberi fasilitas keamanan, sebaiknya dibentuk dan dibahas oleh warga perumahannya. “Itu demi keamanan bersama,” pungkasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/