alexametrics
23.3 C
Jember
Thursday, 2 December 2021

Berani Gaji Pekerja dengan Bondo Bakat Kreatif

Cerita Dyan Murdianto Menekuni Industri Kreatif Hasil sebuah pekerjaan biasanya digunakan sebagai acuan dalam menentukan gaji seseorang. Namun, parameter ini tidak berlaku bagi Dyan Murdiyanto. Dia justru rela merogoh kocek lebih dalam untuk mereka yang masih belajar bekerja. Kenapa begitu?

Mobile_AP_Rectangle 1

GEBANG, RADAR JEMBER- Siang itu, Dyan Murdiyanto tampak serius mengerjakan salah satu pesanan yang baru saja dia terima. Yakni, sebuah wadah perangkat komputer yang terbuat dari bahan akrilik. Di lokasi yang sama, dua pegawainya juga sibuk memotong sebagian akrilik yang sebelumnya sudah didesain menggunakan computer numerical control (CNC). Satu berdiam diri di depan komputer, sedangkan satunya mengawasi di sebelah mesin CNC. Dia memastikan potongan akriliknya sesuai dengan desain. “Bekerja di industri kreatif ini hasilnya lumayan,” paparnya.

Selama pandemi, dampak yang dirasakan juga tidak terlalu signifikan, karena dirinya juga membuat berbagai hiasan rumah dengan bahan yang beragam. Mulai dari kayu, tripleks, akrilik, aluminium, plastik, dan bahan lain. Sementara untuk tarif, mulai puluhan ribu hingga jutaan rupiah per item. Bergantung pola dan kesulitan penggarapan. Misalnya, interior rumah, tempat perangkat keras komputer, gantungan kunci, hingga kotak cerutu. “Namun, perjalanan yang kami lalui tidak semudah itu,” ucap warga RT 29 RW 01, Lingkungan Patimura, Kelurahan Gebang, Kecamatan Patrang, itu.

Semula, dia mengaku bekerja di bidang jual beli perumahan di Surabaya. Sebagai alumnus teknik sipil, banyak hal yang bisa dia lakukan. Namun, berbeda saat dia pulang ke Jember. Pengalaman yang dia miliki sebelumnya tak banyak membantu. “Akhirnya, saya memilih untuk menekuni bisnis di bidang industri kreatif,” papar pria yang berusia 48 tahun itu.

Mobile_AP_Rectangle 2

Awalnya, dia mulai dengan merakit mesin CNC secara bertahap dan menghabiskan modal sekitar Rp 150 juta hingga Rp 200 juta. Maklum, pada 2016 silam harga mesin CNC masih senilai Rp 400 juta. Itu pun harus beli di luar negeri. Bahkan, dia sampai memakan waktu selama dua tahun untuk merampungkan pembuatan mesin tersebut.

Setelah mesin selesai, Dyan menerangkan, ternyata masih ada masalah lagi. Yakni, orang yang bakal menggunakan alat itu. “Otomatis, saya harus merogoh kocek lagi untuk mengajak siapa pun yang berminat untuk bekerja, lalu menggajinya untuk belajar,” ucapnya.

Awalnya, memang terdengar sedikit aneh. Biasanya, orang dibayar untuk bekerja. Tetapi, keadaan itu membuatnya harus membayar orang yang belajar.

Sambil lalu mencari konsumen, Dyan menggaji beberapa karyawan untuk belajar menggunakan mesin CNC sampai tiga bulan lamanya. “Bahkan, kami sering bikin produk sendiri dan ditawarkan ke mana-mana untuk menarik konsumen,” ulasnya.

- Advertisement -

GEBANG, RADAR JEMBER- Siang itu, Dyan Murdiyanto tampak serius mengerjakan salah satu pesanan yang baru saja dia terima. Yakni, sebuah wadah perangkat komputer yang terbuat dari bahan akrilik. Di lokasi yang sama, dua pegawainya juga sibuk memotong sebagian akrilik yang sebelumnya sudah didesain menggunakan computer numerical control (CNC). Satu berdiam diri di depan komputer, sedangkan satunya mengawasi di sebelah mesin CNC. Dia memastikan potongan akriliknya sesuai dengan desain. “Bekerja di industri kreatif ini hasilnya lumayan,” paparnya.

Selama pandemi, dampak yang dirasakan juga tidak terlalu signifikan, karena dirinya juga membuat berbagai hiasan rumah dengan bahan yang beragam. Mulai dari kayu, tripleks, akrilik, aluminium, plastik, dan bahan lain. Sementara untuk tarif, mulai puluhan ribu hingga jutaan rupiah per item. Bergantung pola dan kesulitan penggarapan. Misalnya, interior rumah, tempat perangkat keras komputer, gantungan kunci, hingga kotak cerutu. “Namun, perjalanan yang kami lalui tidak semudah itu,” ucap warga RT 29 RW 01, Lingkungan Patimura, Kelurahan Gebang, Kecamatan Patrang, itu.

Semula, dia mengaku bekerja di bidang jual beli perumahan di Surabaya. Sebagai alumnus teknik sipil, banyak hal yang bisa dia lakukan. Namun, berbeda saat dia pulang ke Jember. Pengalaman yang dia miliki sebelumnya tak banyak membantu. “Akhirnya, saya memilih untuk menekuni bisnis di bidang industri kreatif,” papar pria yang berusia 48 tahun itu.

Awalnya, dia mulai dengan merakit mesin CNC secara bertahap dan menghabiskan modal sekitar Rp 150 juta hingga Rp 200 juta. Maklum, pada 2016 silam harga mesin CNC masih senilai Rp 400 juta. Itu pun harus beli di luar negeri. Bahkan, dia sampai memakan waktu selama dua tahun untuk merampungkan pembuatan mesin tersebut.

Setelah mesin selesai, Dyan menerangkan, ternyata masih ada masalah lagi. Yakni, orang yang bakal menggunakan alat itu. “Otomatis, saya harus merogoh kocek lagi untuk mengajak siapa pun yang berminat untuk bekerja, lalu menggajinya untuk belajar,” ucapnya.

Awalnya, memang terdengar sedikit aneh. Biasanya, orang dibayar untuk bekerja. Tetapi, keadaan itu membuatnya harus membayar orang yang belajar.

Sambil lalu mencari konsumen, Dyan menggaji beberapa karyawan untuk belajar menggunakan mesin CNC sampai tiga bulan lamanya. “Bahkan, kami sering bikin produk sendiri dan ditawarkan ke mana-mana untuk menarik konsumen,” ulasnya.

GEBANG, RADAR JEMBER- Siang itu, Dyan Murdiyanto tampak serius mengerjakan salah satu pesanan yang baru saja dia terima. Yakni, sebuah wadah perangkat komputer yang terbuat dari bahan akrilik. Di lokasi yang sama, dua pegawainya juga sibuk memotong sebagian akrilik yang sebelumnya sudah didesain menggunakan computer numerical control (CNC). Satu berdiam diri di depan komputer, sedangkan satunya mengawasi di sebelah mesin CNC. Dia memastikan potongan akriliknya sesuai dengan desain. “Bekerja di industri kreatif ini hasilnya lumayan,” paparnya.

Selama pandemi, dampak yang dirasakan juga tidak terlalu signifikan, karena dirinya juga membuat berbagai hiasan rumah dengan bahan yang beragam. Mulai dari kayu, tripleks, akrilik, aluminium, plastik, dan bahan lain. Sementara untuk tarif, mulai puluhan ribu hingga jutaan rupiah per item. Bergantung pola dan kesulitan penggarapan. Misalnya, interior rumah, tempat perangkat keras komputer, gantungan kunci, hingga kotak cerutu. “Namun, perjalanan yang kami lalui tidak semudah itu,” ucap warga RT 29 RW 01, Lingkungan Patimura, Kelurahan Gebang, Kecamatan Patrang, itu.

Semula, dia mengaku bekerja di bidang jual beli perumahan di Surabaya. Sebagai alumnus teknik sipil, banyak hal yang bisa dia lakukan. Namun, berbeda saat dia pulang ke Jember. Pengalaman yang dia miliki sebelumnya tak banyak membantu. “Akhirnya, saya memilih untuk menekuni bisnis di bidang industri kreatif,” papar pria yang berusia 48 tahun itu.

Awalnya, dia mulai dengan merakit mesin CNC secara bertahap dan menghabiskan modal sekitar Rp 150 juta hingga Rp 200 juta. Maklum, pada 2016 silam harga mesin CNC masih senilai Rp 400 juta. Itu pun harus beli di luar negeri. Bahkan, dia sampai memakan waktu selama dua tahun untuk merampungkan pembuatan mesin tersebut.

Setelah mesin selesai, Dyan menerangkan, ternyata masih ada masalah lagi. Yakni, orang yang bakal menggunakan alat itu. “Otomatis, saya harus merogoh kocek lagi untuk mengajak siapa pun yang berminat untuk bekerja, lalu menggajinya untuk belajar,” ucapnya.

Awalnya, memang terdengar sedikit aneh. Biasanya, orang dibayar untuk bekerja. Tetapi, keadaan itu membuatnya harus membayar orang yang belajar.

Sambil lalu mencari konsumen, Dyan menggaji beberapa karyawan untuk belajar menggunakan mesin CNC sampai tiga bulan lamanya. “Bahkan, kami sering bikin produk sendiri dan ditawarkan ke mana-mana untuk menarik konsumen,” ulasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca