alexametrics
24.5 C
Jember
Monday, 16 May 2022

Laki-laki ini Menyukai Videografi yang Membuatnya Viral di Jagat Maya

. Dia adalah Muhammad Taufiq Hidayatullah, mahasiswa UIN KHAS Jember. Apa motivasinya?

Mobile_AP_Rectangle 1

MANGLI, RADARJEMBER.ID – Muhammad Taufiq Hidayatullah, mahasiswa baru Universitas Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember ini tiba-tiba dikenal banyak orang, lantaran videonya yang anti-mainstream. Dengan berbekal skill videografi dan editingnya, video milik Taufiq mendapat respons positif dari banyak orang di media sosial, khususnya di akun TikTok.

“Awalnya sudah malas yang mau bikin. Terus, lihat punya yang lain kok begitu-begitu saja. Akhirnya aku bikin sesuai style videoku. Itu bikinnya tidak sampai sehari. Karena durasinya pendek,” katanya kepada Jawa Pos Radar Jember, beberapa waktu lalu.

 

Mobile_AP_Rectangle 2

Taufiq mengaku, dirinya memang menyukai dunia videografi sejak SD. Namun, saat itu dia sekadar penikmat atau penonton karya saja. Berawal dari kebiasaannya menonton film kartun, iklan-iklan di televisi, dan tayangan video lainnya, Taufiq pun mulai tertarik dan berniat ingin mengetahui cara membuatnya. “Mulai kepo bagaimana cara bikinnya itu mulai SD. Kayak sepatu terbang, kok bisa ada sepatu yang bisa terbang. Caranya bagaimana? Ternyata, ya, diedit,” tuturnya.

Rasa ingin tahu tersebut berlanjut hingga ia lulus dari bangku SMP. Memasuki bangku madrasah aliyah (MA), dia mulai mempelajari dasar-dasar videografi dan mengikuti organisasi intra bidang jurnalistik. Saat itulah, dia merasa mulai menemukan bakat dan kesenangannya.

Tiga tahun mengenyam pendidikan MA, lelaki asal Lumajang ini terus belajar ilmu videografi dari orang-orang atau komunitas yang dia kenali. Untuk mengasah kemampuannya, dia mulai aktif membuat video content di YouTube, Instagram, dan TikTok. Melihat banyaknya tayangan video vulgar dan tak mendidik, baik di televisi maupun media sosial, Taufiq semakin antusias untuk membuat konten mendidik. Itu semua dia lakukan untuk menggalahkan popularitas video yang tak mendidik itu. “Kalau generasi bangsa setiap hari mengonsumsi video begitu, ya, seperti apa nanti jadinya negara ini. Nggak bakal maju,” bebernya.

Hal tersebut juga semakin membuatnya bertekad untuk menjadi seorang filmmaker atau pembuat film. Apalagi, di beberapa literasi yang pernah dia pelajari, industri digital memiliki potensi besar terhadap perkembangan ekonomi negara. Dan content creator bakal semakin gencar di pasar dunia. Dia menginginkan Indonesia juga mampu berkontribusi dalam pasar internasional tersebut.

- Advertisement -

MANGLI, RADARJEMBER.ID – Muhammad Taufiq Hidayatullah, mahasiswa baru Universitas Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember ini tiba-tiba dikenal banyak orang, lantaran videonya yang anti-mainstream. Dengan berbekal skill videografi dan editingnya, video milik Taufiq mendapat respons positif dari banyak orang di media sosial, khususnya di akun TikTok.

“Awalnya sudah malas yang mau bikin. Terus, lihat punya yang lain kok begitu-begitu saja. Akhirnya aku bikin sesuai style videoku. Itu bikinnya tidak sampai sehari. Karena durasinya pendek,” katanya kepada Jawa Pos Radar Jember, beberapa waktu lalu.

 

Taufiq mengaku, dirinya memang menyukai dunia videografi sejak SD. Namun, saat itu dia sekadar penikmat atau penonton karya saja. Berawal dari kebiasaannya menonton film kartun, iklan-iklan di televisi, dan tayangan video lainnya, Taufiq pun mulai tertarik dan berniat ingin mengetahui cara membuatnya. “Mulai kepo bagaimana cara bikinnya itu mulai SD. Kayak sepatu terbang, kok bisa ada sepatu yang bisa terbang. Caranya bagaimana? Ternyata, ya, diedit,” tuturnya.

Rasa ingin tahu tersebut berlanjut hingga ia lulus dari bangku SMP. Memasuki bangku madrasah aliyah (MA), dia mulai mempelajari dasar-dasar videografi dan mengikuti organisasi intra bidang jurnalistik. Saat itulah, dia merasa mulai menemukan bakat dan kesenangannya.

Tiga tahun mengenyam pendidikan MA, lelaki asal Lumajang ini terus belajar ilmu videografi dari orang-orang atau komunitas yang dia kenali. Untuk mengasah kemampuannya, dia mulai aktif membuat video content di YouTube, Instagram, dan TikTok. Melihat banyaknya tayangan video vulgar dan tak mendidik, baik di televisi maupun media sosial, Taufiq semakin antusias untuk membuat konten mendidik. Itu semua dia lakukan untuk menggalahkan popularitas video yang tak mendidik itu. “Kalau generasi bangsa setiap hari mengonsumsi video begitu, ya, seperti apa nanti jadinya negara ini. Nggak bakal maju,” bebernya.

Hal tersebut juga semakin membuatnya bertekad untuk menjadi seorang filmmaker atau pembuat film. Apalagi, di beberapa literasi yang pernah dia pelajari, industri digital memiliki potensi besar terhadap perkembangan ekonomi negara. Dan content creator bakal semakin gencar di pasar dunia. Dia menginginkan Indonesia juga mampu berkontribusi dalam pasar internasional tersebut.

MANGLI, RADARJEMBER.ID – Muhammad Taufiq Hidayatullah, mahasiswa baru Universitas Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember ini tiba-tiba dikenal banyak orang, lantaran videonya yang anti-mainstream. Dengan berbekal skill videografi dan editingnya, video milik Taufiq mendapat respons positif dari banyak orang di media sosial, khususnya di akun TikTok.

“Awalnya sudah malas yang mau bikin. Terus, lihat punya yang lain kok begitu-begitu saja. Akhirnya aku bikin sesuai style videoku. Itu bikinnya tidak sampai sehari. Karena durasinya pendek,” katanya kepada Jawa Pos Radar Jember, beberapa waktu lalu.

 

Taufiq mengaku, dirinya memang menyukai dunia videografi sejak SD. Namun, saat itu dia sekadar penikmat atau penonton karya saja. Berawal dari kebiasaannya menonton film kartun, iklan-iklan di televisi, dan tayangan video lainnya, Taufiq pun mulai tertarik dan berniat ingin mengetahui cara membuatnya. “Mulai kepo bagaimana cara bikinnya itu mulai SD. Kayak sepatu terbang, kok bisa ada sepatu yang bisa terbang. Caranya bagaimana? Ternyata, ya, diedit,” tuturnya.

Rasa ingin tahu tersebut berlanjut hingga ia lulus dari bangku SMP. Memasuki bangku madrasah aliyah (MA), dia mulai mempelajari dasar-dasar videografi dan mengikuti organisasi intra bidang jurnalistik. Saat itulah, dia merasa mulai menemukan bakat dan kesenangannya.

Tiga tahun mengenyam pendidikan MA, lelaki asal Lumajang ini terus belajar ilmu videografi dari orang-orang atau komunitas yang dia kenali. Untuk mengasah kemampuannya, dia mulai aktif membuat video content di YouTube, Instagram, dan TikTok. Melihat banyaknya tayangan video vulgar dan tak mendidik, baik di televisi maupun media sosial, Taufiq semakin antusias untuk membuat konten mendidik. Itu semua dia lakukan untuk menggalahkan popularitas video yang tak mendidik itu. “Kalau generasi bangsa setiap hari mengonsumsi video begitu, ya, seperti apa nanti jadinya negara ini. Nggak bakal maju,” bebernya.

Hal tersebut juga semakin membuatnya bertekad untuk menjadi seorang filmmaker atau pembuat film. Apalagi, di beberapa literasi yang pernah dia pelajari, industri digital memiliki potensi besar terhadap perkembangan ekonomi negara. Dan content creator bakal semakin gencar di pasar dunia. Dia menginginkan Indonesia juga mampu berkontribusi dalam pasar internasional tersebut.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/