alexametrics
23.4 C
Jember
Saturday, 13 August 2022

Tak Hanya Alquran, Siapkan Panduan Ibadah, Doa, dan Tauhid

Di Jember ternyata ada Musuem Alquran khusus bagi penyandang disabilitas, yakni Alquran Braille. Terdapat pula panduan ibadah, doa, dan tauhid yang diterjemahkan dalam kertas putih berpola timbul bagi difabel tunanetra. Satu jilid besar Alquran Braille berisi satu juz, dan berat total 30 juz bisa mencapai 20 kilogram.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Beberapa Alquran Braille dengan ukuran yang cukup besar tersimpan rapi di lemari ruang tengah. Satu kitab Alquran Braille berisi satu juz. Itu berarti, ada 30 buku dengan 30 juz. Cukup banyak dan cukup berat kalau di bawa ke mana-mana.

Rumah di kawasan Jalan Sriwijaya, Kecamatan Sumbersari, itu memang menjadi Museum Alquran Braille dan Pusat Studi Quran Disabilitas (PSQD), di bawah naungan Ikatan Dai Indonesia (IKADI) Jember dan Pondok Pesantren Ibnu Katsir Jember.

Sudah sejak dua tahun lalu, museum Alquran tersebut didirikan. Menurut Ketua III IKADI Jember Agus Rohmawan, ada banyak faktor yang melatarbelakangi berdirinya museum Alquran tersebut. Salah satunya keprihatinan dalam aspek pembelajaran Alquran bagi penyandang tunanetra. “Seperti yang kita ketahui Alquran adalah rahmatan lil’alamin. Sedangkan saudara kita yang disabilitas kurang terperhatikan dari sisi pembelajaran Alquran,” tutur Agus kepada Jawa Pos Radar Jember, sembari menunjukkan Alquran Braille-nya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Disabilitas tunanetra sendiri, lanjut dia, kerap menghadapi tantangan untuk membaca Alquran. Karenanya, ketersediaan Alquran Braille sangat dibutuhkan oleh penyandang disabilitas tunanetra. Selain untuk ibadah, juga perlu sebagai kajian.

“Kami dedikasikan khusus pembelajaran Alquran ini bagi rekan-rekan difabel. Apakah itu tunanetra, atau teman-teman bisu tuli, ataupun difabel fisik lain yang juga kurang terperhatikan,” imbuh pria yang akrab disapa Ustad Agus ini.

Dengan Alquran Braille, tunanetra dapat membaca Alquran serta menavigasikan halaman dengan mudah. Agus menjelaskan, Alquran Braille memiliki ciri yang khas. Dari sisi ukurannya sendiri juga berbeda. Cukup besar.

“Kalau Alquran Braille ini, satu juz ya satu jilid kitab besar. Berarti ada 30 jilid besar. Beratnya kalau ditotal semua bisa mencapai 19-20 kilogram dalam satu kotak besar. Kalau mau dibawa ke mana-mana ya susah,” beber Agus.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Beberapa Alquran Braille dengan ukuran yang cukup besar tersimpan rapi di lemari ruang tengah. Satu kitab Alquran Braille berisi satu juz. Itu berarti, ada 30 buku dengan 30 juz. Cukup banyak dan cukup berat kalau di bawa ke mana-mana.

Rumah di kawasan Jalan Sriwijaya, Kecamatan Sumbersari, itu memang menjadi Museum Alquran Braille dan Pusat Studi Quran Disabilitas (PSQD), di bawah naungan Ikatan Dai Indonesia (IKADI) Jember dan Pondok Pesantren Ibnu Katsir Jember.

Sudah sejak dua tahun lalu, museum Alquran tersebut didirikan. Menurut Ketua III IKADI Jember Agus Rohmawan, ada banyak faktor yang melatarbelakangi berdirinya museum Alquran tersebut. Salah satunya keprihatinan dalam aspek pembelajaran Alquran bagi penyandang tunanetra. “Seperti yang kita ketahui Alquran adalah rahmatan lil’alamin. Sedangkan saudara kita yang disabilitas kurang terperhatikan dari sisi pembelajaran Alquran,” tutur Agus kepada Jawa Pos Radar Jember, sembari menunjukkan Alquran Braille-nya.

Disabilitas tunanetra sendiri, lanjut dia, kerap menghadapi tantangan untuk membaca Alquran. Karenanya, ketersediaan Alquran Braille sangat dibutuhkan oleh penyandang disabilitas tunanetra. Selain untuk ibadah, juga perlu sebagai kajian.

“Kami dedikasikan khusus pembelajaran Alquran ini bagi rekan-rekan difabel. Apakah itu tunanetra, atau teman-teman bisu tuli, ataupun difabel fisik lain yang juga kurang terperhatikan,” imbuh pria yang akrab disapa Ustad Agus ini.

Dengan Alquran Braille, tunanetra dapat membaca Alquran serta menavigasikan halaman dengan mudah. Agus menjelaskan, Alquran Braille memiliki ciri yang khas. Dari sisi ukurannya sendiri juga berbeda. Cukup besar.

“Kalau Alquran Braille ini, satu juz ya satu jilid kitab besar. Berarti ada 30 jilid besar. Beratnya kalau ditotal semua bisa mencapai 19-20 kilogram dalam satu kotak besar. Kalau mau dibawa ke mana-mana ya susah,” beber Agus.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Beberapa Alquran Braille dengan ukuran yang cukup besar tersimpan rapi di lemari ruang tengah. Satu kitab Alquran Braille berisi satu juz. Itu berarti, ada 30 buku dengan 30 juz. Cukup banyak dan cukup berat kalau di bawa ke mana-mana.

Rumah di kawasan Jalan Sriwijaya, Kecamatan Sumbersari, itu memang menjadi Museum Alquran Braille dan Pusat Studi Quran Disabilitas (PSQD), di bawah naungan Ikatan Dai Indonesia (IKADI) Jember dan Pondok Pesantren Ibnu Katsir Jember.

Sudah sejak dua tahun lalu, museum Alquran tersebut didirikan. Menurut Ketua III IKADI Jember Agus Rohmawan, ada banyak faktor yang melatarbelakangi berdirinya museum Alquran tersebut. Salah satunya keprihatinan dalam aspek pembelajaran Alquran bagi penyandang tunanetra. “Seperti yang kita ketahui Alquran adalah rahmatan lil’alamin. Sedangkan saudara kita yang disabilitas kurang terperhatikan dari sisi pembelajaran Alquran,” tutur Agus kepada Jawa Pos Radar Jember, sembari menunjukkan Alquran Braille-nya.

Disabilitas tunanetra sendiri, lanjut dia, kerap menghadapi tantangan untuk membaca Alquran. Karenanya, ketersediaan Alquran Braille sangat dibutuhkan oleh penyandang disabilitas tunanetra. Selain untuk ibadah, juga perlu sebagai kajian.

“Kami dedikasikan khusus pembelajaran Alquran ini bagi rekan-rekan difabel. Apakah itu tunanetra, atau teman-teman bisu tuli, ataupun difabel fisik lain yang juga kurang terperhatikan,” imbuh pria yang akrab disapa Ustad Agus ini.

Dengan Alquran Braille, tunanetra dapat membaca Alquran serta menavigasikan halaman dengan mudah. Agus menjelaskan, Alquran Braille memiliki ciri yang khas. Dari sisi ukurannya sendiri juga berbeda. Cukup besar.

“Kalau Alquran Braille ini, satu juz ya satu jilid kitab besar. Berarti ada 30 jilid besar. Beratnya kalau ditotal semua bisa mencapai 19-20 kilogram dalam satu kotak besar. Kalau mau dibawa ke mana-mana ya susah,” beber Agus.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/