alexametrics
26.5 C
Jember
Thursday, 11 August 2022

Kehidupan Nakes Saat Terpapar Covid-19

Saat dinyatakan positif Covid-19, nakes harus berjibaku agar lekas pulih dan kembali bertugas. Di sisi lain, ada tekanan batin dan sosial yang kerap mengendurkan semangat. Lantas, bagaimana mereka melewati semuanya itu? Berikut penuturan salah satu nakes yang menjadi penyintas.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sebagai seorang tenaga kesehatan atau nakes, mereka dituntut selalu siap memberikan pelayanan kesehatan untuk masyarakat. Bahkan, kalau perlu 24 jam. Tapi, jika nakes tengah sakit, belum tentu ada yang siap 24 jam membantu merawat mereka. Apalagi jika terpapar atau positif Covid-19. Inilah salah satu pilu yang dirasakan Wulan Septa Anjar Rahayu, nakes yang bertugas di Puskesmas Desa Sumberbulus, Kecamatan Ledokombo.

Sebagai salah satu garda terdepan dalam penanganan Covid-19, tidak mudah bagi dia melewati masa-masa sulit itu. Kadang, dia mengalami tekanan batin lantaran khawatir keluarganya tertular atau jadi omongan masyarakat. “Dulu, kami selalu ada dan membantu masyarakat. Giliran kami yang sakit, belum tentu,” kenangnya, saat membuka pembicaraan dengan Jawa Pos Radar Jember, kemarin (8/8).

Perempuan 32 tahun itu mengisahkan awal kali ia terpapar Covid-19. Pada sekitar Desember 2020, ia mengikuti tim rapid test untuk desa-desa setempat di Kecamatan Ledokombo. Kesibukannya itu berlangsung beberapa minggu. Saat fisik mulai terasa lelah dan kurang enak bedan, Wulan mengistirahatkan diri. Secara bersamaan, ia juga memeriksakan diri sekaligus rapid test. Hasilnya, ia dinyatakan positif Covid-19, menyusul beberapa rekan nakes lain yang juga terpapar. Hanya selang hitungan hari. “Saat itu kaget, saya juga positif. Akhirnya, saya isoman (isolasi mandiri, Red) selama 15 hari,” kenangnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Saat dinyatakan positif itulah, ujian berat benar-benar ia rasakan. Ia terpaksa meletakkan sementara kesibukan di tempat tugas untuk memulihkan kondisinya. Sementara diam di rumah, menjalani isoman. “Saat saya isoman, tetangga samping, depan, belakang, tidak mau tahu. Malah mereka seperti parno (paranoid). Anak saya mau main, mau ngaji, itu tidak boleh. Jadi, rasanya gimana gitu,” aku Wulan.

Ia juga mengutarakan isi batinnya. Wulan yang setiap saat selalu ada apabila tetangga kanan kirinya membutuhkan layanan kesehatan, namun giliran dia yang sakit, hampir semuanya mengucilkan. Bahkan, buah hatinya juga jadi korban ketakutan tetangganya. Namun, Wulan mengaku tetap tabah menghadapinya. Saat itu, kata dia, Wulan hanya fokus agar bisa lekas sehat dan tetap bisa memberikan yang terbaik untuk keluarga. Terutama untuk buah hatinya yang saat itu baru berusia satu tahun.

Tak hanya menyusui buah hatinya, saat isoman itu, anak keduanya juga terindikasi persis seperti Wulan. Ada gejala pusing, sesak, dan mati indra penciumannya. Ia pun akhirnya merawat buah hatinya itu di rumah. “Jadi, saat saya isoman, saya menyusui si kecil. Lalu, anak kedua saya rawat sendiri, dengan dikasih infus di rumah. Alhamdulillah, lima hari sudah sehat lagi,” kenang ibu tiga anak ini.

Melihat buah hatinya yang kembali pulih dalam waktu lima hari, Wulan mengaku mulai optimistis dan percaya diri. Ia juga percaya tidak ada asupan terbaik untuk bayinya selain ASI. Karenanya, sekalipun isoman, Wulan tetap menguatkan hatinya untuk menyusui.

Memasuki masa 10 hari isoman, ia akhirnya mencoba swab test mandiri di Jember kota. Ia masih ingat, saat itu biaya swab test mandiri Rp 1,5 juta. Saking inginnya cepat sehat, ia rela bayar mahal. Setelah hasilnya keluar, Wulan akhirnya dinyatakan negatif.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sebagai seorang tenaga kesehatan atau nakes, mereka dituntut selalu siap memberikan pelayanan kesehatan untuk masyarakat. Bahkan, kalau perlu 24 jam. Tapi, jika nakes tengah sakit, belum tentu ada yang siap 24 jam membantu merawat mereka. Apalagi jika terpapar atau positif Covid-19. Inilah salah satu pilu yang dirasakan Wulan Septa Anjar Rahayu, nakes yang bertugas di Puskesmas Desa Sumberbulus, Kecamatan Ledokombo.

Sebagai salah satu garda terdepan dalam penanganan Covid-19, tidak mudah bagi dia melewati masa-masa sulit itu. Kadang, dia mengalami tekanan batin lantaran khawatir keluarganya tertular atau jadi omongan masyarakat. “Dulu, kami selalu ada dan membantu masyarakat. Giliran kami yang sakit, belum tentu,” kenangnya, saat membuka pembicaraan dengan Jawa Pos Radar Jember, kemarin (8/8).

Perempuan 32 tahun itu mengisahkan awal kali ia terpapar Covid-19. Pada sekitar Desember 2020, ia mengikuti tim rapid test untuk desa-desa setempat di Kecamatan Ledokombo. Kesibukannya itu berlangsung beberapa minggu. Saat fisik mulai terasa lelah dan kurang enak bedan, Wulan mengistirahatkan diri. Secara bersamaan, ia juga memeriksakan diri sekaligus rapid test. Hasilnya, ia dinyatakan positif Covid-19, menyusul beberapa rekan nakes lain yang juga terpapar. Hanya selang hitungan hari. “Saat itu kaget, saya juga positif. Akhirnya, saya isoman (isolasi mandiri, Red) selama 15 hari,” kenangnya.

Saat dinyatakan positif itulah, ujian berat benar-benar ia rasakan. Ia terpaksa meletakkan sementara kesibukan di tempat tugas untuk memulihkan kondisinya. Sementara diam di rumah, menjalani isoman. “Saat saya isoman, tetangga samping, depan, belakang, tidak mau tahu. Malah mereka seperti parno (paranoid). Anak saya mau main, mau ngaji, itu tidak boleh. Jadi, rasanya gimana gitu,” aku Wulan.

Ia juga mengutarakan isi batinnya. Wulan yang setiap saat selalu ada apabila tetangga kanan kirinya membutuhkan layanan kesehatan, namun giliran dia yang sakit, hampir semuanya mengucilkan. Bahkan, buah hatinya juga jadi korban ketakutan tetangganya. Namun, Wulan mengaku tetap tabah menghadapinya. Saat itu, kata dia, Wulan hanya fokus agar bisa lekas sehat dan tetap bisa memberikan yang terbaik untuk keluarga. Terutama untuk buah hatinya yang saat itu baru berusia satu tahun.

Tak hanya menyusui buah hatinya, saat isoman itu, anak keduanya juga terindikasi persis seperti Wulan. Ada gejala pusing, sesak, dan mati indra penciumannya. Ia pun akhirnya merawat buah hatinya itu di rumah. “Jadi, saat saya isoman, saya menyusui si kecil. Lalu, anak kedua saya rawat sendiri, dengan dikasih infus di rumah. Alhamdulillah, lima hari sudah sehat lagi,” kenang ibu tiga anak ini.

Melihat buah hatinya yang kembali pulih dalam waktu lima hari, Wulan mengaku mulai optimistis dan percaya diri. Ia juga percaya tidak ada asupan terbaik untuk bayinya selain ASI. Karenanya, sekalipun isoman, Wulan tetap menguatkan hatinya untuk menyusui.

Memasuki masa 10 hari isoman, ia akhirnya mencoba swab test mandiri di Jember kota. Ia masih ingat, saat itu biaya swab test mandiri Rp 1,5 juta. Saking inginnya cepat sehat, ia rela bayar mahal. Setelah hasilnya keluar, Wulan akhirnya dinyatakan negatif.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sebagai seorang tenaga kesehatan atau nakes, mereka dituntut selalu siap memberikan pelayanan kesehatan untuk masyarakat. Bahkan, kalau perlu 24 jam. Tapi, jika nakes tengah sakit, belum tentu ada yang siap 24 jam membantu merawat mereka. Apalagi jika terpapar atau positif Covid-19. Inilah salah satu pilu yang dirasakan Wulan Septa Anjar Rahayu, nakes yang bertugas di Puskesmas Desa Sumberbulus, Kecamatan Ledokombo.

Sebagai salah satu garda terdepan dalam penanganan Covid-19, tidak mudah bagi dia melewati masa-masa sulit itu. Kadang, dia mengalami tekanan batin lantaran khawatir keluarganya tertular atau jadi omongan masyarakat. “Dulu, kami selalu ada dan membantu masyarakat. Giliran kami yang sakit, belum tentu,” kenangnya, saat membuka pembicaraan dengan Jawa Pos Radar Jember, kemarin (8/8).

Perempuan 32 tahun itu mengisahkan awal kali ia terpapar Covid-19. Pada sekitar Desember 2020, ia mengikuti tim rapid test untuk desa-desa setempat di Kecamatan Ledokombo. Kesibukannya itu berlangsung beberapa minggu. Saat fisik mulai terasa lelah dan kurang enak bedan, Wulan mengistirahatkan diri. Secara bersamaan, ia juga memeriksakan diri sekaligus rapid test. Hasilnya, ia dinyatakan positif Covid-19, menyusul beberapa rekan nakes lain yang juga terpapar. Hanya selang hitungan hari. “Saat itu kaget, saya juga positif. Akhirnya, saya isoman (isolasi mandiri, Red) selama 15 hari,” kenangnya.

Saat dinyatakan positif itulah, ujian berat benar-benar ia rasakan. Ia terpaksa meletakkan sementara kesibukan di tempat tugas untuk memulihkan kondisinya. Sementara diam di rumah, menjalani isoman. “Saat saya isoman, tetangga samping, depan, belakang, tidak mau tahu. Malah mereka seperti parno (paranoid). Anak saya mau main, mau ngaji, itu tidak boleh. Jadi, rasanya gimana gitu,” aku Wulan.

Ia juga mengutarakan isi batinnya. Wulan yang setiap saat selalu ada apabila tetangga kanan kirinya membutuhkan layanan kesehatan, namun giliran dia yang sakit, hampir semuanya mengucilkan. Bahkan, buah hatinya juga jadi korban ketakutan tetangganya. Namun, Wulan mengaku tetap tabah menghadapinya. Saat itu, kata dia, Wulan hanya fokus agar bisa lekas sehat dan tetap bisa memberikan yang terbaik untuk keluarga. Terutama untuk buah hatinya yang saat itu baru berusia satu tahun.

Tak hanya menyusui buah hatinya, saat isoman itu, anak keduanya juga terindikasi persis seperti Wulan. Ada gejala pusing, sesak, dan mati indra penciumannya. Ia pun akhirnya merawat buah hatinya itu di rumah. “Jadi, saat saya isoman, saya menyusui si kecil. Lalu, anak kedua saya rawat sendiri, dengan dikasih infus di rumah. Alhamdulillah, lima hari sudah sehat lagi,” kenang ibu tiga anak ini.

Melihat buah hatinya yang kembali pulih dalam waktu lima hari, Wulan mengaku mulai optimistis dan percaya diri. Ia juga percaya tidak ada asupan terbaik untuk bayinya selain ASI. Karenanya, sekalipun isoman, Wulan tetap menguatkan hatinya untuk menyusui.

Memasuki masa 10 hari isoman, ia akhirnya mencoba swab test mandiri di Jember kota. Ia masih ingat, saat itu biaya swab test mandiri Rp 1,5 juta. Saking inginnya cepat sehat, ia rela bayar mahal. Setelah hasilnya keluar, Wulan akhirnya dinyatakan negatif.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/