alexametrics
29.2 C
Jember
Friday, 1 July 2022

Jember Peringkat Tiga Besar Laporan Kekerasan Anak Se-Jatim

Mobile_AP_Rectangle 1

Dia menjelaskan, rata-rata anak mengalami kekerasan fisik akibat permasalahan keluarga dan perceraian orang tua. “Penyebabnya rata-rata karena broken home, sampai 70 persen,” kata Boedi.

Meski mendapati laporan kasus yang tinggi, pihaknya tidak lantas khawatir berlebihan. Justru, kata Boedi, semakin banyak yang melapor semakin baik. “Artinya masyarakat Jember sudah mulai sadar dan mengerti jika ada kasus ke mana akan melapor,” tanggapnya.

Joko Sutriswanto, Kabid Perlindungan Anak DP3AKB Jember, mengatakan, anak menjadi pihak yang rentan selain perempuan dalam tindak kekerasan. Selain karena mereka kurang bisa speak up atau melapor, juga belum memahami hak-haknya sebagai anak yang seharusnya dilindungi dengan aman. Oleh karena itu, peran orang tua dan guru sangat dibutuhkan. “Dalam hal ini, negara juga menjadi payung pelindung anak,” serunya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pemahaman kepada anak mengenai organ reproduksi perlu dilakukan sejak dini. Cara penyampaiannya, kata Joko, bisa memakai lagu-lagu sebagai perkenalannya. “Tidak perlu ragu-ragu membicarakan mengenai alat reproduksi dan penamaannya kepada anak, ini bentuk edukasi,” terang Joko. (mg8/c2/dwi)

- Advertisement -

Dia menjelaskan, rata-rata anak mengalami kekerasan fisik akibat permasalahan keluarga dan perceraian orang tua. “Penyebabnya rata-rata karena broken home, sampai 70 persen,” kata Boedi.

Meski mendapati laporan kasus yang tinggi, pihaknya tidak lantas khawatir berlebihan. Justru, kata Boedi, semakin banyak yang melapor semakin baik. “Artinya masyarakat Jember sudah mulai sadar dan mengerti jika ada kasus ke mana akan melapor,” tanggapnya.

Joko Sutriswanto, Kabid Perlindungan Anak DP3AKB Jember, mengatakan, anak menjadi pihak yang rentan selain perempuan dalam tindak kekerasan. Selain karena mereka kurang bisa speak up atau melapor, juga belum memahami hak-haknya sebagai anak yang seharusnya dilindungi dengan aman. Oleh karena itu, peran orang tua dan guru sangat dibutuhkan. “Dalam hal ini, negara juga menjadi payung pelindung anak,” serunya.

Pemahaman kepada anak mengenai organ reproduksi perlu dilakukan sejak dini. Cara penyampaiannya, kata Joko, bisa memakai lagu-lagu sebagai perkenalannya. “Tidak perlu ragu-ragu membicarakan mengenai alat reproduksi dan penamaannya kepada anak, ini bentuk edukasi,” terang Joko. (mg8/c2/dwi)

Dia menjelaskan, rata-rata anak mengalami kekerasan fisik akibat permasalahan keluarga dan perceraian orang tua. “Penyebabnya rata-rata karena broken home, sampai 70 persen,” kata Boedi.

Meski mendapati laporan kasus yang tinggi, pihaknya tidak lantas khawatir berlebihan. Justru, kata Boedi, semakin banyak yang melapor semakin baik. “Artinya masyarakat Jember sudah mulai sadar dan mengerti jika ada kasus ke mana akan melapor,” tanggapnya.

Joko Sutriswanto, Kabid Perlindungan Anak DP3AKB Jember, mengatakan, anak menjadi pihak yang rentan selain perempuan dalam tindak kekerasan. Selain karena mereka kurang bisa speak up atau melapor, juga belum memahami hak-haknya sebagai anak yang seharusnya dilindungi dengan aman. Oleh karena itu, peran orang tua dan guru sangat dibutuhkan. “Dalam hal ini, negara juga menjadi payung pelindung anak,” serunya.

Pemahaman kepada anak mengenai organ reproduksi perlu dilakukan sejak dini. Cara penyampaiannya, kata Joko, bisa memakai lagu-lagu sebagai perkenalannya. “Tidak perlu ragu-ragu membicarakan mengenai alat reproduksi dan penamaannya kepada anak, ini bentuk edukasi,” terang Joko. (mg8/c2/dwi)

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/