alexametrics
24.3 C
Jember
Friday, 20 May 2022

Ancam Sumber Air, Warga Jenggawah Tolak Tambang Gumuk Liar

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID- Aktivitas penambangan gumuk tak berizin di Dusun Krajan Tengah, Desa Kertonegoro, Kecamatan Jenggawah, mendapat penolakan dari warga. Sebab, kegiatan pengerukan tanah gumuk tersebut mengancam sumber air, serta pemakaman umum di dusun setempat.

Edy Sutiono, salah seorang warga yang menolak penambangan itu, mengatakan, aktivitas pengerukan tersebut sudah berlangsung selama sepekan belakangan. Menurutnya, warga tidak tahu persis siapa pengusaha di balik penambangan ini. Sebab, banyak warga yang tidak dipamiti. “Sebelumnya memang ada seseorang yang keliling meminta tanda tangan. Ada warga yang setuju dan mendapat kompensasi Rp 50 ribu. Namun lebih banyak yang menolak. Yang meminta tanda tangan persetujuan itu bukan pengusaha langsung, tapi sopir truk,” katanya.

Edy menuturkan, banyak dampak negatif yang diterima warga bila pengerukan gumuk itu dilanjutkan. Selain merusak lingkungan, sumber air yang menjadi tumpuan para petani di daerah setempat juga terancam. Sebab, kata dia, di bawah gumuk itu ada sumber air yang digunakan petani mengairi sawahnya. “Sawah saya dekat gumuk ini. Sekitar 50 meter. Kalau gumuk sampai habis, maka sumber air juga akan hilang,” ungkapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Tak hanya itu, Edy menambahkan, di balik gumuk, tepatnya sisi barat, ada pemakaman umum warga. Jika aktivitas pengerukan itu tak distop, maka areal pemakaman juga bakal tergusur. “Apalagi, saat alat berat melakukan pengerukan, getarannya sampai terasa di rumah-rumah warga. Karena gumuk itu memang mepet dengan permukiman,” ucapnya.

Selama aktivitas penambangan berlangsung, Edy berkata, ada sekitar 50 hingga 60 truk yang hilir mudik mengangkut material tanah. Lalu lalang kendaraan pengangkut ini dinilainya juga mengganggu warga. Terlebih, lokasi tambang cukup dekat dengan SMPN 2 Jenggawah. “Makanya warga sepakat untuk menghentikan. Kemarin sempat ditutup, kemudian beroperasi lagi. Dan hari ini mereka sudah berhenti. Rencananya besok ada mediasi di kantor desa,” tuturnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID- Aktivitas penambangan gumuk tak berizin di Dusun Krajan Tengah, Desa Kertonegoro, Kecamatan Jenggawah, mendapat penolakan dari warga. Sebab, kegiatan pengerukan tanah gumuk tersebut mengancam sumber air, serta pemakaman umum di dusun setempat.

Edy Sutiono, salah seorang warga yang menolak penambangan itu, mengatakan, aktivitas pengerukan tersebut sudah berlangsung selama sepekan belakangan. Menurutnya, warga tidak tahu persis siapa pengusaha di balik penambangan ini. Sebab, banyak warga yang tidak dipamiti. “Sebelumnya memang ada seseorang yang keliling meminta tanda tangan. Ada warga yang setuju dan mendapat kompensasi Rp 50 ribu. Namun lebih banyak yang menolak. Yang meminta tanda tangan persetujuan itu bukan pengusaha langsung, tapi sopir truk,” katanya.

Edy menuturkan, banyak dampak negatif yang diterima warga bila pengerukan gumuk itu dilanjutkan. Selain merusak lingkungan, sumber air yang menjadi tumpuan para petani di daerah setempat juga terancam. Sebab, kata dia, di bawah gumuk itu ada sumber air yang digunakan petani mengairi sawahnya. “Sawah saya dekat gumuk ini. Sekitar 50 meter. Kalau gumuk sampai habis, maka sumber air juga akan hilang,” ungkapnya.

Tak hanya itu, Edy menambahkan, di balik gumuk, tepatnya sisi barat, ada pemakaman umum warga. Jika aktivitas pengerukan itu tak distop, maka areal pemakaman juga bakal tergusur. “Apalagi, saat alat berat melakukan pengerukan, getarannya sampai terasa di rumah-rumah warga. Karena gumuk itu memang mepet dengan permukiman,” ucapnya.

Selama aktivitas penambangan berlangsung, Edy berkata, ada sekitar 50 hingga 60 truk yang hilir mudik mengangkut material tanah. Lalu lalang kendaraan pengangkut ini dinilainya juga mengganggu warga. Terlebih, lokasi tambang cukup dekat dengan SMPN 2 Jenggawah. “Makanya warga sepakat untuk menghentikan. Kemarin sempat ditutup, kemudian beroperasi lagi. Dan hari ini mereka sudah berhenti. Rencananya besok ada mediasi di kantor desa,” tuturnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID- Aktivitas penambangan gumuk tak berizin di Dusun Krajan Tengah, Desa Kertonegoro, Kecamatan Jenggawah, mendapat penolakan dari warga. Sebab, kegiatan pengerukan tanah gumuk tersebut mengancam sumber air, serta pemakaman umum di dusun setempat.

Edy Sutiono, salah seorang warga yang menolak penambangan itu, mengatakan, aktivitas pengerukan tersebut sudah berlangsung selama sepekan belakangan. Menurutnya, warga tidak tahu persis siapa pengusaha di balik penambangan ini. Sebab, banyak warga yang tidak dipamiti. “Sebelumnya memang ada seseorang yang keliling meminta tanda tangan. Ada warga yang setuju dan mendapat kompensasi Rp 50 ribu. Namun lebih banyak yang menolak. Yang meminta tanda tangan persetujuan itu bukan pengusaha langsung, tapi sopir truk,” katanya.

Edy menuturkan, banyak dampak negatif yang diterima warga bila pengerukan gumuk itu dilanjutkan. Selain merusak lingkungan, sumber air yang menjadi tumpuan para petani di daerah setempat juga terancam. Sebab, kata dia, di bawah gumuk itu ada sumber air yang digunakan petani mengairi sawahnya. “Sawah saya dekat gumuk ini. Sekitar 50 meter. Kalau gumuk sampai habis, maka sumber air juga akan hilang,” ungkapnya.

Tak hanya itu, Edy menambahkan, di balik gumuk, tepatnya sisi barat, ada pemakaman umum warga. Jika aktivitas pengerukan itu tak distop, maka areal pemakaman juga bakal tergusur. “Apalagi, saat alat berat melakukan pengerukan, getarannya sampai terasa di rumah-rumah warga. Karena gumuk itu memang mepet dengan permukiman,” ucapnya.

Selama aktivitas penambangan berlangsung, Edy berkata, ada sekitar 50 hingga 60 truk yang hilir mudik mengangkut material tanah. Lalu lalang kendaraan pengangkut ini dinilainya juga mengganggu warga. Terlebih, lokasi tambang cukup dekat dengan SMPN 2 Jenggawah. “Makanya warga sepakat untuk menghentikan. Kemarin sempat ditutup, kemudian beroperasi lagi. Dan hari ini mereka sudah berhenti. Rencananya besok ada mediasi di kantor desa,” tuturnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/