alexametrics
27.8 C
Jember
Sunday, 26 June 2022

Lebih 70 Persen Tak Sesuai Peruntukan

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Dosen Teknik Sipil Universitas Jember Dr Anik Ratnaningsih mengatakan, daerah sempadan sungai di Jember sudah banyak beralih fungsi. Bangunan-bangunan di pinggir sungai berdiri, termasuk dipakai sebagai lahan produktif. Bahkan, setidaknya 75 persen daerah sempadan sungai tidak sesuai peruntukannya.

“Kalau lihat sungai-sungai di daerah kampus saja, banyak bangunan berdiri di pinggir sungai. Bahkan, tiang-tiang penyangga bangunan juga terlihat berdiri di sempadan sungai,” terangnya.

Daerah sempadan sungai di Jember yang dulu banyak pepohonan besar dan menghasilkan oksigen, secara berangsur diubah jadi lahan produktif, hingga rumah dan pertokoan seperti di Jompo. “Daerah sempadan sungai itu tidak boleh ditanami tanaman produktif. Termasuk tanaman kopi juga tidak diperuntukkan di pinggir sungai,” jelasnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Menurut Anik, sungai itu punya karakter tersendiri dan selalu berkelok-kelok. Dari hulu, sungai tidak membawa debit air sungai itu sendiri, tapi juga termasuk material-material lain yang membuat sedimen-sedimen. Sedimentasi itulah yang membuat sungai berkelok, serta yang secara berangsur-angsur mengakibatkan sungai mengalami penyempitan. “Dulu, walaupun musim kering. sungai itu selalu ada air. Jika hujan pun tidak meluap. Tapi sekarang musim kemarau sungai mengering,” tuturnya.

Karena mengering itulah, kata dia, masyarakat merasa pinggir sungai itu aman. Sehingga, mulai membangun rumah dan tanaman produktif. Dengan penambahan bangunan dan mengubah menjadi lahan produktif, akan terjadi penyempitan sungai. “Semakin lama semakin menyempit, termasuk di Jompo juga terjadi penyempitan,” terangnya.

Jika dimulai dari hulu ke hilir, daerah sempadan sungai di Jember hanya menyisakan sekitar 30-25 persen yang sesuai dengan semestinya. Sehingga, setidaknya sekitar 75 persen yang tidak sesuai. “Kalau sungai di daerah perkotaan saja lebih dari 70 persen,” terangnya.

Daerah sempadan sungai juga diatur oleh Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat RI Nomor 28 Tahun 2015. Perempuan asal Gresik ini menjelaskan, secara sederhana kategori sempadan sungai itu dibedakan, bertanggul atau plengsengan atau tidak bertanggul. “Kedalaman sungai juga dibagi, dari 3 meter, 15 meter, dan di atas 15 meter,” tuturnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Dosen Teknik Sipil Universitas Jember Dr Anik Ratnaningsih mengatakan, daerah sempadan sungai di Jember sudah banyak beralih fungsi. Bangunan-bangunan di pinggir sungai berdiri, termasuk dipakai sebagai lahan produktif. Bahkan, setidaknya 75 persen daerah sempadan sungai tidak sesuai peruntukannya.

“Kalau lihat sungai-sungai di daerah kampus saja, banyak bangunan berdiri di pinggir sungai. Bahkan, tiang-tiang penyangga bangunan juga terlihat berdiri di sempadan sungai,” terangnya.

Daerah sempadan sungai di Jember yang dulu banyak pepohonan besar dan menghasilkan oksigen, secara berangsur diubah jadi lahan produktif, hingga rumah dan pertokoan seperti di Jompo. “Daerah sempadan sungai itu tidak boleh ditanami tanaman produktif. Termasuk tanaman kopi juga tidak diperuntukkan di pinggir sungai,” jelasnya.

Menurut Anik, sungai itu punya karakter tersendiri dan selalu berkelok-kelok. Dari hulu, sungai tidak membawa debit air sungai itu sendiri, tapi juga termasuk material-material lain yang membuat sedimen-sedimen. Sedimentasi itulah yang membuat sungai berkelok, serta yang secara berangsur-angsur mengakibatkan sungai mengalami penyempitan. “Dulu, walaupun musim kering. sungai itu selalu ada air. Jika hujan pun tidak meluap. Tapi sekarang musim kemarau sungai mengering,” tuturnya.

Karena mengering itulah, kata dia, masyarakat merasa pinggir sungai itu aman. Sehingga, mulai membangun rumah dan tanaman produktif. Dengan penambahan bangunan dan mengubah menjadi lahan produktif, akan terjadi penyempitan sungai. “Semakin lama semakin menyempit, termasuk di Jompo juga terjadi penyempitan,” terangnya.

Jika dimulai dari hulu ke hilir, daerah sempadan sungai di Jember hanya menyisakan sekitar 30-25 persen yang sesuai dengan semestinya. Sehingga, setidaknya sekitar 75 persen yang tidak sesuai. “Kalau sungai di daerah perkotaan saja lebih dari 70 persen,” terangnya.

Daerah sempadan sungai juga diatur oleh Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat RI Nomor 28 Tahun 2015. Perempuan asal Gresik ini menjelaskan, secara sederhana kategori sempadan sungai itu dibedakan, bertanggul atau plengsengan atau tidak bertanggul. “Kedalaman sungai juga dibagi, dari 3 meter, 15 meter, dan di atas 15 meter,” tuturnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Dosen Teknik Sipil Universitas Jember Dr Anik Ratnaningsih mengatakan, daerah sempadan sungai di Jember sudah banyak beralih fungsi. Bangunan-bangunan di pinggir sungai berdiri, termasuk dipakai sebagai lahan produktif. Bahkan, setidaknya 75 persen daerah sempadan sungai tidak sesuai peruntukannya.

“Kalau lihat sungai-sungai di daerah kampus saja, banyak bangunan berdiri di pinggir sungai. Bahkan, tiang-tiang penyangga bangunan juga terlihat berdiri di sempadan sungai,” terangnya.

Daerah sempadan sungai di Jember yang dulu banyak pepohonan besar dan menghasilkan oksigen, secara berangsur diubah jadi lahan produktif, hingga rumah dan pertokoan seperti di Jompo. “Daerah sempadan sungai itu tidak boleh ditanami tanaman produktif. Termasuk tanaman kopi juga tidak diperuntukkan di pinggir sungai,” jelasnya.

Menurut Anik, sungai itu punya karakter tersendiri dan selalu berkelok-kelok. Dari hulu, sungai tidak membawa debit air sungai itu sendiri, tapi juga termasuk material-material lain yang membuat sedimen-sedimen. Sedimentasi itulah yang membuat sungai berkelok, serta yang secara berangsur-angsur mengakibatkan sungai mengalami penyempitan. “Dulu, walaupun musim kering. sungai itu selalu ada air. Jika hujan pun tidak meluap. Tapi sekarang musim kemarau sungai mengering,” tuturnya.

Karena mengering itulah, kata dia, masyarakat merasa pinggir sungai itu aman. Sehingga, mulai membangun rumah dan tanaman produktif. Dengan penambahan bangunan dan mengubah menjadi lahan produktif, akan terjadi penyempitan sungai. “Semakin lama semakin menyempit, termasuk di Jompo juga terjadi penyempitan,” terangnya.

Jika dimulai dari hulu ke hilir, daerah sempadan sungai di Jember hanya menyisakan sekitar 30-25 persen yang sesuai dengan semestinya. Sehingga, setidaknya sekitar 75 persen yang tidak sesuai. “Kalau sungai di daerah perkotaan saja lebih dari 70 persen,” terangnya.

Daerah sempadan sungai juga diatur oleh Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat RI Nomor 28 Tahun 2015. Perempuan asal Gresik ini menjelaskan, secara sederhana kategori sempadan sungai itu dibedakan, bertanggul atau plengsengan atau tidak bertanggul. “Kedalaman sungai juga dibagi, dari 3 meter, 15 meter, dan di atas 15 meter,” tuturnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/