alexametrics
23.9 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

Satria Antasena Atlet Tinju Jember, Jadi Pengasuh Panti Anak Telantar

Menjadi guru adalah sebuah panggilan. Guru tidak hanya dimaknai sebagai pendidik, tetapi memiliki arti yang luas. Siapa saja bisa menjadi guru, seperti halnya Satria Antasena. Dia adalah atlet tinju yang memutuskan nyambi menjadi guru mengaji dan baca tulis bagi 100 anak telantar. Bagaimana kisahnya?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Nama Satria Antasena sudah tidak asing lagi di dunia olahraga Kabupaten Jember. Dia adalah atlet tinju asli Jember yang kerap menyabet penghargaan. Petinju kelas bulu yang juga pernah bertanding di kelas berat ringan ini sekarang mulai disibukkan dengan kegiatan mengajar.

Sejak 2015 silam, laki-laki yang akrab disapa Holil ini mulai mengabdikan diri pada dunia pendidikan. Ia dan istrinya membangun sebuah rumah untuk menampung anak-anak yang telantar karena broken home ataupun anak-anak dengan kondisi finansial keluarga yang tidak baik. Untuk kemudian diberikan akses pendidikan yang layak. Program ini dinamai Fair Course, program yang memberikan bimbingan belajar siswa sampai perawatan anak-anak yang telantar. Tidak ada pungutan biaya untuk mengikuti program ini.

Niat ini tebersit ketika ia melihat kondisi keluarganya yang minim pendidikan. Hampir 70 persen keluarganya tidak menempuh jenjang pendidikan. Ditambah lagi, mayoritas anak-anak di lingkungannya tinggal tidak sekolah. Sebabnya, orang tua yang kurang peduli pada pendidikan, ada pula karena anak-anak itu terlahir dari keluarga broken home.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Hampir 70 persen keluarga saya gak sekolah. Gak bisa baca tulis,” kata laki-laki kelahiran Rembangan ini, Selasa (8/2).

Gayung bersambut. Sebanyak 70 anak mulai berbondong-bondong untuk mengikuti program Fair Course milik Holil. Mereka kebanyakan dari kalangan keluarga kurang mampu. “Yang gak sekolah ya disekolahkan. Setelah sekolah, kami bikin program belajar yang menyenangkan, belajar mengaji, olahraga, dan lainnya,” tutur laki-laki yang tinggal di Tegal Besar itu.

Program ini pun berkembang pesat. Hingga pada 2019, Holil dan istrinya membuka cabang kedua Fair Course di Perumahan Tegal Besar. Di sana terdapat 23 anak yang ditampung. Kini, anak-anak itu tidak hanya dari Jember. Namun, juga ada dari berbagai kabupaten di luar Jember.

“Kadang ada orang tua yang menyerahkan. Kami tidak membatasi anak ini mau diambil kapan. Mau dijenguk kapan. Kalau orang tuanya mau mengambil, ya ambil saja. Kalau tidak, kami akan menyekolahkan setinggi-tingginya,” jelasnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Nama Satria Antasena sudah tidak asing lagi di dunia olahraga Kabupaten Jember. Dia adalah atlet tinju asli Jember yang kerap menyabet penghargaan. Petinju kelas bulu yang juga pernah bertanding di kelas berat ringan ini sekarang mulai disibukkan dengan kegiatan mengajar.

Sejak 2015 silam, laki-laki yang akrab disapa Holil ini mulai mengabdikan diri pada dunia pendidikan. Ia dan istrinya membangun sebuah rumah untuk menampung anak-anak yang telantar karena broken home ataupun anak-anak dengan kondisi finansial keluarga yang tidak baik. Untuk kemudian diberikan akses pendidikan yang layak. Program ini dinamai Fair Course, program yang memberikan bimbingan belajar siswa sampai perawatan anak-anak yang telantar. Tidak ada pungutan biaya untuk mengikuti program ini.

Niat ini tebersit ketika ia melihat kondisi keluarganya yang minim pendidikan. Hampir 70 persen keluarganya tidak menempuh jenjang pendidikan. Ditambah lagi, mayoritas anak-anak di lingkungannya tinggal tidak sekolah. Sebabnya, orang tua yang kurang peduli pada pendidikan, ada pula karena anak-anak itu terlahir dari keluarga broken home.

“Hampir 70 persen keluarga saya gak sekolah. Gak bisa baca tulis,” kata laki-laki kelahiran Rembangan ini, Selasa (8/2).

Gayung bersambut. Sebanyak 70 anak mulai berbondong-bondong untuk mengikuti program Fair Course milik Holil. Mereka kebanyakan dari kalangan keluarga kurang mampu. “Yang gak sekolah ya disekolahkan. Setelah sekolah, kami bikin program belajar yang menyenangkan, belajar mengaji, olahraga, dan lainnya,” tutur laki-laki yang tinggal di Tegal Besar itu.

Program ini pun berkembang pesat. Hingga pada 2019, Holil dan istrinya membuka cabang kedua Fair Course di Perumahan Tegal Besar. Di sana terdapat 23 anak yang ditampung. Kini, anak-anak itu tidak hanya dari Jember. Namun, juga ada dari berbagai kabupaten di luar Jember.

“Kadang ada orang tua yang menyerahkan. Kami tidak membatasi anak ini mau diambil kapan. Mau dijenguk kapan. Kalau orang tuanya mau mengambil, ya ambil saja. Kalau tidak, kami akan menyekolahkan setinggi-tingginya,” jelasnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Nama Satria Antasena sudah tidak asing lagi di dunia olahraga Kabupaten Jember. Dia adalah atlet tinju asli Jember yang kerap menyabet penghargaan. Petinju kelas bulu yang juga pernah bertanding di kelas berat ringan ini sekarang mulai disibukkan dengan kegiatan mengajar.

Sejak 2015 silam, laki-laki yang akrab disapa Holil ini mulai mengabdikan diri pada dunia pendidikan. Ia dan istrinya membangun sebuah rumah untuk menampung anak-anak yang telantar karena broken home ataupun anak-anak dengan kondisi finansial keluarga yang tidak baik. Untuk kemudian diberikan akses pendidikan yang layak. Program ini dinamai Fair Course, program yang memberikan bimbingan belajar siswa sampai perawatan anak-anak yang telantar. Tidak ada pungutan biaya untuk mengikuti program ini.

Niat ini tebersit ketika ia melihat kondisi keluarganya yang minim pendidikan. Hampir 70 persen keluarganya tidak menempuh jenjang pendidikan. Ditambah lagi, mayoritas anak-anak di lingkungannya tinggal tidak sekolah. Sebabnya, orang tua yang kurang peduli pada pendidikan, ada pula karena anak-anak itu terlahir dari keluarga broken home.

“Hampir 70 persen keluarga saya gak sekolah. Gak bisa baca tulis,” kata laki-laki kelahiran Rembangan ini, Selasa (8/2).

Gayung bersambut. Sebanyak 70 anak mulai berbondong-bondong untuk mengikuti program Fair Course milik Holil. Mereka kebanyakan dari kalangan keluarga kurang mampu. “Yang gak sekolah ya disekolahkan. Setelah sekolah, kami bikin program belajar yang menyenangkan, belajar mengaji, olahraga, dan lainnya,” tutur laki-laki yang tinggal di Tegal Besar itu.

Program ini pun berkembang pesat. Hingga pada 2019, Holil dan istrinya membuka cabang kedua Fair Course di Perumahan Tegal Besar. Di sana terdapat 23 anak yang ditampung. Kini, anak-anak itu tidak hanya dari Jember. Namun, juga ada dari berbagai kabupaten di luar Jember.

“Kadang ada orang tua yang menyerahkan. Kami tidak membatasi anak ini mau diambil kapan. Mau dijenguk kapan. Kalau orang tuanya mau mengambil, ya ambil saja. Kalau tidak, kami akan menyekolahkan setinggi-tingginya,” jelasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/