alexametrics
27.8 C
Jember
Tuesday, 24 May 2022

Perajin Batik Butuh Perhatian

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Perajin batik saat ini jarang mendapatkan perhatian oleh pemerintah. Yustika Febrianti pengrajin batik tulis asal Dusun Krajan Timur, Desa Suco Pangepok, Kecamatan Jelbuk, sudah tiga tahun lebih menekuni usaha tersebut. Namun, usahanya masih belum membuahkan hasil.

Yustika mengatakan, untuk mempunyai alat-alat praktek batik tulis saja, ia harus membeli dengan uang pribadinya dan hanya bisa membelinya satu persatu. Hal tersebut dikarenakan modal yang dimilikinya sangat terbatas. “Dulu tahun 2019 saya pernah meminta bantuan kompor ke kecamatan. Tapi tidak ada respon sampai sekarang. Jadi terpaksa saya menggunakan tungku,” ucapnya. Untungnya saat ini ia bisa membeli kompor satu tungku dengan hasil jeripayahnya.

Yusrika mengungkapkan beberapa waktu yang lalu, Kepala Desa Suco Pangepok pernah berkunjung ke rumahnya. Namun dia hanya melihat-lihat saja. Tidak memesan batik ataupun menyalurkan bantuan. “Pak Kades pernah menjanjikan untuk membuatkan banner, brosur dan lain sebagainya. Tapi sampai sekarang belum ada tindak lanjutnya,” ujarnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Perempuan berkerudung cokelat itu membeberkan bahwa awal-awal dirinya merintis usaha, ia pernah mendapat orderan banyak dari Mantan Bupati Jember Faida yang memesan baju batik untuk 102 orang. Namun, saat ini sebulan hanya dua pesanan saja.

Perempuan 23 tahun itu menyampaikan untuk harga batik tulis per 2,20 meternya ia hargai Rp 200 ribu. Jadi kalau hanya dua orderan, sebulan omset yang ia peroleh hanya Rp 400 ribu saja. Itupun hasilnya masih dibagi tiga dengan adik-adiknya yang membantu. “Saya berharap kepada pemerintah agar lebih memperhatikan UKM. Salah satunya pengrajin batik. Karena jika batik maju, maka yang bangga bukan hanya pengrajin sendiri. Tapi nama desa juga menjadi harum. Untuk menunjang usaha batik, saya berharap pemerintah menyediakan tempat praktek. Soalnya selama ini saya prakteknya di ruang tamu,” tuturnya.

Sementara itu Kepala Desa Suco Pangepok Abd. Rahman mengatakan sejauh ini pihaknya masih belum memiliki agenda untuk memikirkan soal UKM di daerahnya. “Saya ingin Desa Pangepok ini memiliki pengrajin batik semacam itu,” tuturnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Perajin batik saat ini jarang mendapatkan perhatian oleh pemerintah. Yustika Febrianti pengrajin batik tulis asal Dusun Krajan Timur, Desa Suco Pangepok, Kecamatan Jelbuk, sudah tiga tahun lebih menekuni usaha tersebut. Namun, usahanya masih belum membuahkan hasil.

Yustika mengatakan, untuk mempunyai alat-alat praktek batik tulis saja, ia harus membeli dengan uang pribadinya dan hanya bisa membelinya satu persatu. Hal tersebut dikarenakan modal yang dimilikinya sangat terbatas. “Dulu tahun 2019 saya pernah meminta bantuan kompor ke kecamatan. Tapi tidak ada respon sampai sekarang. Jadi terpaksa saya menggunakan tungku,” ucapnya. Untungnya saat ini ia bisa membeli kompor satu tungku dengan hasil jeripayahnya.

Yusrika mengungkapkan beberapa waktu yang lalu, Kepala Desa Suco Pangepok pernah berkunjung ke rumahnya. Namun dia hanya melihat-lihat saja. Tidak memesan batik ataupun menyalurkan bantuan. “Pak Kades pernah menjanjikan untuk membuatkan banner, brosur dan lain sebagainya. Tapi sampai sekarang belum ada tindak lanjutnya,” ujarnya.

Perempuan berkerudung cokelat itu membeberkan bahwa awal-awal dirinya merintis usaha, ia pernah mendapat orderan banyak dari Mantan Bupati Jember Faida yang memesan baju batik untuk 102 orang. Namun, saat ini sebulan hanya dua pesanan saja.

Perempuan 23 tahun itu menyampaikan untuk harga batik tulis per 2,20 meternya ia hargai Rp 200 ribu. Jadi kalau hanya dua orderan, sebulan omset yang ia peroleh hanya Rp 400 ribu saja. Itupun hasilnya masih dibagi tiga dengan adik-adiknya yang membantu. “Saya berharap kepada pemerintah agar lebih memperhatikan UKM. Salah satunya pengrajin batik. Karena jika batik maju, maka yang bangga bukan hanya pengrajin sendiri. Tapi nama desa juga menjadi harum. Untuk menunjang usaha batik, saya berharap pemerintah menyediakan tempat praktek. Soalnya selama ini saya prakteknya di ruang tamu,” tuturnya.

Sementara itu Kepala Desa Suco Pangepok Abd. Rahman mengatakan sejauh ini pihaknya masih belum memiliki agenda untuk memikirkan soal UKM di daerahnya. “Saya ingin Desa Pangepok ini memiliki pengrajin batik semacam itu,” tuturnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Perajin batik saat ini jarang mendapatkan perhatian oleh pemerintah. Yustika Febrianti pengrajin batik tulis asal Dusun Krajan Timur, Desa Suco Pangepok, Kecamatan Jelbuk, sudah tiga tahun lebih menekuni usaha tersebut. Namun, usahanya masih belum membuahkan hasil.

Yustika mengatakan, untuk mempunyai alat-alat praktek batik tulis saja, ia harus membeli dengan uang pribadinya dan hanya bisa membelinya satu persatu. Hal tersebut dikarenakan modal yang dimilikinya sangat terbatas. “Dulu tahun 2019 saya pernah meminta bantuan kompor ke kecamatan. Tapi tidak ada respon sampai sekarang. Jadi terpaksa saya menggunakan tungku,” ucapnya. Untungnya saat ini ia bisa membeli kompor satu tungku dengan hasil jeripayahnya.

Yusrika mengungkapkan beberapa waktu yang lalu, Kepala Desa Suco Pangepok pernah berkunjung ke rumahnya. Namun dia hanya melihat-lihat saja. Tidak memesan batik ataupun menyalurkan bantuan. “Pak Kades pernah menjanjikan untuk membuatkan banner, brosur dan lain sebagainya. Tapi sampai sekarang belum ada tindak lanjutnya,” ujarnya.

Perempuan berkerudung cokelat itu membeberkan bahwa awal-awal dirinya merintis usaha, ia pernah mendapat orderan banyak dari Mantan Bupati Jember Faida yang memesan baju batik untuk 102 orang. Namun, saat ini sebulan hanya dua pesanan saja.

Perempuan 23 tahun itu menyampaikan untuk harga batik tulis per 2,20 meternya ia hargai Rp 200 ribu. Jadi kalau hanya dua orderan, sebulan omset yang ia peroleh hanya Rp 400 ribu saja. Itupun hasilnya masih dibagi tiga dengan adik-adiknya yang membantu. “Saya berharap kepada pemerintah agar lebih memperhatikan UKM. Salah satunya pengrajin batik. Karena jika batik maju, maka yang bangga bukan hanya pengrajin sendiri. Tapi nama desa juga menjadi harum. Untuk menunjang usaha batik, saya berharap pemerintah menyediakan tempat praktek. Soalnya selama ini saya prakteknya di ruang tamu,” tuturnya.

Sementara itu Kepala Desa Suco Pangepok Abd. Rahman mengatakan sejauh ini pihaknya masih belum memiliki agenda untuk memikirkan soal UKM di daerahnya. “Saya ingin Desa Pangepok ini memiliki pengrajin batik semacam itu,” tuturnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/