alexametrics
23 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

Relasi Kuasa Masih Menjadi Penyebab Utama

Pengaduan Kasus Predator Kampus Selama 2020

Mobile_AP_Rectangle 1

Lebih lanjut, Yamini memaparkan bahwa umumnya kasus bermula ketika dosen atau para senior kampus melakukan obrolan yang cukup intens dan di luar topik pembahasan. Obrolan berlangsung melalui daring, lalu lanjut dalam pertemuan. Jika sudah demikian, siklus selanjutnya adalah beberapa dosen akan mengajak untuk pergi berdua. “Ajakan ini tidak wajar. Modusnya bermacam-macam. Salah satunya adalah pemenuhan referensi kuliah,” tegasnya.

Sementara itu, akademisi IAIN Jember sekaligus pemerhati isu perempuan, Nurul Widyawati, mengungkapkan bahwa dalam hal ini kampus perlu melakukan penyegaran kebijakan yang berbasis gender. Serta optimalisasi eksistensi Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) di perguruan tinggi. “Selebihnya, kampus bisa membuat kebijakan sesuai dengan kondisi mereka,” tegas Nurul.

Jawa Pos Radar Jember sempat melakukan polling kepada 23 mahasiswa yang tersebar di tiga perguruan tinggi di Jember. Hasilnya, hampir semuanya mengaku mengalami pelecehan seksual dari senior dan temannya di kampus. Perlakuan pelecehan tersebut didapat dari dosen dan karyawan kampus seperti petugas TU dan cleaning service. Bentuknya pun beragam. Mulai dalam bentuk lisan, melakukan sentuhan kepada tubuh mahasiswa, hingga mengajak ke hotel.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sayangnya, 22 koresponden menyatakan tidak tahu mengenai adanya pengaduan pelecehan seksual di kampus. Hanya satu koresponden yang mengetahui eksistensi lembaga pengaduan kasus pelecehan seksual. Sementara, jika ditanya intensitas edukasi seksual dan sosialisasi di kampus, 21 koresponden menjawab tidak pernah. Hanya ada dua koresponden yang menyatakan pernah mendapatkan sosialisasi dari dosen yang mengajar di kelas, bukan dari lembaga yang menangani masalah tersebut.

- Advertisement -

Lebih lanjut, Yamini memaparkan bahwa umumnya kasus bermula ketika dosen atau para senior kampus melakukan obrolan yang cukup intens dan di luar topik pembahasan. Obrolan berlangsung melalui daring, lalu lanjut dalam pertemuan. Jika sudah demikian, siklus selanjutnya adalah beberapa dosen akan mengajak untuk pergi berdua. “Ajakan ini tidak wajar. Modusnya bermacam-macam. Salah satunya adalah pemenuhan referensi kuliah,” tegasnya.

Sementara itu, akademisi IAIN Jember sekaligus pemerhati isu perempuan, Nurul Widyawati, mengungkapkan bahwa dalam hal ini kampus perlu melakukan penyegaran kebijakan yang berbasis gender. Serta optimalisasi eksistensi Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) di perguruan tinggi. “Selebihnya, kampus bisa membuat kebijakan sesuai dengan kondisi mereka,” tegas Nurul.

Jawa Pos Radar Jember sempat melakukan polling kepada 23 mahasiswa yang tersebar di tiga perguruan tinggi di Jember. Hasilnya, hampir semuanya mengaku mengalami pelecehan seksual dari senior dan temannya di kampus. Perlakuan pelecehan tersebut didapat dari dosen dan karyawan kampus seperti petugas TU dan cleaning service. Bentuknya pun beragam. Mulai dalam bentuk lisan, melakukan sentuhan kepada tubuh mahasiswa, hingga mengajak ke hotel.

Sayangnya, 22 koresponden menyatakan tidak tahu mengenai adanya pengaduan pelecehan seksual di kampus. Hanya satu koresponden yang mengetahui eksistensi lembaga pengaduan kasus pelecehan seksual. Sementara, jika ditanya intensitas edukasi seksual dan sosialisasi di kampus, 21 koresponden menjawab tidak pernah. Hanya ada dua koresponden yang menyatakan pernah mendapatkan sosialisasi dari dosen yang mengajar di kelas, bukan dari lembaga yang menangani masalah tersebut.

Lebih lanjut, Yamini memaparkan bahwa umumnya kasus bermula ketika dosen atau para senior kampus melakukan obrolan yang cukup intens dan di luar topik pembahasan. Obrolan berlangsung melalui daring, lalu lanjut dalam pertemuan. Jika sudah demikian, siklus selanjutnya adalah beberapa dosen akan mengajak untuk pergi berdua. “Ajakan ini tidak wajar. Modusnya bermacam-macam. Salah satunya adalah pemenuhan referensi kuliah,” tegasnya.

Sementara itu, akademisi IAIN Jember sekaligus pemerhati isu perempuan, Nurul Widyawati, mengungkapkan bahwa dalam hal ini kampus perlu melakukan penyegaran kebijakan yang berbasis gender. Serta optimalisasi eksistensi Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) di perguruan tinggi. “Selebihnya, kampus bisa membuat kebijakan sesuai dengan kondisi mereka,” tegas Nurul.

Jawa Pos Radar Jember sempat melakukan polling kepada 23 mahasiswa yang tersebar di tiga perguruan tinggi di Jember. Hasilnya, hampir semuanya mengaku mengalami pelecehan seksual dari senior dan temannya di kampus. Perlakuan pelecehan tersebut didapat dari dosen dan karyawan kampus seperti petugas TU dan cleaning service. Bentuknya pun beragam. Mulai dalam bentuk lisan, melakukan sentuhan kepada tubuh mahasiswa, hingga mengajak ke hotel.

Sayangnya, 22 koresponden menyatakan tidak tahu mengenai adanya pengaduan pelecehan seksual di kampus. Hanya satu koresponden yang mengetahui eksistensi lembaga pengaduan kasus pelecehan seksual. Sementara, jika ditanya intensitas edukasi seksual dan sosialisasi di kampus, 21 koresponden menjawab tidak pernah. Hanya ada dua koresponden yang menyatakan pernah mendapatkan sosialisasi dari dosen yang mengajar di kelas, bukan dari lembaga yang menangani masalah tersebut.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/