alexametrics
22.8 C
Jember
Friday, 27 May 2022

Relasi Kuasa Masih Menjadi Penyebab Utama

Pengaduan Kasus Predator Kampus Selama 2020

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kasus pelecehan seksual di lingkungan kampus hampir pernah tidak surut. Pun halnya ketika pandemi merebak. Seperti yang terjadi pada pertengahan 2020 lalu. LBH Jentera sempat menerima pengaduan dari mahasiswa yang dilecehkan oleh seorang petinggi perguruan tinggi swasta di Jember.

Sayangnya, penanganannya menjadi tidak optimal lantaran ketika korban melaporkan kasus ini kepada salah satu LBH, pihak kampus tidak bersedia untuk mengklarifikasi dan menolak tuduhan tersebut. Akibatnya, korban pun tidak bersedia kasus ini diusut. “Terpaksa kasus ditutup. Tidak ada tindak lanjut,” ungkap Direktur LBH Jentera Yamini.

Modusnya cukup banyak. Mulai dari finishing tugas kuliah, bimbingan skripsi, dan lainnya. Menurut Yamini, kasus pelecehan seksual yang terjadi di kampus tak hanya melibatkan dosen dan mahasiswa. Namun juga bisa terjadi antara sesama mahasiswa. Umumnya, mereka yang masih dalam satu lingkup organisasi. “Hubungan senioritas dan junior. Biasanya kalau mereka berbaur di base camp,” imbuh Yamini.

Mobile_AP_Rectangle 2

Yamini melanjutkan, pengaduan terhadap kasus ini masih minim karena kurangnya edukasi. Dari beberapa pengaduan mahasiswa yang dia terima, sering kali si pengadu tak memahami pelecehan seksual yang telah menimpa mereka. “Kadang mereka tidak tahu atau tidak sadar kalau perlakuan yang mereka terima adalah pelecehan seksual,” ungkapnya.

Selain itu, relasi kuasa masih menjadi penyebab utama adanya kasus pelecehan seksual dan eksistensi predator kampus. Umumnya, mahasiswa masih memiliki rasa takut untuk speak up atas perlakuan yang tidak menyenangkan.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kasus pelecehan seksual di lingkungan kampus hampir pernah tidak surut. Pun halnya ketika pandemi merebak. Seperti yang terjadi pada pertengahan 2020 lalu. LBH Jentera sempat menerima pengaduan dari mahasiswa yang dilecehkan oleh seorang petinggi perguruan tinggi swasta di Jember.

Sayangnya, penanganannya menjadi tidak optimal lantaran ketika korban melaporkan kasus ini kepada salah satu LBH, pihak kampus tidak bersedia untuk mengklarifikasi dan menolak tuduhan tersebut. Akibatnya, korban pun tidak bersedia kasus ini diusut. “Terpaksa kasus ditutup. Tidak ada tindak lanjut,” ungkap Direktur LBH Jentera Yamini.

Modusnya cukup banyak. Mulai dari finishing tugas kuliah, bimbingan skripsi, dan lainnya. Menurut Yamini, kasus pelecehan seksual yang terjadi di kampus tak hanya melibatkan dosen dan mahasiswa. Namun juga bisa terjadi antara sesama mahasiswa. Umumnya, mereka yang masih dalam satu lingkup organisasi. “Hubungan senioritas dan junior. Biasanya kalau mereka berbaur di base camp,” imbuh Yamini.

Yamini melanjutkan, pengaduan terhadap kasus ini masih minim karena kurangnya edukasi. Dari beberapa pengaduan mahasiswa yang dia terima, sering kali si pengadu tak memahami pelecehan seksual yang telah menimpa mereka. “Kadang mereka tidak tahu atau tidak sadar kalau perlakuan yang mereka terima adalah pelecehan seksual,” ungkapnya.

Selain itu, relasi kuasa masih menjadi penyebab utama adanya kasus pelecehan seksual dan eksistensi predator kampus. Umumnya, mahasiswa masih memiliki rasa takut untuk speak up atas perlakuan yang tidak menyenangkan.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kasus pelecehan seksual di lingkungan kampus hampir pernah tidak surut. Pun halnya ketika pandemi merebak. Seperti yang terjadi pada pertengahan 2020 lalu. LBH Jentera sempat menerima pengaduan dari mahasiswa yang dilecehkan oleh seorang petinggi perguruan tinggi swasta di Jember.

Sayangnya, penanganannya menjadi tidak optimal lantaran ketika korban melaporkan kasus ini kepada salah satu LBH, pihak kampus tidak bersedia untuk mengklarifikasi dan menolak tuduhan tersebut. Akibatnya, korban pun tidak bersedia kasus ini diusut. “Terpaksa kasus ditutup. Tidak ada tindak lanjut,” ungkap Direktur LBH Jentera Yamini.

Modusnya cukup banyak. Mulai dari finishing tugas kuliah, bimbingan skripsi, dan lainnya. Menurut Yamini, kasus pelecehan seksual yang terjadi di kampus tak hanya melibatkan dosen dan mahasiswa. Namun juga bisa terjadi antara sesama mahasiswa. Umumnya, mereka yang masih dalam satu lingkup organisasi. “Hubungan senioritas dan junior. Biasanya kalau mereka berbaur di base camp,” imbuh Yamini.

Yamini melanjutkan, pengaduan terhadap kasus ini masih minim karena kurangnya edukasi. Dari beberapa pengaduan mahasiswa yang dia terima, sering kali si pengadu tak memahami pelecehan seksual yang telah menimpa mereka. “Kadang mereka tidak tahu atau tidak sadar kalau perlakuan yang mereka terima adalah pelecehan seksual,” ungkapnya.

Selain itu, relasi kuasa masih menjadi penyebab utama adanya kasus pelecehan seksual dan eksistensi predator kampus. Umumnya, mahasiswa masih memiliki rasa takut untuk speak up atas perlakuan yang tidak menyenangkan.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/