alexametrics
27.9 C
Jember
Friday, 20 May 2022

Miroso, Muslim Juru Kunci Tempat Ibadah Tiga Agama

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Selama 42 tahun lamanya, Miroso menjadi penjaga Tempat Ibadah Tri Darma (TITD) atau Klenteng Pay Lian San di Desa Glagahwero, Kecamatan Panti. Ia merupakan saksi mata pembangunan tempat peribadatan tiga agama tersebut.

Sebagai seorang muslim, lelaki yang kerap disapa Sugik ini, mengabdikan dirinya demi kenyamanan beribadah umat agama lain. Bersama istrinya, dia menjalankan tugasnya dalam menjaga dan membersihkan Klenteng setiap hari.

Baginya, tak mudah menjadi kepercayaan banyak orang. Terutama di tempat yang dianggap suci bagi umat yang beribadah di dalamnya. Namun, hal itu bukan beban yang memberatkan hidupnya. Bahkan, setiap pengalaman yang dijalani, dia anggap sebagai pelajaran baru.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Selama 42 tahun ini, setiap hari saya mendapat banyak pelajaran. Dan saya menemukan kenyamanan saat membantu membersihkan perlengkapan ibadah umat Tionghoa,” tuturnya.

Perayaan tahun baru Imlek, masih menjadi momen berharga bagi Sugik. Sebab, pada hari tersebut ia dapat bersilaturahmi dan berbagi senyum dengan banyak orang dari berbagai agama.

Biasanya, satu minggu sebelum perayaan, dia akan sibuk mempersiapkan acara. Mulai dari mengecat Klenteng, memasang lampion, menyucikan altar, mengepel lantai, dan menata lilin-lilin besar. Dia juga dibantu sang istri saat perayaan tiba.

“Saya maksimal di Klenteng, kalau ibunya yang bagian masak-masak di dapur untuk menyiapkan hidangan buat umat dan pengunjung yang datang,” paparnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Selama 42 tahun lamanya, Miroso menjadi penjaga Tempat Ibadah Tri Darma (TITD) atau Klenteng Pay Lian San di Desa Glagahwero, Kecamatan Panti. Ia merupakan saksi mata pembangunan tempat peribadatan tiga agama tersebut.

Sebagai seorang muslim, lelaki yang kerap disapa Sugik ini, mengabdikan dirinya demi kenyamanan beribadah umat agama lain. Bersama istrinya, dia menjalankan tugasnya dalam menjaga dan membersihkan Klenteng setiap hari.

Baginya, tak mudah menjadi kepercayaan banyak orang. Terutama di tempat yang dianggap suci bagi umat yang beribadah di dalamnya. Namun, hal itu bukan beban yang memberatkan hidupnya. Bahkan, setiap pengalaman yang dijalani, dia anggap sebagai pelajaran baru.

“Selama 42 tahun ini, setiap hari saya mendapat banyak pelajaran. Dan saya menemukan kenyamanan saat membantu membersihkan perlengkapan ibadah umat Tionghoa,” tuturnya.

Perayaan tahun baru Imlek, masih menjadi momen berharga bagi Sugik. Sebab, pada hari tersebut ia dapat bersilaturahmi dan berbagi senyum dengan banyak orang dari berbagai agama.

Biasanya, satu minggu sebelum perayaan, dia akan sibuk mempersiapkan acara. Mulai dari mengecat Klenteng, memasang lampion, menyucikan altar, mengepel lantai, dan menata lilin-lilin besar. Dia juga dibantu sang istri saat perayaan tiba.

“Saya maksimal di Klenteng, kalau ibunya yang bagian masak-masak di dapur untuk menyiapkan hidangan buat umat dan pengunjung yang datang,” paparnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Selama 42 tahun lamanya, Miroso menjadi penjaga Tempat Ibadah Tri Darma (TITD) atau Klenteng Pay Lian San di Desa Glagahwero, Kecamatan Panti. Ia merupakan saksi mata pembangunan tempat peribadatan tiga agama tersebut.

Sebagai seorang muslim, lelaki yang kerap disapa Sugik ini, mengabdikan dirinya demi kenyamanan beribadah umat agama lain. Bersama istrinya, dia menjalankan tugasnya dalam menjaga dan membersihkan Klenteng setiap hari.

Baginya, tak mudah menjadi kepercayaan banyak orang. Terutama di tempat yang dianggap suci bagi umat yang beribadah di dalamnya. Namun, hal itu bukan beban yang memberatkan hidupnya. Bahkan, setiap pengalaman yang dijalani, dia anggap sebagai pelajaran baru.

“Selama 42 tahun ini, setiap hari saya mendapat banyak pelajaran. Dan saya menemukan kenyamanan saat membantu membersihkan perlengkapan ibadah umat Tionghoa,” tuturnya.

Perayaan tahun baru Imlek, masih menjadi momen berharga bagi Sugik. Sebab, pada hari tersebut ia dapat bersilaturahmi dan berbagi senyum dengan banyak orang dari berbagai agama.

Biasanya, satu minggu sebelum perayaan, dia akan sibuk mempersiapkan acara. Mulai dari mengecat Klenteng, memasang lampion, menyucikan altar, mengepel lantai, dan menata lilin-lilin besar. Dia juga dibantu sang istri saat perayaan tiba.

“Saya maksimal di Klenteng, kalau ibunya yang bagian masak-masak di dapur untuk menyiapkan hidangan buat umat dan pengunjung yang datang,” paparnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/