alexametrics
29.9 C
Jember
Friday, 20 May 2022

Lagi, Banjir Rendam 2.602 Jiwa

Juga Rusak Sarana Penyeberangan di Ambulu

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Hujan lebat selama tiga hari kemarin, Jumat-Minggu (5-7/2), merendam 894 kepala keluarga (KK) dengan 2.602 jiwa. Mereka tersebar di delapan desa di empat kecamatan wilayah Jember selatan. Selain itu, banjir juga mengakibatkan tiga musala dan tiga lembaga pendidikan tergenang air.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember di lokasi banjir Dusun Curahlele, Desa Wonoasri, Kecamatan Tempurejo, warga yang sudah siaga banjir langsung menaikkan barang-barang mereka ke atas meja. Seperti baju, kasur, dan kompor. Barang-barang itu sudah diletakkan di tempat yang aman. Seperti yang dilakukan keluarga Sutikno dan Nasiya, warga dusun setempat.

Banjir di kampung ini lantaran air Sungai Kalisanen meluap. “Saya masih trauma dengan banjir besar lalu. Soalnya, air langsung naik ke kamar. Ketika air mulai naik, saya langsung menyelamatkan seluruh barang-barang,” kata Sutikno.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pria 50 tahun ini mengaku, ketika air mulai naik ke pekarangan, dia sampai tidak bisa tidur. Sebab, jarak Kalisanen dengan rumahnya cukup dekat. Menurutnya, kalau Kalisanen meluap, air langsung masuk ke tempat tinggalnya. “Kalau hanya Sungai Curahnongko yang banjir, air hanya sampai di teras,” ucapnya.

Nasiya menambahkan, air Kalisanen bisa meluap dan mengakibatkan banjir jika di wilayah Silo dan Baban hujan deras. “Mudah-mudahan di bagian hulu tidak banjir lagi, sehingga air bisa terus surut,” pungkasnya.

Meski sempat menggenangi perkampungan, kemarin air sudah mulai surut. Ini terlihat dari ukuran ketinggian air di jembatan Kalisanen yang tampak turun. Otomatis, air yang menggenangi halaman rumah warga dan jalan raya di RT 008, RW 005, Dusun Curahlele tersebut, juga tidak ada lagi. Warga juga sudah mulai tenang. Meski begitu, warga tetap waspada karena takut turun hujan lagi.

Di lokasi lain, Sulasmi, warga Dusun Sabrang, Desa Tegalsari, Kecamatan Ambulu, juga masih trauma dengan banjir yang menggenangi rumahnya, Jumat (5/2) malam lalu. Karena itu, dirinya selalu berjaga-jaga saat hujan deras dan lama. “Ada tiga rumah yang terdampak di sini,” ungkap ibu tiga anak tersebut.

Dia menuturkan, dampak banjir yang parah sebenarnya bukan menimpa rumahnya, tapi dua rumah lainnya. Sebab, posisi rumah tetangganya itu hampir sejajar dengan sungai. Jaraknya pun hanya sekitar tujuh meter dari bibir kanal. “Kedua rumah itu terendam banjir hingga mencapai tiga per empat bangunan. Dan di sana ada lansia sebatang kara yang harus diselamatkan. Jadi, saya selalu berjaga-jaga. Kalau air mulai naik, kami langsung mengungsikan Mbah Sumirah,” ungkapnya.

Plt Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember Mad Satuki mewanti-wanti agar warga selalu waspada terhadap hujan yang turun dengan intensitas sedang hingga lebat yang terjadi akhir-akhir ini. Apalagi bila disertai angin kencang dan petir. “Yang paling banyak terdampak adalah banjir susulan di Desa Wonoasri, Tempurejo. Ada 403 KK dengan 1.200 jiwa,” terangnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Hujan lebat selama tiga hari kemarin, Jumat-Minggu (5-7/2), merendam 894 kepala keluarga (KK) dengan 2.602 jiwa. Mereka tersebar di delapan desa di empat kecamatan wilayah Jember selatan. Selain itu, banjir juga mengakibatkan tiga musala dan tiga lembaga pendidikan tergenang air.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember di lokasi banjir Dusun Curahlele, Desa Wonoasri, Kecamatan Tempurejo, warga yang sudah siaga banjir langsung menaikkan barang-barang mereka ke atas meja. Seperti baju, kasur, dan kompor. Barang-barang itu sudah diletakkan di tempat yang aman. Seperti yang dilakukan keluarga Sutikno dan Nasiya, warga dusun setempat.

Banjir di kampung ini lantaran air Sungai Kalisanen meluap. “Saya masih trauma dengan banjir besar lalu. Soalnya, air langsung naik ke kamar. Ketika air mulai naik, saya langsung menyelamatkan seluruh barang-barang,” kata Sutikno.

Pria 50 tahun ini mengaku, ketika air mulai naik ke pekarangan, dia sampai tidak bisa tidur. Sebab, jarak Kalisanen dengan rumahnya cukup dekat. Menurutnya, kalau Kalisanen meluap, air langsung masuk ke tempat tinggalnya. “Kalau hanya Sungai Curahnongko yang banjir, air hanya sampai di teras,” ucapnya.

Nasiya menambahkan, air Kalisanen bisa meluap dan mengakibatkan banjir jika di wilayah Silo dan Baban hujan deras. “Mudah-mudahan di bagian hulu tidak banjir lagi, sehingga air bisa terus surut,” pungkasnya.

Meski sempat menggenangi perkampungan, kemarin air sudah mulai surut. Ini terlihat dari ukuran ketinggian air di jembatan Kalisanen yang tampak turun. Otomatis, air yang menggenangi halaman rumah warga dan jalan raya di RT 008, RW 005, Dusun Curahlele tersebut, juga tidak ada lagi. Warga juga sudah mulai tenang. Meski begitu, warga tetap waspada karena takut turun hujan lagi.

Di lokasi lain, Sulasmi, warga Dusun Sabrang, Desa Tegalsari, Kecamatan Ambulu, juga masih trauma dengan banjir yang menggenangi rumahnya, Jumat (5/2) malam lalu. Karena itu, dirinya selalu berjaga-jaga saat hujan deras dan lama. “Ada tiga rumah yang terdampak di sini,” ungkap ibu tiga anak tersebut.

Dia menuturkan, dampak banjir yang parah sebenarnya bukan menimpa rumahnya, tapi dua rumah lainnya. Sebab, posisi rumah tetangganya itu hampir sejajar dengan sungai. Jaraknya pun hanya sekitar tujuh meter dari bibir kanal. “Kedua rumah itu terendam banjir hingga mencapai tiga per empat bangunan. Dan di sana ada lansia sebatang kara yang harus diselamatkan. Jadi, saya selalu berjaga-jaga. Kalau air mulai naik, kami langsung mengungsikan Mbah Sumirah,” ungkapnya.

Plt Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember Mad Satuki mewanti-wanti agar warga selalu waspada terhadap hujan yang turun dengan intensitas sedang hingga lebat yang terjadi akhir-akhir ini. Apalagi bila disertai angin kencang dan petir. “Yang paling banyak terdampak adalah banjir susulan di Desa Wonoasri, Tempurejo. Ada 403 KK dengan 1.200 jiwa,” terangnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Hujan lebat selama tiga hari kemarin, Jumat-Minggu (5-7/2), merendam 894 kepala keluarga (KK) dengan 2.602 jiwa. Mereka tersebar di delapan desa di empat kecamatan wilayah Jember selatan. Selain itu, banjir juga mengakibatkan tiga musala dan tiga lembaga pendidikan tergenang air.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember di lokasi banjir Dusun Curahlele, Desa Wonoasri, Kecamatan Tempurejo, warga yang sudah siaga banjir langsung menaikkan barang-barang mereka ke atas meja. Seperti baju, kasur, dan kompor. Barang-barang itu sudah diletakkan di tempat yang aman. Seperti yang dilakukan keluarga Sutikno dan Nasiya, warga dusun setempat.

Banjir di kampung ini lantaran air Sungai Kalisanen meluap. “Saya masih trauma dengan banjir besar lalu. Soalnya, air langsung naik ke kamar. Ketika air mulai naik, saya langsung menyelamatkan seluruh barang-barang,” kata Sutikno.

Pria 50 tahun ini mengaku, ketika air mulai naik ke pekarangan, dia sampai tidak bisa tidur. Sebab, jarak Kalisanen dengan rumahnya cukup dekat. Menurutnya, kalau Kalisanen meluap, air langsung masuk ke tempat tinggalnya. “Kalau hanya Sungai Curahnongko yang banjir, air hanya sampai di teras,” ucapnya.

Nasiya menambahkan, air Kalisanen bisa meluap dan mengakibatkan banjir jika di wilayah Silo dan Baban hujan deras. “Mudah-mudahan di bagian hulu tidak banjir lagi, sehingga air bisa terus surut,” pungkasnya.

Meski sempat menggenangi perkampungan, kemarin air sudah mulai surut. Ini terlihat dari ukuran ketinggian air di jembatan Kalisanen yang tampak turun. Otomatis, air yang menggenangi halaman rumah warga dan jalan raya di RT 008, RW 005, Dusun Curahlele tersebut, juga tidak ada lagi. Warga juga sudah mulai tenang. Meski begitu, warga tetap waspada karena takut turun hujan lagi.

Di lokasi lain, Sulasmi, warga Dusun Sabrang, Desa Tegalsari, Kecamatan Ambulu, juga masih trauma dengan banjir yang menggenangi rumahnya, Jumat (5/2) malam lalu. Karena itu, dirinya selalu berjaga-jaga saat hujan deras dan lama. “Ada tiga rumah yang terdampak di sini,” ungkap ibu tiga anak tersebut.

Dia menuturkan, dampak banjir yang parah sebenarnya bukan menimpa rumahnya, tapi dua rumah lainnya. Sebab, posisi rumah tetangganya itu hampir sejajar dengan sungai. Jaraknya pun hanya sekitar tujuh meter dari bibir kanal. “Kedua rumah itu terendam banjir hingga mencapai tiga per empat bangunan. Dan di sana ada lansia sebatang kara yang harus diselamatkan. Jadi, saya selalu berjaga-jaga. Kalau air mulai naik, kami langsung mengungsikan Mbah Sumirah,” ungkapnya.

Plt Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember Mad Satuki mewanti-wanti agar warga selalu waspada terhadap hujan yang turun dengan intensitas sedang hingga lebat yang terjadi akhir-akhir ini. Apalagi bila disertai angin kencang dan petir. “Yang paling banyak terdampak adalah banjir susulan di Desa Wonoasri, Tempurejo. Ada 403 KK dengan 1.200 jiwa,” terangnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/