alexametrics
27.8 C
Jember
Sunday, 26 June 2022

Buang Limbah Ikan kok di Sungai?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sebuah pikap berhenti persis di atas jembatan Kalirenes, Dusun Bedengan, Desa Tegalsari, Ambulu. Tanpa tolah-toleh, dua orang turun dari kendaraan dan menuju ke bak belakang. Mereka mengangkat kotak gabus yang biasanya menjadi tempat ikan. Sejurus kemudian, byur! Limbah sisa penjualan ikan itu dibuang begitu saja ke dalam kanal. Aktivitas mencemari lingkungan ini terjadi hampir setiap hari.

Selama dua hari, Jawa Pos Radar Jember mengamati di jembatan yang sama. Setidaknya, ada tiga pikap berbeda yang membuang limbah ikan di lokasi tersebut. Biasanya antara pukul 09.00 hingga pukul 10.00. Mereka adalah pedagang ikan yang berjualan di Pasar Ambulu. Selepas berjualan, limbah-limbah berbau amis ini kemudian dibuang ke Kalirenes, sebuah sungai yang terletak beberapa kilometer sebelah selatan Pasar Ambulu. Setelah membuang limbah, para pedagang ikan itu langsung ngacir dan tancap gas ke arah Watu Ulo.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Setiap pulang berjualan ikan laut di Pasar Ambulu, ya berhenti di tengah jembatan untuk membuang limbahnya. Seharusnya, limbah ikan itu dibawa pulang dan dibuang ke pinggir laut saja. Bukan malah dibuang ke sungai,” keluh Suyitno, warga Tegalsari.

Dia membenarkan, setiap hari ada tiga pikap yang membuang limbah ikan hampir bersamaan. Hanya beda menit. Mereka seperti tanpa beban ketika melakukan perbuatan itu. Tidak juga sungkan kepada pengguna jalan maupun warga setempat. Padahal, baik pengendara maupun warga merasa terganggu dengan aroma yang ditimbulkan. “Limbah ikan laut baunya sangat menyengat. Apalagi ada ceceran di atas jembatan,” ujarnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sebuah pikap berhenti persis di atas jembatan Kalirenes, Dusun Bedengan, Desa Tegalsari, Ambulu. Tanpa tolah-toleh, dua orang turun dari kendaraan dan menuju ke bak belakang. Mereka mengangkat kotak gabus yang biasanya menjadi tempat ikan. Sejurus kemudian, byur! Limbah sisa penjualan ikan itu dibuang begitu saja ke dalam kanal. Aktivitas mencemari lingkungan ini terjadi hampir setiap hari.

Selama dua hari, Jawa Pos Radar Jember mengamati di jembatan yang sama. Setidaknya, ada tiga pikap berbeda yang membuang limbah ikan di lokasi tersebut. Biasanya antara pukul 09.00 hingga pukul 10.00. Mereka adalah pedagang ikan yang berjualan di Pasar Ambulu. Selepas berjualan, limbah-limbah berbau amis ini kemudian dibuang ke Kalirenes, sebuah sungai yang terletak beberapa kilometer sebelah selatan Pasar Ambulu. Setelah membuang limbah, para pedagang ikan itu langsung ngacir dan tancap gas ke arah Watu Ulo.

“Setiap pulang berjualan ikan laut di Pasar Ambulu, ya berhenti di tengah jembatan untuk membuang limbahnya. Seharusnya, limbah ikan itu dibawa pulang dan dibuang ke pinggir laut saja. Bukan malah dibuang ke sungai,” keluh Suyitno, warga Tegalsari.

Dia membenarkan, setiap hari ada tiga pikap yang membuang limbah ikan hampir bersamaan. Hanya beda menit. Mereka seperti tanpa beban ketika melakukan perbuatan itu. Tidak juga sungkan kepada pengguna jalan maupun warga setempat. Padahal, baik pengendara maupun warga merasa terganggu dengan aroma yang ditimbulkan. “Limbah ikan laut baunya sangat menyengat. Apalagi ada ceceran di atas jembatan,” ujarnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sebuah pikap berhenti persis di atas jembatan Kalirenes, Dusun Bedengan, Desa Tegalsari, Ambulu. Tanpa tolah-toleh, dua orang turun dari kendaraan dan menuju ke bak belakang. Mereka mengangkat kotak gabus yang biasanya menjadi tempat ikan. Sejurus kemudian, byur! Limbah sisa penjualan ikan itu dibuang begitu saja ke dalam kanal. Aktivitas mencemari lingkungan ini terjadi hampir setiap hari.

Selama dua hari, Jawa Pos Radar Jember mengamati di jembatan yang sama. Setidaknya, ada tiga pikap berbeda yang membuang limbah ikan di lokasi tersebut. Biasanya antara pukul 09.00 hingga pukul 10.00. Mereka adalah pedagang ikan yang berjualan di Pasar Ambulu. Selepas berjualan, limbah-limbah berbau amis ini kemudian dibuang ke Kalirenes, sebuah sungai yang terletak beberapa kilometer sebelah selatan Pasar Ambulu. Setelah membuang limbah, para pedagang ikan itu langsung ngacir dan tancap gas ke arah Watu Ulo.

“Setiap pulang berjualan ikan laut di Pasar Ambulu, ya berhenti di tengah jembatan untuk membuang limbahnya. Seharusnya, limbah ikan itu dibawa pulang dan dibuang ke pinggir laut saja. Bukan malah dibuang ke sungai,” keluh Suyitno, warga Tegalsari.

Dia membenarkan, setiap hari ada tiga pikap yang membuang limbah ikan hampir bersamaan. Hanya beda menit. Mereka seperti tanpa beban ketika melakukan perbuatan itu. Tidak juga sungkan kepada pengguna jalan maupun warga setempat. Padahal, baik pengendara maupun warga merasa terganggu dengan aroma yang ditimbulkan. “Limbah ikan laut baunya sangat menyengat. Apalagi ada ceceran di atas jembatan,” ujarnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/