alexametrics
19.8 C
Jember
Wednesday, 29 June 2022

UAS SLB Semidaring

Guru dan Wali Murid Antar Jemput Soal

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Ujian akhir sekolah kembali dilakukan oleh sekolah luar biasa dengan sistem semidaring. Siswa dan wali murid diperbolehkan untuk memilih jenis metode pelasaksanaannya. Tentunya hal ini dilakukan sesuai kondisi siswa.

Tak heran jika sifatnya lebih fleksibel. Sekolah menyesuaikan dengan kemampuan wali murid untuk mendampingi anaknya ujian. Namun, 80 persen wali murid memilih untuk melakukan ujian secara manual. Caranya, soal diantar jemput oleh guru atau wali murid. Sisanya memilih untuk melakukan ujian secara daring.

Hal ini membuat sekolah menyesuaikan dengan kondisi siswa. Soal-soal ujian pun tidak mutlak harus selesai dalam satu pekan. “Kami menyesuaikan dengan peserta didik. Sebab, kalau mereka mood untuk mengerjakan, ya selesai. Kalau tidak pengen mengerjakan ya kami harus menyesuaikan,” ungkap wali kelas tunagrahita kelas 3 dan 4 SLB Negeri Jember, Sri Wahyuni, Senin (7/12).

Mobile_AP_Rectangle 2

Di sisi lain, pelaksanaan ujian ini cukup menyulitkan para guru untuk menyusun soal. Sebab, para guru tidak memiliki takaran untuk menentukan soal sesuai dengan kemampuan siswanya. Terpaksa mereka pun menyusun soal berdasarkan pantauan pembelajaran daring selama ini yang dirasa kurang maksimal. “Kami tidak punya ukuran pembuatan soal. Karena selama ini kalau ada soal, bisa jadi orang tuanya yang mengerjakan,” sambung guru yang telah mengajar sejak 1992 silam ini.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Ujian akhir sekolah kembali dilakukan oleh sekolah luar biasa dengan sistem semidaring. Siswa dan wali murid diperbolehkan untuk memilih jenis metode pelasaksanaannya. Tentunya hal ini dilakukan sesuai kondisi siswa.

Tak heran jika sifatnya lebih fleksibel. Sekolah menyesuaikan dengan kemampuan wali murid untuk mendampingi anaknya ujian. Namun, 80 persen wali murid memilih untuk melakukan ujian secara manual. Caranya, soal diantar jemput oleh guru atau wali murid. Sisanya memilih untuk melakukan ujian secara daring.

Hal ini membuat sekolah menyesuaikan dengan kondisi siswa. Soal-soal ujian pun tidak mutlak harus selesai dalam satu pekan. “Kami menyesuaikan dengan peserta didik. Sebab, kalau mereka mood untuk mengerjakan, ya selesai. Kalau tidak pengen mengerjakan ya kami harus menyesuaikan,” ungkap wali kelas tunagrahita kelas 3 dan 4 SLB Negeri Jember, Sri Wahyuni, Senin (7/12).

Di sisi lain, pelaksanaan ujian ini cukup menyulitkan para guru untuk menyusun soal. Sebab, para guru tidak memiliki takaran untuk menentukan soal sesuai dengan kemampuan siswanya. Terpaksa mereka pun menyusun soal berdasarkan pantauan pembelajaran daring selama ini yang dirasa kurang maksimal. “Kami tidak punya ukuran pembuatan soal. Karena selama ini kalau ada soal, bisa jadi orang tuanya yang mengerjakan,” sambung guru yang telah mengajar sejak 1992 silam ini.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Ujian akhir sekolah kembali dilakukan oleh sekolah luar biasa dengan sistem semidaring. Siswa dan wali murid diperbolehkan untuk memilih jenis metode pelasaksanaannya. Tentunya hal ini dilakukan sesuai kondisi siswa.

Tak heran jika sifatnya lebih fleksibel. Sekolah menyesuaikan dengan kemampuan wali murid untuk mendampingi anaknya ujian. Namun, 80 persen wali murid memilih untuk melakukan ujian secara manual. Caranya, soal diantar jemput oleh guru atau wali murid. Sisanya memilih untuk melakukan ujian secara daring.

Hal ini membuat sekolah menyesuaikan dengan kondisi siswa. Soal-soal ujian pun tidak mutlak harus selesai dalam satu pekan. “Kami menyesuaikan dengan peserta didik. Sebab, kalau mereka mood untuk mengerjakan, ya selesai. Kalau tidak pengen mengerjakan ya kami harus menyesuaikan,” ungkap wali kelas tunagrahita kelas 3 dan 4 SLB Negeri Jember, Sri Wahyuni, Senin (7/12).

Di sisi lain, pelaksanaan ujian ini cukup menyulitkan para guru untuk menyusun soal. Sebab, para guru tidak memiliki takaran untuk menentukan soal sesuai dengan kemampuan siswanya. Terpaksa mereka pun menyusun soal berdasarkan pantauan pembelajaran daring selama ini yang dirasa kurang maksimal. “Kami tidak punya ukuran pembuatan soal. Karena selama ini kalau ada soal, bisa jadi orang tuanya yang mengerjakan,” sambung guru yang telah mengajar sejak 1992 silam ini.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/