alexametrics
24.4 C
Jember
Monday, 23 May 2022

Musimnya Ikan, Nelayan Tak Bisa Melaut Karena Tak Ada BBM

Mobile_AP_Rectangle 1

PUGER KULON, RADARJEMBER.ID – Aktivitas melaut para nelayan di pesisir selatan Desa Puger Kulon, Kecamatan Puger, harus tersendat lantaran pasokan bahan bakar jenis solar mulai langka. Akibatnya, banyak nelayan dibuat gigit jari dan harus mengandangkan jukung atau perahu mereka.

Ketua Forum Komunikasi Nelayan Puger (FKNP) Hambali mengatakan, kelangkaan itu sudah terjadi cukup lama, bahkan hampir mencapai satu bulan. “Memang pernah langka, tapi tidak separah hari ini. Banyak nelayan yang tidak bisa melaut imbas solar langka ini,” bebernya kepada Jawa Pos Radar Jember, (7/9) kemarin.

Mobile_AP_Rectangle 2

Kelangkaan itu, lanjut dia, karena agen-agen nelayan sudah kehabisan pasokan dari SPBU. Secara bersamaan, nelayan tidak bisa membeli bahan bakar langsung ke SPBU tanpa memiliki surat rekomendasi khusus. Kalaupun ada, itu pun tersedia di pangkalan tengkulak atau pedagang eceran dengan harganya mulai Rp 8 ribu per liter.

Sementara, kebutuhan nelayan terhadap bahan bakar itu dirasa cukup besar. Biasanya, saat melaut, kebutuhan bahan bakar nelayan bisa mencapai 20 liter untuk kapal kecil, dan 200 liter untuk kapal besar. Terlebih, bulan-bulan ini dinilainya menjadi musimnya ikan. “Nelayan harus nyari ke sana kemari, ke eceran, ke SPBU. Kalau ada, itu mahal dan hanya bisa mendapatkan dalam jumlah sedikit,” imbuh Hambali.

Sejauh ini, kata Hambali, belum ada pembahasan di kalangan internal nelayan ataupun pemerintah setempat. Namun yang pasti, cukup banyak nelayan yang terpaksa menganggur lantaran tak punya bahan bakar. “Kami berharap ini bisa jadi perhatian dan bisa segera tertangani kelangkaannya,” sambungnya.

- Advertisement -

PUGER KULON, RADARJEMBER.ID – Aktivitas melaut para nelayan di pesisir selatan Desa Puger Kulon, Kecamatan Puger, harus tersendat lantaran pasokan bahan bakar jenis solar mulai langka. Akibatnya, banyak nelayan dibuat gigit jari dan harus mengandangkan jukung atau perahu mereka.

Ketua Forum Komunikasi Nelayan Puger (FKNP) Hambali mengatakan, kelangkaan itu sudah terjadi cukup lama, bahkan hampir mencapai satu bulan. “Memang pernah langka, tapi tidak separah hari ini. Banyak nelayan yang tidak bisa melaut imbas solar langka ini,” bebernya kepada Jawa Pos Radar Jember, (7/9) kemarin.

Kelangkaan itu, lanjut dia, karena agen-agen nelayan sudah kehabisan pasokan dari SPBU. Secara bersamaan, nelayan tidak bisa membeli bahan bakar langsung ke SPBU tanpa memiliki surat rekomendasi khusus. Kalaupun ada, itu pun tersedia di pangkalan tengkulak atau pedagang eceran dengan harganya mulai Rp 8 ribu per liter.

Sementara, kebutuhan nelayan terhadap bahan bakar itu dirasa cukup besar. Biasanya, saat melaut, kebutuhan bahan bakar nelayan bisa mencapai 20 liter untuk kapal kecil, dan 200 liter untuk kapal besar. Terlebih, bulan-bulan ini dinilainya menjadi musimnya ikan. “Nelayan harus nyari ke sana kemari, ke eceran, ke SPBU. Kalau ada, itu mahal dan hanya bisa mendapatkan dalam jumlah sedikit,” imbuh Hambali.

Sejauh ini, kata Hambali, belum ada pembahasan di kalangan internal nelayan ataupun pemerintah setempat. Namun yang pasti, cukup banyak nelayan yang terpaksa menganggur lantaran tak punya bahan bakar. “Kami berharap ini bisa jadi perhatian dan bisa segera tertangani kelangkaannya,” sambungnya.

PUGER KULON, RADARJEMBER.ID – Aktivitas melaut para nelayan di pesisir selatan Desa Puger Kulon, Kecamatan Puger, harus tersendat lantaran pasokan bahan bakar jenis solar mulai langka. Akibatnya, banyak nelayan dibuat gigit jari dan harus mengandangkan jukung atau perahu mereka.

Ketua Forum Komunikasi Nelayan Puger (FKNP) Hambali mengatakan, kelangkaan itu sudah terjadi cukup lama, bahkan hampir mencapai satu bulan. “Memang pernah langka, tapi tidak separah hari ini. Banyak nelayan yang tidak bisa melaut imbas solar langka ini,” bebernya kepada Jawa Pos Radar Jember, (7/9) kemarin.

Kelangkaan itu, lanjut dia, karena agen-agen nelayan sudah kehabisan pasokan dari SPBU. Secara bersamaan, nelayan tidak bisa membeli bahan bakar langsung ke SPBU tanpa memiliki surat rekomendasi khusus. Kalaupun ada, itu pun tersedia di pangkalan tengkulak atau pedagang eceran dengan harganya mulai Rp 8 ribu per liter.

Sementara, kebutuhan nelayan terhadap bahan bakar itu dirasa cukup besar. Biasanya, saat melaut, kebutuhan bahan bakar nelayan bisa mencapai 20 liter untuk kapal kecil, dan 200 liter untuk kapal besar. Terlebih, bulan-bulan ini dinilainya menjadi musimnya ikan. “Nelayan harus nyari ke sana kemari, ke eceran, ke SPBU. Kalau ada, itu mahal dan hanya bisa mendapatkan dalam jumlah sedikit,” imbuh Hambali.

Sejauh ini, kata Hambali, belum ada pembahasan di kalangan internal nelayan ataupun pemerintah setempat. Namun yang pasti, cukup banyak nelayan yang terpaksa menganggur lantaran tak punya bahan bakar. “Kami berharap ini bisa jadi perhatian dan bisa segera tertangani kelangkaannya,” sambungnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/