alexametrics
30.1 C
Jember
Saturday, 2 July 2022

Perlu Intervensi Pemerintah

Atur Tata Niaga Hortikultura

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Saat ini beberapa komoditas hortikultura harganya terjun bebas. Pantauan Jawa Pos Radar Jember di Pasar Tanjung, harga tomat per kilogram Rp 4 ribu. Sementara itu, catatan Siskaperbapo milik Disperindag Jatim, harga tomat di Jember rata-rata per kilogram Rp 3,8 ribu. Sementara cabai rawit Rp 14 ribu. Bagi konsumen, komoditas murah bisa jadi menyenangkan. Tapi untuk petani, hal itu sangat merugikan.

Sejak adanya Covid-19, beberapa komoditas pangan memang terganggu, termasuk tanaman sayuran. Kondisi ini masih ditambah tidak jelasnya tataniaga hortikultura, yang membuat petani menjadi pihak yang selalu dirugikan. Sebab, mereka tak bisa menjual langsung ke pedagang, melainkan harus melalui tengkulak. Harga jualnya juga jauh dibandingkan dengan harga pembelian konsumen.

Selain karena panjangnya mata rantai distribusi, tiadanya campur tangan pemerintah dalam melakukan intervensi pasar juga menambah peliknya persoalan harga jual produk hortikultura. Sebab, petani harus berjuang sendiri menghadapi mekanisme pasar yang dinilai merugikan itu. Untuk itu, perlu ada regulasi dari pemerintah yang berpihak kepada petani dalam hal tata niaga hortikultura tersebut.

Mobile_AP_Rectangle 2

M Fieqih Hidayatullah, petani sayuran hidroponik di Jember, mengaku, meski saat ini kondisinya sudah agak membaik dibandingkan awal mewabahnya korona, namun tetap saja harga jual tanaman sayur tak menguntungkan bagi petani. Bila sayuran hidroponik terganggu, menurut dia, hal itu juga berlaku bagi petani sayur konvensional. “Menurutku lebih parah petani konvensional. Karena saya sebelum ke hidroponik merasakan konvensional dulu,” jelasnya.

Fieqih, yang sebelum korona konsentrasi penjualannya di Surabaya, kini mau tidak mau juga menjual ke Jember. Sebab, di Surabaya belum sepenuhnya normal. Sekitar 70 persen pangsa pasar sayuran masih mandek. Padahal, harga jual selada keriting hijau di Jember dan Surabaya selisihnya cukup lebar. Antara Rp 2.000 hingga Rp 5.000 per kilogram. Jika di Jember Rp 20 – 24 ribu per kilogram, di Surabaya bisa tembus Rp 22 – 25 ribu. “Kalau sebelum korona harga di Surabaya Rp 28 ribu per kilogram,” jelasnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Saat ini beberapa komoditas hortikultura harganya terjun bebas. Pantauan Jawa Pos Radar Jember di Pasar Tanjung, harga tomat per kilogram Rp 4 ribu. Sementara itu, catatan Siskaperbapo milik Disperindag Jatim, harga tomat di Jember rata-rata per kilogram Rp 3,8 ribu. Sementara cabai rawit Rp 14 ribu. Bagi konsumen, komoditas murah bisa jadi menyenangkan. Tapi untuk petani, hal itu sangat merugikan.

Sejak adanya Covid-19, beberapa komoditas pangan memang terganggu, termasuk tanaman sayuran. Kondisi ini masih ditambah tidak jelasnya tataniaga hortikultura, yang membuat petani menjadi pihak yang selalu dirugikan. Sebab, mereka tak bisa menjual langsung ke pedagang, melainkan harus melalui tengkulak. Harga jualnya juga jauh dibandingkan dengan harga pembelian konsumen.

Selain karena panjangnya mata rantai distribusi, tiadanya campur tangan pemerintah dalam melakukan intervensi pasar juga menambah peliknya persoalan harga jual produk hortikultura. Sebab, petani harus berjuang sendiri menghadapi mekanisme pasar yang dinilai merugikan itu. Untuk itu, perlu ada regulasi dari pemerintah yang berpihak kepada petani dalam hal tata niaga hortikultura tersebut.

M Fieqih Hidayatullah, petani sayuran hidroponik di Jember, mengaku, meski saat ini kondisinya sudah agak membaik dibandingkan awal mewabahnya korona, namun tetap saja harga jual tanaman sayur tak menguntungkan bagi petani. Bila sayuran hidroponik terganggu, menurut dia, hal itu juga berlaku bagi petani sayur konvensional. “Menurutku lebih parah petani konvensional. Karena saya sebelum ke hidroponik merasakan konvensional dulu,” jelasnya.

Fieqih, yang sebelum korona konsentrasi penjualannya di Surabaya, kini mau tidak mau juga menjual ke Jember. Sebab, di Surabaya belum sepenuhnya normal. Sekitar 70 persen pangsa pasar sayuran masih mandek. Padahal, harga jual selada keriting hijau di Jember dan Surabaya selisihnya cukup lebar. Antara Rp 2.000 hingga Rp 5.000 per kilogram. Jika di Jember Rp 20 – 24 ribu per kilogram, di Surabaya bisa tembus Rp 22 – 25 ribu. “Kalau sebelum korona harga di Surabaya Rp 28 ribu per kilogram,” jelasnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Saat ini beberapa komoditas hortikultura harganya terjun bebas. Pantauan Jawa Pos Radar Jember di Pasar Tanjung, harga tomat per kilogram Rp 4 ribu. Sementara itu, catatan Siskaperbapo milik Disperindag Jatim, harga tomat di Jember rata-rata per kilogram Rp 3,8 ribu. Sementara cabai rawit Rp 14 ribu. Bagi konsumen, komoditas murah bisa jadi menyenangkan. Tapi untuk petani, hal itu sangat merugikan.

Sejak adanya Covid-19, beberapa komoditas pangan memang terganggu, termasuk tanaman sayuran. Kondisi ini masih ditambah tidak jelasnya tataniaga hortikultura, yang membuat petani menjadi pihak yang selalu dirugikan. Sebab, mereka tak bisa menjual langsung ke pedagang, melainkan harus melalui tengkulak. Harga jualnya juga jauh dibandingkan dengan harga pembelian konsumen.

Selain karena panjangnya mata rantai distribusi, tiadanya campur tangan pemerintah dalam melakukan intervensi pasar juga menambah peliknya persoalan harga jual produk hortikultura. Sebab, petani harus berjuang sendiri menghadapi mekanisme pasar yang dinilai merugikan itu. Untuk itu, perlu ada regulasi dari pemerintah yang berpihak kepada petani dalam hal tata niaga hortikultura tersebut.

M Fieqih Hidayatullah, petani sayuran hidroponik di Jember, mengaku, meski saat ini kondisinya sudah agak membaik dibandingkan awal mewabahnya korona, namun tetap saja harga jual tanaman sayur tak menguntungkan bagi petani. Bila sayuran hidroponik terganggu, menurut dia, hal itu juga berlaku bagi petani sayur konvensional. “Menurutku lebih parah petani konvensional. Karena saya sebelum ke hidroponik merasakan konvensional dulu,” jelasnya.

Fieqih, yang sebelum korona konsentrasi penjualannya di Surabaya, kini mau tidak mau juga menjual ke Jember. Sebab, di Surabaya belum sepenuhnya normal. Sekitar 70 persen pangsa pasar sayuran masih mandek. Padahal, harga jual selada keriting hijau di Jember dan Surabaya selisihnya cukup lebar. Antara Rp 2.000 hingga Rp 5.000 per kilogram. Jika di Jember Rp 20 – 24 ribu per kilogram, di Surabaya bisa tembus Rp 22 – 25 ribu. “Kalau sebelum korona harga di Surabaya Rp 28 ribu per kilogram,” jelasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

Anomali Temuan Honor BPK

Temukan Bangkai Anakan Sapi PMK

/