alexametrics
23.1 C
Jember
Monday, 27 June 2022

Warga Kembali Datangi Rumah Sakit

Mobile_AP_Rectangle 1

RADAR, RADARJEMBER.ID – Ratusan warga menggeruduk Rumah Sakit Bina Sehat (RSBS) di Kelurahan Jember Kidul, Kaliwates (7/8). Mereka meminta kejelasan penyebab kematian pria berinisial RS yang tervonis korona. Sebab, label dugaan korona itu membuat keluarga korban merasa tak nyaman.

Dalam aksi tersebut, Ahmad Said Hidayad, anak korban, tidak terima lantaran bapaknya dimakamkan sesuai protokol Covid-19.  Said dan keluarga, serta ratusan warga Kelurahan/Kecamatan Kaliwates, minta agar ada kepastian status korban meninggal.

Kedatangan warga ini merupakan kali kedua. Sebab, rencana pembongkaran makam tak diperbolehkan. Warga menilai, swab yang dikeluarkan RSBS hanya tipu daya. Warga menilai, hanya RSUD dr Soebandi dan RS Jember Klinik yang bisa mengeluarkan swab. 

Mobile_AP_Rectangle 2

Selama 1,5 jam, ratusan warga tetap bertahan di pintu masuk RSBS. Petugas keamanan dari Polsek Kaliwates dan Polres Jember terus berjaga.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember, mediasi dilakukan di ruang pemeriksaan kesehatan. Mediasi yang dikawal aparat kepolisian dilakukan secara tertutup.  Sementara itu, ratusan warga lain tetap bertahan di halaman RSBS. “Kami datang karena ingin minta kejelasan. Ini merusak nama baik. Sementara petugas Covid-19 juga tidak pernah melakukan penanganan pasca-dikuburnya korban. Saya ingin nama baik keluarga dikembalikan. Kalau Covid-19, kenapa tidak ada karantina,” ucap Muhammad Fikri, adik sepupu korban.

Dia menyebut, pihak keluarga ingin tim gugus tugas datang ke lokasi, termasuk muspida. Hal itu untuk memastikan bahwa korban bukan meninggal akibat korona. “Harapan kami, jajaran muspika dan muspida datang ke rumah. Agar masyarakat tahu bahwa ini bukan korona,” bebernya.

 

 

Mediasi Tak Membuahkan Hasil

- Advertisement -

RADAR, RADARJEMBER.ID – Ratusan warga menggeruduk Rumah Sakit Bina Sehat (RSBS) di Kelurahan Jember Kidul, Kaliwates (7/8). Mereka meminta kejelasan penyebab kematian pria berinisial RS yang tervonis korona. Sebab, label dugaan korona itu membuat keluarga korban merasa tak nyaman.

Dalam aksi tersebut, Ahmad Said Hidayad, anak korban, tidak terima lantaran bapaknya dimakamkan sesuai protokol Covid-19.  Said dan keluarga, serta ratusan warga Kelurahan/Kecamatan Kaliwates, minta agar ada kepastian status korban meninggal.

Kedatangan warga ini merupakan kali kedua. Sebab, rencana pembongkaran makam tak diperbolehkan. Warga menilai, swab yang dikeluarkan RSBS hanya tipu daya. Warga menilai, hanya RSUD dr Soebandi dan RS Jember Klinik yang bisa mengeluarkan swab. 

Selama 1,5 jam, ratusan warga tetap bertahan di pintu masuk RSBS. Petugas keamanan dari Polsek Kaliwates dan Polres Jember terus berjaga.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember, mediasi dilakukan di ruang pemeriksaan kesehatan. Mediasi yang dikawal aparat kepolisian dilakukan secara tertutup.  Sementara itu, ratusan warga lain tetap bertahan di halaman RSBS. “Kami datang karena ingin minta kejelasan. Ini merusak nama baik. Sementara petugas Covid-19 juga tidak pernah melakukan penanganan pasca-dikuburnya korban. Saya ingin nama baik keluarga dikembalikan. Kalau Covid-19, kenapa tidak ada karantina,” ucap Muhammad Fikri, adik sepupu korban.

Dia menyebut, pihak keluarga ingin tim gugus tugas datang ke lokasi, termasuk muspida. Hal itu untuk memastikan bahwa korban bukan meninggal akibat korona. “Harapan kami, jajaran muspika dan muspida datang ke rumah. Agar masyarakat tahu bahwa ini bukan korona,” bebernya.

 

 

Mediasi Tak Membuahkan Hasil

RADAR, RADARJEMBER.ID – Ratusan warga menggeruduk Rumah Sakit Bina Sehat (RSBS) di Kelurahan Jember Kidul, Kaliwates (7/8). Mereka meminta kejelasan penyebab kematian pria berinisial RS yang tervonis korona. Sebab, label dugaan korona itu membuat keluarga korban merasa tak nyaman.

Dalam aksi tersebut, Ahmad Said Hidayad, anak korban, tidak terima lantaran bapaknya dimakamkan sesuai protokol Covid-19.  Said dan keluarga, serta ratusan warga Kelurahan/Kecamatan Kaliwates, minta agar ada kepastian status korban meninggal.

Kedatangan warga ini merupakan kali kedua. Sebab, rencana pembongkaran makam tak diperbolehkan. Warga menilai, swab yang dikeluarkan RSBS hanya tipu daya. Warga menilai, hanya RSUD dr Soebandi dan RS Jember Klinik yang bisa mengeluarkan swab. 

Selama 1,5 jam, ratusan warga tetap bertahan di pintu masuk RSBS. Petugas keamanan dari Polsek Kaliwates dan Polres Jember terus berjaga.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember, mediasi dilakukan di ruang pemeriksaan kesehatan. Mediasi yang dikawal aparat kepolisian dilakukan secara tertutup.  Sementara itu, ratusan warga lain tetap bertahan di halaman RSBS. “Kami datang karena ingin minta kejelasan. Ini merusak nama baik. Sementara petugas Covid-19 juga tidak pernah melakukan penanganan pasca-dikuburnya korban. Saya ingin nama baik keluarga dikembalikan. Kalau Covid-19, kenapa tidak ada karantina,” ucap Muhammad Fikri, adik sepupu korban.

Dia menyebut, pihak keluarga ingin tim gugus tugas datang ke lokasi, termasuk muspida. Hal itu untuk memastikan bahwa korban bukan meninggal akibat korona. “Harapan kami, jajaran muspika dan muspida datang ke rumah. Agar masyarakat tahu bahwa ini bukan korona,” bebernya.

 

 

Mediasi Tak Membuahkan Hasil

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

Tamu Luar Daerah Batasi

Perumahan Masih Banyak Peminatnya

Tarik Petugas dari Mulut Tambang

/