alexametrics
24 C
Jember
Monday, 8 August 2022

BUMDes Sidodadi “Curangi” Paket Daging Warga Miskin

Mobile_AP_Rectangle 1

SIDODADI, Radar Jember – Pola bisnis yang dijalankan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Sidodadi, Kecamatan Tempurejo, dinilai keluar dari rel. Pengelola memanfaatkan warga miskin penerima Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) sebagai segmen pasar. Mereka diminta membeli daging setelah menerima bantuan dari pemerintah. Terlebih, daging yang diberikan diduga kurang dari takaran.

BACA JUGA : Siapkan Ribuan Desa Jadi Percontohan Anti Korupsi

Didik Susiawan, warga Dusun Krajan, Desa Sidodadi, mengungkapkan, dugaan aksi lancung yang dilakukan oleh BUMDes itu terjadi pada 19 April lalu, sebelum Lebaran tiba. Total ada 1.272 penerima yang masing-masing mendapatkan bantuan Rp 500 ribu. Perinciannya, Rp 200 ribu BPNT dan Rp 300 ribu subsidi minyak goreng.

Mobile_AP_Rectangle 2

Didik, yang merupakan tokoh masyarakat setempat, menjelaskan, ketika ada bantuan itu, BUMDes berinisiatif menyediakan paket daging dan sembako yang dijual ke penerima bantuan. Tiap paket dihargai Rp 200 ribu. Berupa daging satu kilogram senilai Rp 130 ribu, daging campur dua ons Rp 10 ribu, minyak goreng kemasan dua liter Rp 50 ribu, serta kentang satu kilogram Rp 10 ribu.

“Namun, dalam pembagian daging yang harusnya dapat satu kilogram, ternyata rata-rata hanya mendapat tujuh sampai delapan ons,” ungkapnya. Artinya, kata dia, bantuan itu dikurangi lantaran berat daging yang diberikan tidak sesuai dengan ketentuan. BUMDes ditengarai mengakali paket daging yang dijual kepada warga miskin tersebut.

Didik mengaku telah melayangkan protes ke sejumlah pihak. Baik ke pengelola BUMDes maupun ke pemerintah desa. Bahkan, dirinya juga sempat mengadukan hal itu ke polisi. Namun, dia kecewa lantaran tidak ada tindakan atas dugaan aksi lancung itu. “Saat ramai di medsos saya mendatangi polisi. Dan bukti-bukti sudah saya kirimkan, baik di polsek maupun polres. Katanya, temuan ini mau disampaikan ke tipikor (tindak pidana korupsi) dan reskrim (reserse kriminal),” ucapnya.

Lebih sebulan berjalan sejak kasus itu mencuat, hingga kini belum juga ada tanda-tanda perkara itu bakal diusut. Padahal, Didik menuturkan, dugaan kecurangan ini sudah didesain sejak awal. Sebab, BUMDes tidak menyediakan daging sesuai dengan perencanaan awal. Berdasarkan nota item satu dan dua yang dia dapat dari internal BUMDes, kebutuhan daging yang harusnya disediakan adalah 1.526 kilogram dengan nilai Rp 178 juta lebih.

Rupanya, lanjut Didik, dari anggaran pengadaan daging Rp 178 juta itu, oleh BUMDes hanya dibelikan sapi lima ekor seharga Rp 120 juta, setara Rp 24 juta per ekor. Sedangkan perkiraan daging yang didapat dari lima ekor itu hanya 11 kuintal. Padahal kebutuhan seharusntya 1.526 kilogram. Jika dilihat dari perkiraan kebutuhan dengan daging yang disediakan, jelas tidak mencukupi. “Bahkan sapi lima ekor dengan harga Rp 120 juta tersebut diperkirakan masih terjadi mark up,” sebutnya.

Kepala Desa Sidodadi, Kecamatan Tempurejo, Suyono tak menampik kabar aksi lancung tersebut. Bahkan, dia telah menelusuri dan membahasnya di internal bersama pengurus BUMDes Sidomakmur. Sebagai komisaris yang sekaligus penasihat BUMDes, dirinya juga merasa bertanggung jawab atas dugaan kecurangan itu. Terlebih, para penerimanya adalah warga miskin yang merupakan warganya sendiri. “Kami sudah musyawarah secara internal. Iya, (dugaan pemotongan daging, Red) itu memang ada. Tapi tidak ke semua penerima,” tuturnya.

- Advertisement -

SIDODADI, Radar Jember – Pola bisnis yang dijalankan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Sidodadi, Kecamatan Tempurejo, dinilai keluar dari rel. Pengelola memanfaatkan warga miskin penerima Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) sebagai segmen pasar. Mereka diminta membeli daging setelah menerima bantuan dari pemerintah. Terlebih, daging yang diberikan diduga kurang dari takaran.

BACA JUGA : Siapkan Ribuan Desa Jadi Percontohan Anti Korupsi

Didik Susiawan, warga Dusun Krajan, Desa Sidodadi, mengungkapkan, dugaan aksi lancung yang dilakukan oleh BUMDes itu terjadi pada 19 April lalu, sebelum Lebaran tiba. Total ada 1.272 penerima yang masing-masing mendapatkan bantuan Rp 500 ribu. Perinciannya, Rp 200 ribu BPNT dan Rp 300 ribu subsidi minyak goreng.

Didik, yang merupakan tokoh masyarakat setempat, menjelaskan, ketika ada bantuan itu, BUMDes berinisiatif menyediakan paket daging dan sembako yang dijual ke penerima bantuan. Tiap paket dihargai Rp 200 ribu. Berupa daging satu kilogram senilai Rp 130 ribu, daging campur dua ons Rp 10 ribu, minyak goreng kemasan dua liter Rp 50 ribu, serta kentang satu kilogram Rp 10 ribu.

“Namun, dalam pembagian daging yang harusnya dapat satu kilogram, ternyata rata-rata hanya mendapat tujuh sampai delapan ons,” ungkapnya. Artinya, kata dia, bantuan itu dikurangi lantaran berat daging yang diberikan tidak sesuai dengan ketentuan. BUMDes ditengarai mengakali paket daging yang dijual kepada warga miskin tersebut.

Didik mengaku telah melayangkan protes ke sejumlah pihak. Baik ke pengelola BUMDes maupun ke pemerintah desa. Bahkan, dirinya juga sempat mengadukan hal itu ke polisi. Namun, dia kecewa lantaran tidak ada tindakan atas dugaan aksi lancung itu. “Saat ramai di medsos saya mendatangi polisi. Dan bukti-bukti sudah saya kirimkan, baik di polsek maupun polres. Katanya, temuan ini mau disampaikan ke tipikor (tindak pidana korupsi) dan reskrim (reserse kriminal),” ucapnya.

Lebih sebulan berjalan sejak kasus itu mencuat, hingga kini belum juga ada tanda-tanda perkara itu bakal diusut. Padahal, Didik menuturkan, dugaan kecurangan ini sudah didesain sejak awal. Sebab, BUMDes tidak menyediakan daging sesuai dengan perencanaan awal. Berdasarkan nota item satu dan dua yang dia dapat dari internal BUMDes, kebutuhan daging yang harusnya disediakan adalah 1.526 kilogram dengan nilai Rp 178 juta lebih.

Rupanya, lanjut Didik, dari anggaran pengadaan daging Rp 178 juta itu, oleh BUMDes hanya dibelikan sapi lima ekor seharga Rp 120 juta, setara Rp 24 juta per ekor. Sedangkan perkiraan daging yang didapat dari lima ekor itu hanya 11 kuintal. Padahal kebutuhan seharusntya 1.526 kilogram. Jika dilihat dari perkiraan kebutuhan dengan daging yang disediakan, jelas tidak mencukupi. “Bahkan sapi lima ekor dengan harga Rp 120 juta tersebut diperkirakan masih terjadi mark up,” sebutnya.

Kepala Desa Sidodadi, Kecamatan Tempurejo, Suyono tak menampik kabar aksi lancung tersebut. Bahkan, dia telah menelusuri dan membahasnya di internal bersama pengurus BUMDes Sidomakmur. Sebagai komisaris yang sekaligus penasihat BUMDes, dirinya juga merasa bertanggung jawab atas dugaan kecurangan itu. Terlebih, para penerimanya adalah warga miskin yang merupakan warganya sendiri. “Kami sudah musyawarah secara internal. Iya, (dugaan pemotongan daging, Red) itu memang ada. Tapi tidak ke semua penerima,” tuturnya.

SIDODADI, Radar Jember – Pola bisnis yang dijalankan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Sidodadi, Kecamatan Tempurejo, dinilai keluar dari rel. Pengelola memanfaatkan warga miskin penerima Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) sebagai segmen pasar. Mereka diminta membeli daging setelah menerima bantuan dari pemerintah. Terlebih, daging yang diberikan diduga kurang dari takaran.

BACA JUGA : Siapkan Ribuan Desa Jadi Percontohan Anti Korupsi

Didik Susiawan, warga Dusun Krajan, Desa Sidodadi, mengungkapkan, dugaan aksi lancung yang dilakukan oleh BUMDes itu terjadi pada 19 April lalu, sebelum Lebaran tiba. Total ada 1.272 penerima yang masing-masing mendapatkan bantuan Rp 500 ribu. Perinciannya, Rp 200 ribu BPNT dan Rp 300 ribu subsidi minyak goreng.

Didik, yang merupakan tokoh masyarakat setempat, menjelaskan, ketika ada bantuan itu, BUMDes berinisiatif menyediakan paket daging dan sembako yang dijual ke penerima bantuan. Tiap paket dihargai Rp 200 ribu. Berupa daging satu kilogram senilai Rp 130 ribu, daging campur dua ons Rp 10 ribu, minyak goreng kemasan dua liter Rp 50 ribu, serta kentang satu kilogram Rp 10 ribu.

“Namun, dalam pembagian daging yang harusnya dapat satu kilogram, ternyata rata-rata hanya mendapat tujuh sampai delapan ons,” ungkapnya. Artinya, kata dia, bantuan itu dikurangi lantaran berat daging yang diberikan tidak sesuai dengan ketentuan. BUMDes ditengarai mengakali paket daging yang dijual kepada warga miskin tersebut.

Didik mengaku telah melayangkan protes ke sejumlah pihak. Baik ke pengelola BUMDes maupun ke pemerintah desa. Bahkan, dirinya juga sempat mengadukan hal itu ke polisi. Namun, dia kecewa lantaran tidak ada tindakan atas dugaan aksi lancung itu. “Saat ramai di medsos saya mendatangi polisi. Dan bukti-bukti sudah saya kirimkan, baik di polsek maupun polres. Katanya, temuan ini mau disampaikan ke tipikor (tindak pidana korupsi) dan reskrim (reserse kriminal),” ucapnya.

Lebih sebulan berjalan sejak kasus itu mencuat, hingga kini belum juga ada tanda-tanda perkara itu bakal diusut. Padahal, Didik menuturkan, dugaan kecurangan ini sudah didesain sejak awal. Sebab, BUMDes tidak menyediakan daging sesuai dengan perencanaan awal. Berdasarkan nota item satu dan dua yang dia dapat dari internal BUMDes, kebutuhan daging yang harusnya disediakan adalah 1.526 kilogram dengan nilai Rp 178 juta lebih.

Rupanya, lanjut Didik, dari anggaran pengadaan daging Rp 178 juta itu, oleh BUMDes hanya dibelikan sapi lima ekor seharga Rp 120 juta, setara Rp 24 juta per ekor. Sedangkan perkiraan daging yang didapat dari lima ekor itu hanya 11 kuintal. Padahal kebutuhan seharusntya 1.526 kilogram. Jika dilihat dari perkiraan kebutuhan dengan daging yang disediakan, jelas tidak mencukupi. “Bahkan sapi lima ekor dengan harga Rp 120 juta tersebut diperkirakan masih terjadi mark up,” sebutnya.

Kepala Desa Sidodadi, Kecamatan Tempurejo, Suyono tak menampik kabar aksi lancung tersebut. Bahkan, dia telah menelusuri dan membahasnya di internal bersama pengurus BUMDes Sidomakmur. Sebagai komisaris yang sekaligus penasihat BUMDes, dirinya juga merasa bertanggung jawab atas dugaan kecurangan itu. Terlebih, para penerimanya adalah warga miskin yang merupakan warganya sendiri. “Kami sudah musyawarah secara internal. Iya, (dugaan pemotongan daging, Red) itu memang ada. Tapi tidak ke semua penerima,” tuturnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/