alexametrics
31.2 C
Jember
Monday, 4 July 2022

Dipengaruhi Pola Asuh dan Lingkungan

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bermain dan belajar menjadi kegiatan yang diminati anak-anak. Tapi juga tidak sedikit kegiatan usia anak justru menyimpang. Bahkan, sampai terlibat aksi kriminal. Kendati begitu, anak yang terlibat perkara pidana belum tentu kala dewasa mereka akan tetap menjadi pelaku kriminal. Untuk itu, perlu dukungan penuh orang tua dan lingkungan demi memperbaiki kondisi anak tersebut.

Dokter Spesialis Jiwa di RSU DrKoesnadi Bondowoso, Dewi Prisca Sembiring, kepada Jawa Pos Radar Jember mengatakan, usia anak hingga punya perilaku kriminalitas dengan kekerasan, bisa jadi karena anak tersebut punya masalah kejiwaan. Sebab, perilakunya menunjukkan kondisi yang tidak biasa, tidak normal seperti yang dilakukan oleh anak-anak pada umunya.

Ganjaran hukuman badan, menurut Dewi, belum tentu mengubah perilaku anak. Meski akibat kesalahannya mereka ditangkap oleh pihak berwajib dan dipenjara. Sebab, ada faktor lain yang cukup memengaruhi. Yakni pola asuh dan lingkungan yang membentuknya. “Dalam perkembangannya bisa dilihat, apakah perilaku itu masih bisa diubah atau permanen,” tuturnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dewi menyebut, pada usia di bawah 18 tahun,ada peluang anak tersebut mengubah perilaku. Sebab, usia ini adalah usia pembentukan. Baik secara fisik maupun psikis. Karenanya, pada usia itu mereka punya peluang lebih besar untuk mengubah perilaku buruknya dari pada orang dewasa. Namun, jika lebih dari 18 tahun, biasanya akan sulit karena sudah menjadi kepribadian. “Kepribadian itu biasanya terbentuk saat usia 18 tahun,” paparnya.

Pola asuh dan bimbingan dari orangtua juga berpengaruh. Jika pola asuhnya lemah ditambah berada dalam lingkungan yang mengarah ke negatif, maka psikis anak akan terbentuk ke arah negatif pula. Bisa menjadikan mereka terkena gangguan jiwa yang disebut gangguan tingkah laku atau conduct disorder. “Itu bisa terjadi baik dilakukan perorangan maupun berkelompok,” jelasnya.

Perempuan berkacamata ini menambahkan, masalah kejiwaan tidak semua harus diselesaikan dengan pengobatan. Jika conduct disorder yang dialami anak masih tergolong ringan, dan dukungan orangtua serta lingkungan cukup baik, maka cara penyembuhannya bisa dilakukan psikoterapi suportif dan psikoedukasi keluarga. Selain itu,behavioraltherapy untuk mengembalikan pola dan tingkahlaku anak yang baik dan benar.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bermain dan belajar menjadi kegiatan yang diminati anak-anak. Tapi juga tidak sedikit kegiatan usia anak justru menyimpang. Bahkan, sampai terlibat aksi kriminal. Kendati begitu, anak yang terlibat perkara pidana belum tentu kala dewasa mereka akan tetap menjadi pelaku kriminal. Untuk itu, perlu dukungan penuh orang tua dan lingkungan demi memperbaiki kondisi anak tersebut.

Dokter Spesialis Jiwa di RSU DrKoesnadi Bondowoso, Dewi Prisca Sembiring, kepada Jawa Pos Radar Jember mengatakan, usia anak hingga punya perilaku kriminalitas dengan kekerasan, bisa jadi karena anak tersebut punya masalah kejiwaan. Sebab, perilakunya menunjukkan kondisi yang tidak biasa, tidak normal seperti yang dilakukan oleh anak-anak pada umunya.

Ganjaran hukuman badan, menurut Dewi, belum tentu mengubah perilaku anak. Meski akibat kesalahannya mereka ditangkap oleh pihak berwajib dan dipenjara. Sebab, ada faktor lain yang cukup memengaruhi. Yakni pola asuh dan lingkungan yang membentuknya. “Dalam perkembangannya bisa dilihat, apakah perilaku itu masih bisa diubah atau permanen,” tuturnya.

Dewi menyebut, pada usia di bawah 18 tahun,ada peluang anak tersebut mengubah perilaku. Sebab, usia ini adalah usia pembentukan. Baik secara fisik maupun psikis. Karenanya, pada usia itu mereka punya peluang lebih besar untuk mengubah perilaku buruknya dari pada orang dewasa. Namun, jika lebih dari 18 tahun, biasanya akan sulit karena sudah menjadi kepribadian. “Kepribadian itu biasanya terbentuk saat usia 18 tahun,” paparnya.

Pola asuh dan bimbingan dari orangtua juga berpengaruh. Jika pola asuhnya lemah ditambah berada dalam lingkungan yang mengarah ke negatif, maka psikis anak akan terbentuk ke arah negatif pula. Bisa menjadikan mereka terkena gangguan jiwa yang disebut gangguan tingkah laku atau conduct disorder. “Itu bisa terjadi baik dilakukan perorangan maupun berkelompok,” jelasnya.

Perempuan berkacamata ini menambahkan, masalah kejiwaan tidak semua harus diselesaikan dengan pengobatan. Jika conduct disorder yang dialami anak masih tergolong ringan, dan dukungan orangtua serta lingkungan cukup baik, maka cara penyembuhannya bisa dilakukan psikoterapi suportif dan psikoedukasi keluarga. Selain itu,behavioraltherapy untuk mengembalikan pola dan tingkahlaku anak yang baik dan benar.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bermain dan belajar menjadi kegiatan yang diminati anak-anak. Tapi juga tidak sedikit kegiatan usia anak justru menyimpang. Bahkan, sampai terlibat aksi kriminal. Kendati begitu, anak yang terlibat perkara pidana belum tentu kala dewasa mereka akan tetap menjadi pelaku kriminal. Untuk itu, perlu dukungan penuh orang tua dan lingkungan demi memperbaiki kondisi anak tersebut.

Dokter Spesialis Jiwa di RSU DrKoesnadi Bondowoso, Dewi Prisca Sembiring, kepada Jawa Pos Radar Jember mengatakan, usia anak hingga punya perilaku kriminalitas dengan kekerasan, bisa jadi karena anak tersebut punya masalah kejiwaan. Sebab, perilakunya menunjukkan kondisi yang tidak biasa, tidak normal seperti yang dilakukan oleh anak-anak pada umunya.

Ganjaran hukuman badan, menurut Dewi, belum tentu mengubah perilaku anak. Meski akibat kesalahannya mereka ditangkap oleh pihak berwajib dan dipenjara. Sebab, ada faktor lain yang cukup memengaruhi. Yakni pola asuh dan lingkungan yang membentuknya. “Dalam perkembangannya bisa dilihat, apakah perilaku itu masih bisa diubah atau permanen,” tuturnya.

Dewi menyebut, pada usia di bawah 18 tahun,ada peluang anak tersebut mengubah perilaku. Sebab, usia ini adalah usia pembentukan. Baik secara fisik maupun psikis. Karenanya, pada usia itu mereka punya peluang lebih besar untuk mengubah perilaku buruknya dari pada orang dewasa. Namun, jika lebih dari 18 tahun, biasanya akan sulit karena sudah menjadi kepribadian. “Kepribadian itu biasanya terbentuk saat usia 18 tahun,” paparnya.

Pola asuh dan bimbingan dari orangtua juga berpengaruh. Jika pola asuhnya lemah ditambah berada dalam lingkungan yang mengarah ke negatif, maka psikis anak akan terbentuk ke arah negatif pula. Bisa menjadikan mereka terkena gangguan jiwa yang disebut gangguan tingkah laku atau conduct disorder. “Itu bisa terjadi baik dilakukan perorangan maupun berkelompok,” jelasnya.

Perempuan berkacamata ini menambahkan, masalah kejiwaan tidak semua harus diselesaikan dengan pengobatan. Jika conduct disorder yang dialami anak masih tergolong ringan, dan dukungan orangtua serta lingkungan cukup baik, maka cara penyembuhannya bisa dilakukan psikoterapi suportif dan psikoedukasi keluarga. Selain itu,behavioraltherapy untuk mengembalikan pola dan tingkahlaku anak yang baik dan benar.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/