alexametrics
26.5 C
Jember
Wednesday, 29 June 2022

Belum Punya Lapas Khusus

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Hasil kajian Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebutkan, faktor pendorong perbuatan kejahatan anak itu beragam. Mulai dari pergaulan hingga efek media sosial. Selain itu, kejahatan anak rata-rata didominasi oleh pengaruh teman dan pergaulan. Sementara itu, pengaruh gawaibiasanya menyangkut kejahatan seksualitas.

Di Jember, kasus anak berhadapan dengan hukum (ABH) memang bukan hal baru. Sudah beragam perkara yang menyeret anak sampai ke meja hijau. Tentu, perlakuan untuk mereka harus khusus, tidak disamakan dengan orang dewasa pada umumnya. Meski pada praktiknya, belum ada lembaga pemasyarakatan (lapas) khusus anak di Jember. Sehingga, ketika dalam proses sidang mereka dititipkan di Lapas Kelas II A Jember sebelum putusan pengadilan.

Secara prosedur,Lapas Kelas II A Jember memang tidak menampung anak. Hanya saja,tiadanya tempat penitipan bagi ABH di Jember membuat mereka mau tidak mau harus dititipkan di Lapas Jember. Baru setelah mendapat vonis, mereka diarahkan ke lapaskhusus anak yang berada di Kabupaten Blitar.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Jadi,selama belum vonis, disini (Lapas Jember, Red). Tapi perlakuannya spesial. Karena mereka juga harus dalam pengawasan khusus. Kamar khusus anak kami ada,” tutur Kepala LapasKlas II A Jember Yandi Suyandi.

Di dalam lapas, mereka mendapat perlakuan yang memang diperuntukkan bagi anak. Yandi mengaku, pihaknya memberi pembinaan yang tidak sama dengan tahanan dewasa. Khusus anak, hanya dapat pembinaan kepribadian saja. Sedangkan warga binaan dewasa mendapat dua pembinaan, yakni kepribadian, yang meliputi fisik dan mental, serta kemandirian untuk melatih skill berwirausaha.

Pembinaan kepribadian untuk anak pun dibatasi. Disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan si anak. “Bagi yang tidak pernah sekolah, kami berikan calistung (belajar baca, tulis, hitung, Red). Kemudian ada pembinaan berbangsa dan bernegara,” lanjut Yandi.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Hasil kajian Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebutkan, faktor pendorong perbuatan kejahatan anak itu beragam. Mulai dari pergaulan hingga efek media sosial. Selain itu, kejahatan anak rata-rata didominasi oleh pengaruh teman dan pergaulan. Sementara itu, pengaruh gawaibiasanya menyangkut kejahatan seksualitas.

Di Jember, kasus anak berhadapan dengan hukum (ABH) memang bukan hal baru. Sudah beragam perkara yang menyeret anak sampai ke meja hijau. Tentu, perlakuan untuk mereka harus khusus, tidak disamakan dengan orang dewasa pada umumnya. Meski pada praktiknya, belum ada lembaga pemasyarakatan (lapas) khusus anak di Jember. Sehingga, ketika dalam proses sidang mereka dititipkan di Lapas Kelas II A Jember sebelum putusan pengadilan.

Secara prosedur,Lapas Kelas II A Jember memang tidak menampung anak. Hanya saja,tiadanya tempat penitipan bagi ABH di Jember membuat mereka mau tidak mau harus dititipkan di Lapas Jember. Baru setelah mendapat vonis, mereka diarahkan ke lapaskhusus anak yang berada di Kabupaten Blitar.

“Jadi,selama belum vonis, disini (Lapas Jember, Red). Tapi perlakuannya spesial. Karena mereka juga harus dalam pengawasan khusus. Kamar khusus anak kami ada,” tutur Kepala LapasKlas II A Jember Yandi Suyandi.

Di dalam lapas, mereka mendapat perlakuan yang memang diperuntukkan bagi anak. Yandi mengaku, pihaknya memberi pembinaan yang tidak sama dengan tahanan dewasa. Khusus anak, hanya dapat pembinaan kepribadian saja. Sedangkan warga binaan dewasa mendapat dua pembinaan, yakni kepribadian, yang meliputi fisik dan mental, serta kemandirian untuk melatih skill berwirausaha.

Pembinaan kepribadian untuk anak pun dibatasi. Disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan si anak. “Bagi yang tidak pernah sekolah, kami berikan calistung (belajar baca, tulis, hitung, Red). Kemudian ada pembinaan berbangsa dan bernegara,” lanjut Yandi.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Hasil kajian Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebutkan, faktor pendorong perbuatan kejahatan anak itu beragam. Mulai dari pergaulan hingga efek media sosial. Selain itu, kejahatan anak rata-rata didominasi oleh pengaruh teman dan pergaulan. Sementara itu, pengaruh gawaibiasanya menyangkut kejahatan seksualitas.

Di Jember, kasus anak berhadapan dengan hukum (ABH) memang bukan hal baru. Sudah beragam perkara yang menyeret anak sampai ke meja hijau. Tentu, perlakuan untuk mereka harus khusus, tidak disamakan dengan orang dewasa pada umumnya. Meski pada praktiknya, belum ada lembaga pemasyarakatan (lapas) khusus anak di Jember. Sehingga, ketika dalam proses sidang mereka dititipkan di Lapas Kelas II A Jember sebelum putusan pengadilan.

Secara prosedur,Lapas Kelas II A Jember memang tidak menampung anak. Hanya saja,tiadanya tempat penitipan bagi ABH di Jember membuat mereka mau tidak mau harus dititipkan di Lapas Jember. Baru setelah mendapat vonis, mereka diarahkan ke lapaskhusus anak yang berada di Kabupaten Blitar.

“Jadi,selama belum vonis, disini (Lapas Jember, Red). Tapi perlakuannya spesial. Karena mereka juga harus dalam pengawasan khusus. Kamar khusus anak kami ada,” tutur Kepala LapasKlas II A Jember Yandi Suyandi.

Di dalam lapas, mereka mendapat perlakuan yang memang diperuntukkan bagi anak. Yandi mengaku, pihaknya memberi pembinaan yang tidak sama dengan tahanan dewasa. Khusus anak, hanya dapat pembinaan kepribadian saja. Sedangkan warga binaan dewasa mendapat dua pembinaan, yakni kepribadian, yang meliputi fisik dan mental, serta kemandirian untuk melatih skill berwirausaha.

Pembinaan kepribadian untuk anak pun dibatasi. Disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan si anak. “Bagi yang tidak pernah sekolah, kami berikan calistung (belajar baca, tulis, hitung, Red). Kemudian ada pembinaan berbangsa dan bernegara,” lanjut Yandi.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/