alexametrics
25 C
Jember
Saturday, 28 May 2022

Usut Dugaan Dosen Cabul

- Korbannya Kemenakan, Tinggal Serumah

- Unej Sudah Bentuk Tim Investigasi

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Unggahan di Instagram itu menjadi pembuka tabir pelecehan seksual yang dilakukan oleh sang paman. Korban membuka suara. Dia menulis tentang aksi keji pelaku, yang juga merupakan dosen di salah satu fakultas Universitas Jember (Unej) itu. Terkuaknya kasus ini menambah daftar panjang pelecehan terhadap anak yang dilakukan oleh orang dekat.

Ketika peristiwa itu terjadi, korban dan pelaku tinggal satu rumah. Korban dilecehkan dua kali. Pelaku melancarkan aksinya itu dengan berpura-pura memeriksa dada korban. Pelaku beralasan, ada potensi penyakit kanker payudara pada kemenakannya. Rupanya, dalih itu hanyalah modus agar pelaku leluasa melecehkan korban. Akhirnya, korban bersuara lewat media sosial, meski tak menyebut siapa korban dan pelakunya.

Sang ibu, yang tengah bekerja di Jakarta, membaca unggahan putrinya itu. Dia pun mencoba mengonfirmasi, siapa yang menjadi korban dan pelakunya. Setelah mendapat kepastian, sang ibu terkejut. Hingga kemudian, dia meminta izin pulang untuk melaporkan peristiwa itu ke Polres Jember.

Mobile_AP_Rectangle 2

Informasi yang diterima Jawa Pos Radar Jember, remaja berusia 16 tahun itu telah menjadi korban pelecehan selama dua bulan terakhir ini. Aksi itu dilakukan dua kali. Pertama pada akhir Februari, dan kedua terjadi pada 26 Maret lalu.

Dari keterangan ibu korban, mulanya pelaku memberikan informasi mengenai penyakit kanker payudara dengan menyodorkan jurnal ilmiah yang sebagian isinya berbahasa Inggris. Dari situ, pelaku menuding bahwa korban terindikasi terserang penyakit mematikan itu. Pelaku menyebut, ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa korban sedang terjangkit penyakit. Kesempatan ini digunakan oleh pelaku untuk mengajak korban masuk ke kamar. Di situlah kejadian keji itu berlangsung.

Rupanya, pelaku mengulangi perbutannya. Untuk kejadian yang kedua, korban berinisiatif merekam via suara. Kejadiannya berlangsung pada pukul 10 siang. Durasi lamanya sekitar 5 menit. Tak lama kemudian, istri pelaku datang. Namun, dia tak sampai memergoki perbuatan suaminya tersebut.

Selang beberapa jam, korban menulis status di Instagram. Tulisan itu menerangkan tentang pelecehan seksual. Isinya mengajak agar korban speak up atau bersuara. Dari sinilah ibu korban merasa ada keanehan. Dia berusaha menghubungi anaknya. Namun, korban tak kunjung menjawab pertanyaan sang ibunda. “Ditelepon tidak diangkat. Cuma bilang, Ma, tolongin aku. Lalu, saya paksa untuk ngomong. Akhirnya bercerita,” ungkap ibu korban, kemarin (7/4).

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Unggahan di Instagram itu menjadi pembuka tabir pelecehan seksual yang dilakukan oleh sang paman. Korban membuka suara. Dia menulis tentang aksi keji pelaku, yang juga merupakan dosen di salah satu fakultas Universitas Jember (Unej) itu. Terkuaknya kasus ini menambah daftar panjang pelecehan terhadap anak yang dilakukan oleh orang dekat.

Ketika peristiwa itu terjadi, korban dan pelaku tinggal satu rumah. Korban dilecehkan dua kali. Pelaku melancarkan aksinya itu dengan berpura-pura memeriksa dada korban. Pelaku beralasan, ada potensi penyakit kanker payudara pada kemenakannya. Rupanya, dalih itu hanyalah modus agar pelaku leluasa melecehkan korban. Akhirnya, korban bersuara lewat media sosial, meski tak menyebut siapa korban dan pelakunya.

Sang ibu, yang tengah bekerja di Jakarta, membaca unggahan putrinya itu. Dia pun mencoba mengonfirmasi, siapa yang menjadi korban dan pelakunya. Setelah mendapat kepastian, sang ibu terkejut. Hingga kemudian, dia meminta izin pulang untuk melaporkan peristiwa itu ke Polres Jember.

Informasi yang diterima Jawa Pos Radar Jember, remaja berusia 16 tahun itu telah menjadi korban pelecehan selama dua bulan terakhir ini. Aksi itu dilakukan dua kali. Pertama pada akhir Februari, dan kedua terjadi pada 26 Maret lalu.

Dari keterangan ibu korban, mulanya pelaku memberikan informasi mengenai penyakit kanker payudara dengan menyodorkan jurnal ilmiah yang sebagian isinya berbahasa Inggris. Dari situ, pelaku menuding bahwa korban terindikasi terserang penyakit mematikan itu. Pelaku menyebut, ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa korban sedang terjangkit penyakit. Kesempatan ini digunakan oleh pelaku untuk mengajak korban masuk ke kamar. Di situlah kejadian keji itu berlangsung.

Rupanya, pelaku mengulangi perbutannya. Untuk kejadian yang kedua, korban berinisiatif merekam via suara. Kejadiannya berlangsung pada pukul 10 siang. Durasi lamanya sekitar 5 menit. Tak lama kemudian, istri pelaku datang. Namun, dia tak sampai memergoki perbuatan suaminya tersebut.

Selang beberapa jam, korban menulis status di Instagram. Tulisan itu menerangkan tentang pelecehan seksual. Isinya mengajak agar korban speak up atau bersuara. Dari sinilah ibu korban merasa ada keanehan. Dia berusaha menghubungi anaknya. Namun, korban tak kunjung menjawab pertanyaan sang ibunda. “Ditelepon tidak diangkat. Cuma bilang, Ma, tolongin aku. Lalu, saya paksa untuk ngomong. Akhirnya bercerita,” ungkap ibu korban, kemarin (7/4).

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Unggahan di Instagram itu menjadi pembuka tabir pelecehan seksual yang dilakukan oleh sang paman. Korban membuka suara. Dia menulis tentang aksi keji pelaku, yang juga merupakan dosen di salah satu fakultas Universitas Jember (Unej) itu. Terkuaknya kasus ini menambah daftar panjang pelecehan terhadap anak yang dilakukan oleh orang dekat.

Ketika peristiwa itu terjadi, korban dan pelaku tinggal satu rumah. Korban dilecehkan dua kali. Pelaku melancarkan aksinya itu dengan berpura-pura memeriksa dada korban. Pelaku beralasan, ada potensi penyakit kanker payudara pada kemenakannya. Rupanya, dalih itu hanyalah modus agar pelaku leluasa melecehkan korban. Akhirnya, korban bersuara lewat media sosial, meski tak menyebut siapa korban dan pelakunya.

Sang ibu, yang tengah bekerja di Jakarta, membaca unggahan putrinya itu. Dia pun mencoba mengonfirmasi, siapa yang menjadi korban dan pelakunya. Setelah mendapat kepastian, sang ibu terkejut. Hingga kemudian, dia meminta izin pulang untuk melaporkan peristiwa itu ke Polres Jember.

Informasi yang diterima Jawa Pos Radar Jember, remaja berusia 16 tahun itu telah menjadi korban pelecehan selama dua bulan terakhir ini. Aksi itu dilakukan dua kali. Pertama pada akhir Februari, dan kedua terjadi pada 26 Maret lalu.

Dari keterangan ibu korban, mulanya pelaku memberikan informasi mengenai penyakit kanker payudara dengan menyodorkan jurnal ilmiah yang sebagian isinya berbahasa Inggris. Dari situ, pelaku menuding bahwa korban terindikasi terserang penyakit mematikan itu. Pelaku menyebut, ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa korban sedang terjangkit penyakit. Kesempatan ini digunakan oleh pelaku untuk mengajak korban masuk ke kamar. Di situlah kejadian keji itu berlangsung.

Rupanya, pelaku mengulangi perbutannya. Untuk kejadian yang kedua, korban berinisiatif merekam via suara. Kejadiannya berlangsung pada pukul 10 siang. Durasi lamanya sekitar 5 menit. Tak lama kemudian, istri pelaku datang. Namun, dia tak sampai memergoki perbuatan suaminya tersebut.

Selang beberapa jam, korban menulis status di Instagram. Tulisan itu menerangkan tentang pelecehan seksual. Isinya mengajak agar korban speak up atau bersuara. Dari sinilah ibu korban merasa ada keanehan. Dia berusaha menghubungi anaknya. Namun, korban tak kunjung menjawab pertanyaan sang ibunda. “Ditelepon tidak diangkat. Cuma bilang, Ma, tolongin aku. Lalu, saya paksa untuk ngomong. Akhirnya bercerita,” ungkap ibu korban, kemarin (7/4).

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/