alexametrics
23.9 C
Jember
Sunday, 29 May 2022

Bijak Bermedia, Akurat Informasinya

Kabar Medsos Tak Bisa Ditelan Mentah-Mentah

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Seiring dengan perkembangan zaman, industri media terus mengalami pertumbuhan pesat. Berbagai media multiplatform juga menjamur, menyuguhkan beranekaragam informasi kepada publik. Mulai dari media cetak, radio, televisi, hingga daring. Semua memiliki peranan dalam menyajikan informasi dengan cara-cara yang khas sesuai pakem jurnalisme.

Pergulatan media hari ini juga menjadi kran informasi yang terbuka luas untuk masyarakat. Mereka bisa mengaksesnya di mana saja dan kapan saja. Namun, masyarakat juga perlu bijak bermedia. Perbedaan informasi yang benar dan bisa dipertanggungjawabkan dengan informasi gratisan bercampur hoax sangatlah tipis.

“Media hari ini mengalami kemajuan yang luar biasa. Kejadian sekarang, hitungan menit sudah tayang. Beda dengan dulu,” kata Shodiq Syarif, mantan wartawan Jawa Pos era 1983–2008. Perbedaan mendasar media dulu dengan sekarang itu diakuinya tentu dalam hal kecepatan. Namun, hal itu juga menjadi tantangan media hari ini dalam hal akurasi, ketepatan, dan keberimbangan.

Mobile_AP_Rectangle 2

Shodiq menilai, spirit yang dibawa awak media tetaplah sama. Buktinya, sudah banyak hari ini media-media yang bertransformasi menjadi media multiplatform, mengoptimalkan segala kecanggihan teknologi untuk menyajikan beragam informasi kepada publik atau pembaca. “Tantangan dan peluang awak media hari ini cukup besar. Mereka dituntut cak-cek dengan kecanggihan teknologi. Dan itu pertanggungjawabannya juga besar,” imbuh pria yang kini menjadi Wakil Rektor III Universitas Islam Jember ini.

Sebagai mantan awak media yang puluhan tahun berkecimpung di media, Shodiq Syarif juga menilai perlunya masyarakat selaku pembaca bijak dalam mengonsumsi informasi dari media. Sebab, harus diakui, media merupakan salah satu pilar penting dalam mengawal demokrasi di negeri ini. “Kebutuhan masyarakat itu nyari info cepat, namun bukan lantas mengesampingkan soal akurasi. Jadi, di sinilah tugas awak media mencerdaskan pembaca agar cerdas bermedia,” imbuh pria 63 tahun ini.

Tugas Mengawal Demokrasi

Harus diakui, perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat setidaknya telah berlangsung sejak satu dasawarsa terakhir. Dampak dan dinamiknya sangat terasa hingga kini. Tidak hanya dalam soal konvergensi media, namun juga dalam hal praktik jurnalisme bagi jurnalis atau wartawan. Sekaligus bagi konsumen media atau pembaca karya jurnalistik.

Mahbub Djunaidy, mantan jurnalis Tempo era 2001–2015, mengakui demikian. Menurutnya, institusi media atau perusahaan pers hari ini menghadapi tantangan baru seiring muncul dan berkembangnya teknologi digital, khususnya di berbagai platform media sosial. Kemunculan itu juga sekaligus menandai bahwa awak media mesti pandai-pandai beradaptasi dalam menyajikan informasi untuk pembaca. “Jurnalis atau wartawan juga dihadapkan pada tantangan dan tren baru untuk membikin karya jurnalistik yang disukai konsumen media yang memiliki berbagai pola pikir dan gaya yang beragam,” kata Mahbub.

Oleh karenanya, lanjut Mahbub, tantangan utama bagi jurnalis atau wartawan saat ini adalah penguatan wawasan dan keahlian. Khususnya tentang prinsip-prinsip dan etika jurnalisme yang berlaku secara universal. Hal itu dimaksudkan untuk menghadapi banjirnya bermacam informasi di berbagai platform media sosial. “Dengan penguatan wawasan dan skill jurnalisme itu, jurnalis sekaligus bertugas mendidik pembaca atau konsumen media lewat karya jurnalistik berkualitas (data akurat, penulisan yang baik, dan menyuarakan kepentingan publik, Red),” kata Mahbub.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Seiring dengan perkembangan zaman, industri media terus mengalami pertumbuhan pesat. Berbagai media multiplatform juga menjamur, menyuguhkan beranekaragam informasi kepada publik. Mulai dari media cetak, radio, televisi, hingga daring. Semua memiliki peranan dalam menyajikan informasi dengan cara-cara yang khas sesuai pakem jurnalisme.

Pergulatan media hari ini juga menjadi kran informasi yang terbuka luas untuk masyarakat. Mereka bisa mengaksesnya di mana saja dan kapan saja. Namun, masyarakat juga perlu bijak bermedia. Perbedaan informasi yang benar dan bisa dipertanggungjawabkan dengan informasi gratisan bercampur hoax sangatlah tipis.

“Media hari ini mengalami kemajuan yang luar biasa. Kejadian sekarang, hitungan menit sudah tayang. Beda dengan dulu,” kata Shodiq Syarif, mantan wartawan Jawa Pos era 1983–2008. Perbedaan mendasar media dulu dengan sekarang itu diakuinya tentu dalam hal kecepatan. Namun, hal itu juga menjadi tantangan media hari ini dalam hal akurasi, ketepatan, dan keberimbangan.

Shodiq menilai, spirit yang dibawa awak media tetaplah sama. Buktinya, sudah banyak hari ini media-media yang bertransformasi menjadi media multiplatform, mengoptimalkan segala kecanggihan teknologi untuk menyajikan beragam informasi kepada publik atau pembaca. “Tantangan dan peluang awak media hari ini cukup besar. Mereka dituntut cak-cek dengan kecanggihan teknologi. Dan itu pertanggungjawabannya juga besar,” imbuh pria yang kini menjadi Wakil Rektor III Universitas Islam Jember ini.

Sebagai mantan awak media yang puluhan tahun berkecimpung di media, Shodiq Syarif juga menilai perlunya masyarakat selaku pembaca bijak dalam mengonsumsi informasi dari media. Sebab, harus diakui, media merupakan salah satu pilar penting dalam mengawal demokrasi di negeri ini. “Kebutuhan masyarakat itu nyari info cepat, namun bukan lantas mengesampingkan soal akurasi. Jadi, di sinilah tugas awak media mencerdaskan pembaca agar cerdas bermedia,” imbuh pria 63 tahun ini.

Tugas Mengawal Demokrasi

Harus diakui, perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat setidaknya telah berlangsung sejak satu dasawarsa terakhir. Dampak dan dinamiknya sangat terasa hingga kini. Tidak hanya dalam soal konvergensi media, namun juga dalam hal praktik jurnalisme bagi jurnalis atau wartawan. Sekaligus bagi konsumen media atau pembaca karya jurnalistik.

Mahbub Djunaidy, mantan jurnalis Tempo era 2001–2015, mengakui demikian. Menurutnya, institusi media atau perusahaan pers hari ini menghadapi tantangan baru seiring muncul dan berkembangnya teknologi digital, khususnya di berbagai platform media sosial. Kemunculan itu juga sekaligus menandai bahwa awak media mesti pandai-pandai beradaptasi dalam menyajikan informasi untuk pembaca. “Jurnalis atau wartawan juga dihadapkan pada tantangan dan tren baru untuk membikin karya jurnalistik yang disukai konsumen media yang memiliki berbagai pola pikir dan gaya yang beragam,” kata Mahbub.

Oleh karenanya, lanjut Mahbub, tantangan utama bagi jurnalis atau wartawan saat ini adalah penguatan wawasan dan keahlian. Khususnya tentang prinsip-prinsip dan etika jurnalisme yang berlaku secara universal. Hal itu dimaksudkan untuk menghadapi banjirnya bermacam informasi di berbagai platform media sosial. “Dengan penguatan wawasan dan skill jurnalisme itu, jurnalis sekaligus bertugas mendidik pembaca atau konsumen media lewat karya jurnalistik berkualitas (data akurat, penulisan yang baik, dan menyuarakan kepentingan publik, Red),” kata Mahbub.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Seiring dengan perkembangan zaman, industri media terus mengalami pertumbuhan pesat. Berbagai media multiplatform juga menjamur, menyuguhkan beranekaragam informasi kepada publik. Mulai dari media cetak, radio, televisi, hingga daring. Semua memiliki peranan dalam menyajikan informasi dengan cara-cara yang khas sesuai pakem jurnalisme.

Pergulatan media hari ini juga menjadi kran informasi yang terbuka luas untuk masyarakat. Mereka bisa mengaksesnya di mana saja dan kapan saja. Namun, masyarakat juga perlu bijak bermedia. Perbedaan informasi yang benar dan bisa dipertanggungjawabkan dengan informasi gratisan bercampur hoax sangatlah tipis.

“Media hari ini mengalami kemajuan yang luar biasa. Kejadian sekarang, hitungan menit sudah tayang. Beda dengan dulu,” kata Shodiq Syarif, mantan wartawan Jawa Pos era 1983–2008. Perbedaan mendasar media dulu dengan sekarang itu diakuinya tentu dalam hal kecepatan. Namun, hal itu juga menjadi tantangan media hari ini dalam hal akurasi, ketepatan, dan keberimbangan.

Shodiq menilai, spirit yang dibawa awak media tetaplah sama. Buktinya, sudah banyak hari ini media-media yang bertransformasi menjadi media multiplatform, mengoptimalkan segala kecanggihan teknologi untuk menyajikan beragam informasi kepada publik atau pembaca. “Tantangan dan peluang awak media hari ini cukup besar. Mereka dituntut cak-cek dengan kecanggihan teknologi. Dan itu pertanggungjawabannya juga besar,” imbuh pria yang kini menjadi Wakil Rektor III Universitas Islam Jember ini.

Sebagai mantan awak media yang puluhan tahun berkecimpung di media, Shodiq Syarif juga menilai perlunya masyarakat selaku pembaca bijak dalam mengonsumsi informasi dari media. Sebab, harus diakui, media merupakan salah satu pilar penting dalam mengawal demokrasi di negeri ini. “Kebutuhan masyarakat itu nyari info cepat, namun bukan lantas mengesampingkan soal akurasi. Jadi, di sinilah tugas awak media mencerdaskan pembaca agar cerdas bermedia,” imbuh pria 63 tahun ini.

Tugas Mengawal Demokrasi

Harus diakui, perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat setidaknya telah berlangsung sejak satu dasawarsa terakhir. Dampak dan dinamiknya sangat terasa hingga kini. Tidak hanya dalam soal konvergensi media, namun juga dalam hal praktik jurnalisme bagi jurnalis atau wartawan. Sekaligus bagi konsumen media atau pembaca karya jurnalistik.

Mahbub Djunaidy, mantan jurnalis Tempo era 2001–2015, mengakui demikian. Menurutnya, institusi media atau perusahaan pers hari ini menghadapi tantangan baru seiring muncul dan berkembangnya teknologi digital, khususnya di berbagai platform media sosial. Kemunculan itu juga sekaligus menandai bahwa awak media mesti pandai-pandai beradaptasi dalam menyajikan informasi untuk pembaca. “Jurnalis atau wartawan juga dihadapkan pada tantangan dan tren baru untuk membikin karya jurnalistik yang disukai konsumen media yang memiliki berbagai pola pikir dan gaya yang beragam,” kata Mahbub.

Oleh karenanya, lanjut Mahbub, tantangan utama bagi jurnalis atau wartawan saat ini adalah penguatan wawasan dan keahlian. Khususnya tentang prinsip-prinsip dan etika jurnalisme yang berlaku secara universal. Hal itu dimaksudkan untuk menghadapi banjirnya bermacam informasi di berbagai platform media sosial. “Dengan penguatan wawasan dan skill jurnalisme itu, jurnalis sekaligus bertugas mendidik pembaca atau konsumen media lewat karya jurnalistik berkualitas (data akurat, penulisan yang baik, dan menyuarakan kepentingan publik, Red),” kata Mahbub.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/