alexametrics
23.5 C
Jember
Sunday, 26 June 2022

DAS Bedadung Sudah Kritis

Mobile_AP_Rectangle 1

Terpisah, pakar perencanaan wilayah dan kota Universitas Jember, Dewi Junita Koesoemawati mengungkapkan, penataan kota yang ideal seharusnya mengikuti konsep pembangunan kota berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Salah satu implementasinya dengan menerapkan konsep river front. Mengingat, Kota Jember dilewati dua sungai, yaitu Bedadung dan Jompo.

Menurutnya, konsep river front di perkotaan merupakan solusi mengelola bantaran atau sempadan sungai. “Keberadaan sempadan sungai di perkotaan sebagai RTH (ruang terbuka hijau, Red) dapat berfungsi banyak. Di antaranya fungsi hidrologi, ekologi, kesehatan, estetika, dan rekreasi,” papar dosen yang mengampu mata kuliah perancangan kota tersebut.

Menurut ilmu hidrologi secara umum, Dewi menjelaskan, banjir itu mempunyai periode perulangan berdasarkan debit banjir. Untuk meminimalkan adanya kerugian harta benda dan jiwa, maka perlu adanya penerapan early warning system (EWS), khususnya terkait dengan banjir. Misalnya sirene atau yang lainnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Alternatif lain, tentunya membutuhkan perencanaan yang ekstra fokus dari Pemkab Jember. Yakni dengan melakukan penataan ulang, khususnya permukiman di daerah sempadan sungai. Sempadan Sungai Bedadung dikembalikan fungsinya sebagai RTH. “Dan dimanfaatkan untuk jogging track, misalnya, yang sifatnya tidak permanen,” imbuh Dewi.

Solusi lainnya adalah penataan ulang yang dilakukan dengan konsolidasi lahan. Yaitu kebijakan mengenai penataan kembali penguasaan dan penggunaan tanah untuk meningkatkan kualitas lingkungan dan pemeliharaan sumber daya alam dengan melibatkan partisipasi masyarakat. Sehingga menjadi teratur, lengkap dengan prasarana, dan kemudahan yang diperlukan.

Namun, bila permukiman tetap berada di sempadan sungai, risiko yang harus ditanggung oleh masyarakat yang bermukim di sana adalah akan mengalami bencana banjir berdasarkan periode perulangan banjir. “Untuk meminimalkan kerugian harta benda dan jiwa, maka EWS atau sistem peringatan dini perlu menjadi perhatian,” pungkas Dewi.

- Advertisement -

Terpisah, pakar perencanaan wilayah dan kota Universitas Jember, Dewi Junita Koesoemawati mengungkapkan, penataan kota yang ideal seharusnya mengikuti konsep pembangunan kota berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Salah satu implementasinya dengan menerapkan konsep river front. Mengingat, Kota Jember dilewati dua sungai, yaitu Bedadung dan Jompo.

Menurutnya, konsep river front di perkotaan merupakan solusi mengelola bantaran atau sempadan sungai. “Keberadaan sempadan sungai di perkotaan sebagai RTH (ruang terbuka hijau, Red) dapat berfungsi banyak. Di antaranya fungsi hidrologi, ekologi, kesehatan, estetika, dan rekreasi,” papar dosen yang mengampu mata kuliah perancangan kota tersebut.

Menurut ilmu hidrologi secara umum, Dewi menjelaskan, banjir itu mempunyai periode perulangan berdasarkan debit banjir. Untuk meminimalkan adanya kerugian harta benda dan jiwa, maka perlu adanya penerapan early warning system (EWS), khususnya terkait dengan banjir. Misalnya sirene atau yang lainnya.

Alternatif lain, tentunya membutuhkan perencanaan yang ekstra fokus dari Pemkab Jember. Yakni dengan melakukan penataan ulang, khususnya permukiman di daerah sempadan sungai. Sempadan Sungai Bedadung dikembalikan fungsinya sebagai RTH. “Dan dimanfaatkan untuk jogging track, misalnya, yang sifatnya tidak permanen,” imbuh Dewi.

Solusi lainnya adalah penataan ulang yang dilakukan dengan konsolidasi lahan. Yaitu kebijakan mengenai penataan kembali penguasaan dan penggunaan tanah untuk meningkatkan kualitas lingkungan dan pemeliharaan sumber daya alam dengan melibatkan partisipasi masyarakat. Sehingga menjadi teratur, lengkap dengan prasarana, dan kemudahan yang diperlukan.

Namun, bila permukiman tetap berada di sempadan sungai, risiko yang harus ditanggung oleh masyarakat yang bermukim di sana adalah akan mengalami bencana banjir berdasarkan periode perulangan banjir. “Untuk meminimalkan kerugian harta benda dan jiwa, maka EWS atau sistem peringatan dini perlu menjadi perhatian,” pungkas Dewi.

Terpisah, pakar perencanaan wilayah dan kota Universitas Jember, Dewi Junita Koesoemawati mengungkapkan, penataan kota yang ideal seharusnya mengikuti konsep pembangunan kota berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Salah satu implementasinya dengan menerapkan konsep river front. Mengingat, Kota Jember dilewati dua sungai, yaitu Bedadung dan Jompo.

Menurutnya, konsep river front di perkotaan merupakan solusi mengelola bantaran atau sempadan sungai. “Keberadaan sempadan sungai di perkotaan sebagai RTH (ruang terbuka hijau, Red) dapat berfungsi banyak. Di antaranya fungsi hidrologi, ekologi, kesehatan, estetika, dan rekreasi,” papar dosen yang mengampu mata kuliah perancangan kota tersebut.

Menurut ilmu hidrologi secara umum, Dewi menjelaskan, banjir itu mempunyai periode perulangan berdasarkan debit banjir. Untuk meminimalkan adanya kerugian harta benda dan jiwa, maka perlu adanya penerapan early warning system (EWS), khususnya terkait dengan banjir. Misalnya sirene atau yang lainnya.

Alternatif lain, tentunya membutuhkan perencanaan yang ekstra fokus dari Pemkab Jember. Yakni dengan melakukan penataan ulang, khususnya permukiman di daerah sempadan sungai. Sempadan Sungai Bedadung dikembalikan fungsinya sebagai RTH. “Dan dimanfaatkan untuk jogging track, misalnya, yang sifatnya tidak permanen,” imbuh Dewi.

Solusi lainnya adalah penataan ulang yang dilakukan dengan konsolidasi lahan. Yaitu kebijakan mengenai penataan kembali penguasaan dan penggunaan tanah untuk meningkatkan kualitas lingkungan dan pemeliharaan sumber daya alam dengan melibatkan partisipasi masyarakat. Sehingga menjadi teratur, lengkap dengan prasarana, dan kemudahan yang diperlukan.

Namun, bila permukiman tetap berada di sempadan sungai, risiko yang harus ditanggung oleh masyarakat yang bermukim di sana adalah akan mengalami bencana banjir berdasarkan periode perulangan banjir. “Untuk meminimalkan kerugian harta benda dan jiwa, maka EWS atau sistem peringatan dini perlu menjadi perhatian,” pungkas Dewi.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/