alexametrics
24.8 C
Jember
Sunday, 22 May 2022

DAS Bedadung Sudah Kritis

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Banjir yang terjadi, Jumat dua pekan lalu, disebut menjadi banjir terparah sepanjang Bedadung meluap. Pakar Hidrologi Universitas Muhammadiyah Jember, Nanang Saiful Rizal mengatakan, kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS) Bedadung sudah kritis. Sebab, DAS sudah tidak bisa mengontrol sirkulasi air. “Saya melihat saat musim kemarau air di sungai habis sama sekali. Itu menunjukan, DAS sudah tidak bisa menangkap air lagi,” ungkap Nanang, kemarin (7/1).

Sebenarnya, lanjut Nanang, ketika air meresap di musim hujan, maka akan tersimpan dalam tanah. Secara hidrologi, proses tersebut dinamakan infiltrasi. Air masuk pada lapisan tanah paling bawah yang kedap air. Sehingga, idealnya, pada musim kemarau sungai tidak mengalami kekeringan total. “Jadi, musim hujan tidak banjir, musim kemarau tidak kering. Air tetap ada. Muka air tetap stabil. Kontrolnya di situ,” tambah Dekan Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Jember tersebut.

Kondisi krisis pada DAS juga dapat dilihat melalui kualitas air Bedadung yang sangat keruh. Kondisi ini disebabkan adanya erupsi, kemudian terjadi longsor, lalu terbawa ke sungai. Anang melihat, warna air Bedadung sudah cokelat. Itu menunjukan banyak terjadi erosi di daerah atas. “Top soil-nya (tanah di bagian lapisan paling atas, Red) sudah lemah. Seharusnya, di gunung yang kemiringan tingginya mencapai 5 persen ini harus diarahkan untuk tanaman keras. Namun, kenyataannya tidak,” paparnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Nanang pesimistis ada alternatif jangka pendek yang dapat dilakukan. Sehingga, kata dia, satu-satunya jalan yang dapat ditempuh adalah mitigasi bencana. Mengurangi dampak supaya efek bencana tidak terlalu besar. Selain itu, gencar menyosialisasikan agar masyarakat tidak bermukim di bantaran sungai.

Sedangkan solusi jangka panjang, alternatif yang dapat dilakukan yakni dengan melakukan konservasi, serta penataan ulang berdasarkan kemiringan lereng. Jika hal tersebut tidak kunjung direalisasikan, maka bukan tidak mungkin, satu tahun yang akan datang banjir serupa, bahkan lebih besar, bisa kembali terjadi. “Pemerintah sudah punya aturan lahan. Lah, kita harus menghadirkan itu di lapangan,” kata Nanang.

Di sisi lain, pemerintah kabupaten juga harus memiliki rencana tata ruang wilayah yang bersinergi dengan kabupaten lain. Salah satunya Bondowoso. Sebab, aliran sungai Bedadung juga masuk pada wilayah Bondosowo. “Satu sungai satu manajemen, satu daerah. Pemerintah daerah harus ada koordinasi mengenai tata ruang wilayahnya,” pungkas Nanang.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Banjir yang terjadi, Jumat dua pekan lalu, disebut menjadi banjir terparah sepanjang Bedadung meluap. Pakar Hidrologi Universitas Muhammadiyah Jember, Nanang Saiful Rizal mengatakan, kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS) Bedadung sudah kritis. Sebab, DAS sudah tidak bisa mengontrol sirkulasi air. “Saya melihat saat musim kemarau air di sungai habis sama sekali. Itu menunjukan, DAS sudah tidak bisa menangkap air lagi,” ungkap Nanang, kemarin (7/1).

Sebenarnya, lanjut Nanang, ketika air meresap di musim hujan, maka akan tersimpan dalam tanah. Secara hidrologi, proses tersebut dinamakan infiltrasi. Air masuk pada lapisan tanah paling bawah yang kedap air. Sehingga, idealnya, pada musim kemarau sungai tidak mengalami kekeringan total. “Jadi, musim hujan tidak banjir, musim kemarau tidak kering. Air tetap ada. Muka air tetap stabil. Kontrolnya di situ,” tambah Dekan Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Jember tersebut.

Kondisi krisis pada DAS juga dapat dilihat melalui kualitas air Bedadung yang sangat keruh. Kondisi ini disebabkan adanya erupsi, kemudian terjadi longsor, lalu terbawa ke sungai. Anang melihat, warna air Bedadung sudah cokelat. Itu menunjukan banyak terjadi erosi di daerah atas. “Top soil-nya (tanah di bagian lapisan paling atas, Red) sudah lemah. Seharusnya, di gunung yang kemiringan tingginya mencapai 5 persen ini harus diarahkan untuk tanaman keras. Namun, kenyataannya tidak,” paparnya.

Nanang pesimistis ada alternatif jangka pendek yang dapat dilakukan. Sehingga, kata dia, satu-satunya jalan yang dapat ditempuh adalah mitigasi bencana. Mengurangi dampak supaya efek bencana tidak terlalu besar. Selain itu, gencar menyosialisasikan agar masyarakat tidak bermukim di bantaran sungai.

Sedangkan solusi jangka panjang, alternatif yang dapat dilakukan yakni dengan melakukan konservasi, serta penataan ulang berdasarkan kemiringan lereng. Jika hal tersebut tidak kunjung direalisasikan, maka bukan tidak mungkin, satu tahun yang akan datang banjir serupa, bahkan lebih besar, bisa kembali terjadi. “Pemerintah sudah punya aturan lahan. Lah, kita harus menghadirkan itu di lapangan,” kata Nanang.

Di sisi lain, pemerintah kabupaten juga harus memiliki rencana tata ruang wilayah yang bersinergi dengan kabupaten lain. Salah satunya Bondowoso. Sebab, aliran sungai Bedadung juga masuk pada wilayah Bondosowo. “Satu sungai satu manajemen, satu daerah. Pemerintah daerah harus ada koordinasi mengenai tata ruang wilayahnya,” pungkas Nanang.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Banjir yang terjadi, Jumat dua pekan lalu, disebut menjadi banjir terparah sepanjang Bedadung meluap. Pakar Hidrologi Universitas Muhammadiyah Jember, Nanang Saiful Rizal mengatakan, kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS) Bedadung sudah kritis. Sebab, DAS sudah tidak bisa mengontrol sirkulasi air. “Saya melihat saat musim kemarau air di sungai habis sama sekali. Itu menunjukan, DAS sudah tidak bisa menangkap air lagi,” ungkap Nanang, kemarin (7/1).

Sebenarnya, lanjut Nanang, ketika air meresap di musim hujan, maka akan tersimpan dalam tanah. Secara hidrologi, proses tersebut dinamakan infiltrasi. Air masuk pada lapisan tanah paling bawah yang kedap air. Sehingga, idealnya, pada musim kemarau sungai tidak mengalami kekeringan total. “Jadi, musim hujan tidak banjir, musim kemarau tidak kering. Air tetap ada. Muka air tetap stabil. Kontrolnya di situ,” tambah Dekan Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Jember tersebut.

Kondisi krisis pada DAS juga dapat dilihat melalui kualitas air Bedadung yang sangat keruh. Kondisi ini disebabkan adanya erupsi, kemudian terjadi longsor, lalu terbawa ke sungai. Anang melihat, warna air Bedadung sudah cokelat. Itu menunjukan banyak terjadi erosi di daerah atas. “Top soil-nya (tanah di bagian lapisan paling atas, Red) sudah lemah. Seharusnya, di gunung yang kemiringan tingginya mencapai 5 persen ini harus diarahkan untuk tanaman keras. Namun, kenyataannya tidak,” paparnya.

Nanang pesimistis ada alternatif jangka pendek yang dapat dilakukan. Sehingga, kata dia, satu-satunya jalan yang dapat ditempuh adalah mitigasi bencana. Mengurangi dampak supaya efek bencana tidak terlalu besar. Selain itu, gencar menyosialisasikan agar masyarakat tidak bermukim di bantaran sungai.

Sedangkan solusi jangka panjang, alternatif yang dapat dilakukan yakni dengan melakukan konservasi, serta penataan ulang berdasarkan kemiringan lereng. Jika hal tersebut tidak kunjung direalisasikan, maka bukan tidak mungkin, satu tahun yang akan datang banjir serupa, bahkan lebih besar, bisa kembali terjadi. “Pemerintah sudah punya aturan lahan. Lah, kita harus menghadirkan itu di lapangan,” kata Nanang.

Di sisi lain, pemerintah kabupaten juga harus memiliki rencana tata ruang wilayah yang bersinergi dengan kabupaten lain. Salah satunya Bondowoso. Sebab, aliran sungai Bedadung juga masuk pada wilayah Bondosowo. “Satu sungai satu manajemen, satu daerah. Pemerintah daerah harus ada koordinasi mengenai tata ruang wilayahnya,” pungkas Nanang.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/